Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Ada Yang Aneh


__ADS_3

Ken membawakan satu mangkuk bubur Ayam yang baru matang itu sambil bersiul-siul.


Keyla yang sedang duduk santai di sofa sambil berselancar, nampak tersenyum ke arah Ken.


"Sudah selesai Ken?" tanya Keyla.


"Sudah dong Mbak, cepat kan aku masaknya?" sahut Ken.


"Mana sini, berikan buburnya padaku, aku sudah lapar!" ujar Keyla sambil menengadahkan tangannya.


Ken kemudian langsung menyodorkan mangkuk bubur itu ke arah Keyla.


Keyla mulai terlihatenyantap bubur ayam itu, namun tiba-tiba Keyla menghentikan makannya.


"Ini beneran kamu yang bikin Ken??" tanya Keyla.


"Ya iya lah, dengan sepenuh hati, jiwa dan raga, demi istri tercinta!" sahut Ken bangga.


"Bohong!" cetus Keyla.


"Lho kok bohong??"


"Ini rasa bubur ayam buatan Bi Titi! Aku kenal rasanya!" seru Keyla.


Ken tiba-tiba terdiam, wajahnya pucat, aksinya ketahuan dalam sekejap.


"Ehm, anu Mbak, tadi itu ... maksudku, aku ... aku!" Ken jadi mati kutu.


"Dasar penipu!! Mau coba-coba bohongin aku?? Nih makan sendiri buburnya!" cetus Keyla sambil menaruh mangkuk nya di tangan Ken, kemudian dia pergi keluar dari kamarnya.


"Mbak! Tunggu Mbak!" panggil Ken.


Dengan cepat Ken langsung menyusul Keyla keluar dari kamarnya.


Keyla terlihat marah dan langsung berjalan ke arah ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu itu.


Ken lalu mendekatinya dan langsung duduk di sebelahnya.


"Mbak, aku minta maaf ya, please!" ucap Ken sambil berusaha memegang tangan Keyla.


"Sudah sana jauh-jauh Ken, aku muak melihat tampangmu!" cetus Keyla.


"Mbak, aku akan buat bubur buat Mbak Keyla, sekarang, tapi jangan marah please!" mohon Ken.


"Sorry Ken! Aku sudah tidak berselera makan lagi, sekarang pergilah, tinggalkan aku sendiri!"


Tiba-tiba Pak Dirja datang mendekati Mereka, karena mendengar ada suara keributan.


"Ada apa ini? Pagi-pagi seperti ada konser di rumah ini!" tanya Pak Dirja.


Dinda dan Ken saling diam, mereka tidak mungkin mengatakan pada Pak Dirja kalau mereka ribut hanya gara-gara semangkok bubur Ayam.

__ADS_1


"Kalian itu sudah dewasa dan sebentar lagi akan jadi orang tua, jangan hanya persoalan sepele membuat kalian bertengkar, ingat itu!" lanjut Pak Dirja yang kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Tuh Mbak, dengar apa kata Ayah!" cetus Ken.


"Ken, kita makan bubur Ayam di luar saja yuk, ayo antarkan aku!" kata Keyla tiba-tiba.


"Oke, begitu dong, mau makan di mana Mbak?" tanya Ken senang.


"Di dekat rumah sakit, yang rasanya enak itu, ayo Ken jalan sekarang, aku lagi pengen!" rajuk Keyla.


"Siap Mbak, tapi aku ganti baju dulu ya, masa keluar cuma pakai kaos dan celana pendek!"


"Sudah jangan ganti baju, kelamaan!" cetus Keyla.


"Hmm, okelah ayo jalan Mbak!" Ken lalu segera mengambil kunci mobilnya.


"Tapi Ken, aku maunya naik motor, bukan naik mobil!"


"Apa? Naik motor??"


"Oya Ken, ayo!" ajak Keyla.


"Siaaap!"


Ken lalu mengambil kunci motor dan menyambar jaketnya kemudian dia segera naik ke atas motor yang terparkir di garasi rumah itu, sementara Keyla mengikutinya dari belakang.


Mereka kemudian mulai keluar dari rumah mereka dengan berboncengan naik motor sambil tertawa riang.


*****


Sementara itu di tempat kediamannya, Dio dan Dinda sedang terlihat sarapan pagi di sebuah meja makan di ruang makan rumahnya itu, bersama dengan Chika dan Bu Lilis.


