Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Membongkar Pintu


__ADS_3

Hari ini Dio sengaja tidak ke kantor atau melakukan aktivitas di luar rumahnya, dia memanggil beberapa tukang bangunan untuk membongkar soal Pintu Rahasia yang ada di pojok tembok rumahnya itu.


Pintu yang ada ada dibalik sebuah, tanaman merambat yang bercampur dengan tanaman merambat palsu, terbuat dari kayu jati yang cukup tebal, padahal dinding perbatasan rumah itu sudah cukup tebal, namun pintu ini tidak kalah tebalnya dengan dinding tembok yang begitu keras.


Beberapa tukang bangunan mulai membongkar pintu yang sangat keras itu, dengan gagangnya yang terbuat dari besi.


Sepertinya pintu ini sering sekali dilewati oleh orang, karena terlihat dari ada sebuah lubang anak kunci, yang sama sekali tidak kotor ataupun terkena kotoran yang menandakan kalau beberapa kali sering dibuka dan ditutup.


"Pintu ini jadi dibobol Pak? Kalau pintunya dibobol temboknya Bolong dong!" tanya salah seorang tukang bangunan itu.


"Tidak apa-apa di bobol saja! Setelah itu tutup semuanya pakai tembok, dan jangan lupa di atasnya diberikan kawat duri semuanya ya sepanjang rumah ini!" jawab Dio.


"Beres Pak, pokoknya Serahkan semua pada kami, paling lambat besok semuanya sudah selesai, seluruh rumah Bapak akan aman!" kata salah seorang tukang bangunan itu.


"Bagus!" sahut Dio sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


Kemudian setelah itu, Dio kembali masuk kedalam rumahnya. Dinda nampak sibuk membereskan meja makan bekas mereka sarapan tadi, sementara Chika sedang asyik bermain-main dengan bonekanya di ruang keluarga sambil menonton acara anak-anak di televisi.


Ting ... Tong ...


Terdengar suara bel dari arah pintu depan.


Seperti biasa, Mbak Yuyun berjalan cepat untuk membukakan pintu.


"Halo Mbak, Dinda ada?" tanya tamu itu yang tak lain adalah Asti, sahabat Dinda.


"Ada, ayo silahkan masuk!" jawab Mbak Yuyun.


Asti kemudian berjalan mengikuti Mbak Yuyun menuju ke dalam rumah, ke ruang keluarga.

__ADS_1


Melihat kedatangan Asti, Dinda segera menghentikan aktivitasnya, kemudian menyambut kedatangan sahabat nya itu.


"Asti, kok tidak kasih kabar kalau mau datang? Ayo duduk!" ajak Dinda.


Mereka kemudian duduk mengobrol di ruang keluarga itu. Mbak Yuyun nampak membawakan dua buah minuman, dan satu piring makanan ringan, lalu diletakkannya di atas meja.


" Din, aku turut prihatin ya atas apa yang menimpa keluargamu, aku dengar kemarin itu Chika diculik dan Untung saja dia bisa selamat! " kata Asti.


"Terima kasih As, aku juga sempat shock, kemarin itu tidak menyangka kalau akan mengalami hal buruk seperti itu, dan ini sangat mengerikan, untung saja Chika bisa selamat meskipun Ujang supir kami menjadi korban, dan sampai hari ini pun masih belum tahu siapa otak dibalik semuanya ini!" ungkap Dinda.


"Din, kalau aku boleh usul nih, baiknya kau tambah orang lagi saja untuk menjaga rumah ini, misalnya suster kek, untuk menjaga Chika atau satu orang lagi asisten rumah tangga!" kata Asti.


"Waktu itu Mas Dio juga menawarkan, supaya ada suster yang menjaga Chika juga merawat aku, tapi aku tolak karena aku pikir aktivitas di rumah tangga ini masih bisa kami handle sendiri, tapi karena kejadiannya kemarin itu sepertinya usulan mu boleh dicoba!" jawab Dinda.


"Oke, kalau kamu butuh, aku ada nih yang mau kerja jadi suster di rumah ini, tapi kamu tanya dulu sama suami kamu, kalau dia setuju kamu langsung hubungi aku saja, nanti biar aku suruh orangnya datang langsung ke sini!" kata Asti.


"Siap As, nanti pasti aku akan hubungi kamu, ngomong-ngomong terima kasih ya atas semua dukungan dan masukkan kamu, Oh ya Bagaimana hubunganmu dengan Mr. Sam?" tanya Dinda.


"Oke deh As, pokoknya kamu siap saja kalau aku hubungi kamu sewaktu-waktu!" sahut Dinda.


****


Sementara itu, Ken sudah pulang kembali ke rumahnya, dia bisa berjalan sedikit demi sedikit dipapah oleh Pak Dirja ayahnya.


Ken kemudian langsung beristirahat di kamarnya, sekarang dia tidak lagi tidur di sofa, tapi dia tidur di tempat tidur Keyla, dan Keyla pun sudah mengizinkannya untuk tidur bersama dengannya dalam satu tempat tidur.


"Keyla, Ayah izin mau ke rumah Dio ya, Ayah ingin mengobrol dengan Bu Lilis, sudah lama Ayah tidak mengobrol dengannya, karena masalah ini, walau bagaimana ayah tidak enak, karena sudah menunda niat Ayah untuk menikahi Bu Lilis!" kata Pak Dirja.


"Silakan ayah, Pergilah sesuka hati ayah, asalkan ayah senang!" jawab Keyla.

__ADS_1


"Trimakasih Nak!"


Sambil tersenyum Pak Dirja kemudian keluar meninggalkan kamar Keyla.


Keyla kemudian mulai menyelimuti tubuh Ken, yang saat ini sudah mulai berbaring.


"Sekarang kau Istirahatlah Ken, kata dokter kamu jangan banyak bergerak dulu, harus makan yang teratur dan minum obat yang teratur!" kata Keyla.


"Siap Nyonya!" sahut Ken dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan modus! kalau kau tidur disini, aku yang akan tidur di sofa, biar aman!" cetus Keyla.


"Lho kok begitu mbak? Aku pikir mbak Keyla sudah benar-benar menerima aku seutuhnya! Yah kalau tau begitu, lebih baik aku tidak usah sadar-sadar saja!" sungut Ken.


Keyla kemudian tertegun, dia tanpa sadar sudah menyinggung perasaan Ken suaminya.


Meskipun Keyla tidak benar-benar sadar dengan apa yang diucapkannya saat ini, sebenarnya apa yang diucapkan Keyla itu tidak sesuai dengan hatinya, namun Keyla terlalu gengsi untuk mengakui sejujurnya dengan mulutnya.


"Maafkan aku Ken, aku tidak bermaksud untuk...."


"Sudah lah Mbak, terserah sekarang Mbak Keyla mau ngapain, sekarang aku mau istirahat, mataku ngantuk!" cetus Ken yang kemudian langsung memeluk gulingnya dan memejamkan matanya.


Keyla yang merasa bersalah, kemudian langsung memeluk suaminya itu dari belakang, dia tidak kuasa menahan gejolak didalam dadanya.


Sebenarnya sudah sejak tadi ia sangat ingin memeluk suaminya itu, namun dia tidak ada alasan untuk melakukannya.


"Maafkan aku ya Ken!" ucap Keyla.


Ken tidak menjawab, namun dibalik selimutnya dia tersenyum senang.

__ADS_1


Bersambung ...


*******


__ADS_2