Hari ini setelah mengantar Chika ke sekolah, dia langsung berangkat ke kantornya karena sudah berapa lama ini dia tidak muncul di kantornya itu.


"Aku jalan ya sayang, kalau butuh apapun, jangan sungkan hubungi aku, jaga dirimu, demi aku!" ucap Dio sambil mengecup kening Dinda, saat dia akan berangkat.


"Iya Mas, hati-hati ya!" sahut Dinda.


"Dah Mama!" seru Chika dari dalam mobil.


Dinda Melambaikan tangannya pada saat mobil dia sudah bergerak keluar dari gerbang rumahnya itu.


Setelah itu dia kembali masuk kedalam rumahnya Mbak Yuyun tampak sedang sibuk mencuci piring di dapur, sementara Bu Lilis membereskan meja makan. Perlahan Dinda mendekati ibunya yang masih mengelap meja makan.


"Bu ..."


"Ya Din?"


"Semalam itu, apakah Ibu mendengar suara benda pecah di sini?" tanya Dinda.


"Benda pecah? Ibu tidak mendengarnya Nak, semalam itu Ibu tidur sangat nyenyak sekali!" jawab Bu Lilis.

__ADS_1


"Oh ..."


"Memangnya ada apa ya Nak? Memangnya kalian mendengar apa?" tanya Bu Lilis bingung.


"Sudahlah Bu, mungkin aku hanya mimpi!"


"Mimpi?"


"Aku mau jalan-jalan ke taman depan Bu, sekalian menghirup udara pagi!" kata Dinda yang langsung keluar dari rumah itu lewat pintu samping.


Dinda berjalan menyusuri taman di sekitar rumah Dio yang cukup luas itu. Juga kolam renang yang terbentang di samping rumahnya, yang dihiasi oleh taman yang indah disertai dengan air mancur dengan suaranya yang gemericik.


Kemudian Dida duduk di bangku yang ada di sisi kolam renang itu sambil menikmati suasana taman rumah yang sangat Asri sekali dipandang mata.


Di dinding pembatas rumah Dio ditumbuhi oleh daun-daun yang menjalar yang kelihatannya begitu indah, sehingga semua tembok itu berwarna hijau karena dipenuhi oleh daun daun dan tanaman menjalar.


Dinda kemudian tertarik untuk berjalan menyusuri nya. Matanya tertuju pada di tembok ujung yang berbentuk sudut dengan warna daun yang berbeda dari daun-daun yang ada di tembok itu.


Dinda kemudian mulai mendekati tembok itu, Dia sedikit terkejut pada saat dia memegang daun itu ternyata itu bukan tanaman menjalar, tetapi daun palsu, daun yang dibuat dari plastik menyerupai daun-daun asli yang yang memenuhi tembok itu.


Karena penasaran Dinda lalu meraba tembok itu dan menyingkap sedikit daun palsunya itu. Dan dia sedikit terkejut saat melihat seperti ada sebuah pintu di sudut tembok itu pintu yang tersembunyi dan tertutup oleh daun daun menjalar dan daun-daun yang palsu itu.


"Aneh, aku baru tau kalau di rumah ini ada pintu lain selain pintu gerbang utama yang di jaga oleh Bang Jarwo!" gumam Dinda.


"Bu Dinda!" panggil Mbak Yuyun dari arah pintu dapur.


Dinda menoleh lalu segera berjalan menghampiri Mbak Yuyun.


"Jangan jalan-jalan sendirian Bu, suka ada binatang kayak serangga gitu!" kata Mbak Yuyun.


"Iya Mbak, habis bosan di rumah terus!" sahut Dinda.


"Itu rumputnya tinggi, biasanya si Ujang yang suka ngurusin kebun kalau sedang tidak nyetir, tapi belakangan dia jadi malas!" lanjut Mbak Yuyun.


"Mbak Yuyun..."


"Iya Bu?"


"Sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya Dinda tiba-tiba.


"Lumayan Bu, dari sejak Mamanya Chika meninggal!" jawab Mbak Yuyun.


"Mbak, selain gerbang depan, apa ada jalan lain keluar rumah ini?" tanya Dinda lagi.


"Tidak ada Bu, cuma pintu gerbang utama aksesnya, makanya tembok rumah ini sangat tinggi kan, kata Pak Dio biar aman!" jawab Mbak Yuyun.


Dinda sedikit tertegun mendengar jawaban dari Mbak Yuyun.


Bersambung ....


*****

__ADS_1


__ADS_2