Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Dia Yang Tak Terduga


__ADS_3

Setelah tiba di rumah sakit, Dio di bantu Pak Dirja langsung mengangkat tubuh wanita yang kondisinya kritis itu ke ruang UGD.


Beberapa suster membantunya membaringkannya di ranjang, dan langsung di dorong ke dalam ruangan UGD tersebut.


Dio dan Pak Dirja menunggunya di luar.


"Kalau wanita itu sampai meninggal, kamu bisa di tuntut balik Dio!" kata Pak Dirja.


"Aku pasrah Ayah, asalkan Dinda istriku baik-baik saja, aku melakukan itu bukan tanpa alasan!" sahut Dio.


"Kamu tenang saja, Ayah ini kan pengacara, pasti Ayah akan membelamu, kita berdoa saja Mudah-mudahan wanita itu bisa selamat, dan memberikan keterangan, aku akan menelepon polisi untuk laporan kasus ini!" ujar Pak Dirja.


Dia langsung merogoh ponselnya dan mulai menelepon pihak kepolisian.


Setelah selesai menelepon polisi, kemudian Pak Dirja segera kembali duduk di sebelah Dio.


Pak Dirja menghembuskan nafas panjangnya, sebenarnya matanya lelah dan sangat mengantuk, namun ada misi yang harus diselesaikannya.


"Bagaimana ayah?" tanya Dio.


"Dio, Besok pagi kau datanglah ke kantor polisi, karena suster Anna ada di sana, kau bisa langsung mengintrogasi nya, setelah ini ayah akan naikkan kasusnya, kalian tenang saja, sebentar lagi sudah tidak ada lagi masalah dalam rumah kalian!" jawab Pak Dirja.


"Terima Kasih Ayah! Kalau bukan karena Ayah, aku tidak tahu lagi harus bagaimana, aku hanya penasaran saja apa motif dibalik semuanya ini!" ucap Dio.


"Sekarang saksi kuncinya itu ada pada suster Anna, juga pada wanita yang ada di dalam UGD itu, Dio, apakah kau merasa kalau wanita itu Mirip mendiang istrimu?" tanya Pak Dirja sambil menoleh kearah Dio yang ada di sebelahnya.


"Iya Ayah, mulanya aku sangat kaget saat melihat wanita itu, dia memang mirip dengan Ranti mendiang istriku, tapi ternyata bukan dia bukan Ranti dia hanya mirip!" jawab Dio.


"Yah, lagi pula kan Ranti itu memang sudah meninggal, apakah kau tau kalau mendiang Ranti punya saudara?" tanya Pak Dirja.

__ADS_1


"Punya Ayah, tapi aku tidak mengenal saudaranya Ranti, dulu saudara Ranti itu ada di luar negri, bahkan semua keluarga besarnya itu ada di Papua!" jawab Dio.


Tak lama kemudian, seorang dokter dan perawat keluar dari ruang UGD itu.


Buru-buru Dio dan Pak Dirja berdiri dan menghampiri Dokter itu untuk menanyakan soal wanita yang kritis itu.


"Bagaimana dengan kondisi wanita itu dokter?" tanya Dio tak sabar.


"Wanita itu masih belum sadar, luka yang ada di kepalanya memang sempat merobek hingga mengeluarkan darah, namun tidak sampai mencederai otaknya, Jadi masih aman, mungkin besok dia baru akan sadar dan semua luka yang ada di kepalanya sudah kami tangani dia hanya tinggal beristirahat saja!" jelas dokter itu.


"Syukurlah dokter kalau dia selama!" kata Dio.


"Baiklah kalau begitu Pak, pasien sudah dapat dijenguk dan saya kembali ke ruangan saya dulu!" ujar sang dokter itu sambil bergegas pergi meninggalkan Pak Dirja dan Dio yang masih berdiri ditempat itu.


Kemudian Dio dan Pak Dirja masuk ke dalam ruangan itu.


Seorang perawat sedang memantau selang infus di sisi ranjang wanita itu.


Tiba-tiba Dio teringat akan mendiang istrinya yang sudah meninggal itu, dari sejak menikah bahkan sampai meninggal, Ranti tidak pernah merasakan kebahagiaan.


Begitu pula Dio, mereka hanya menjalankan status bagi suami istri secara formalitas, hitam diatas putih. Dari situ Dio menyadari bahwa nanti begitu menderita.


Tiba-tiba mata wanita itu mulai mengerjap, tangannya mulai bergerak, Sepertinya dia mulai sadar.


Dio kemudian mulai mendekati wanita itu, berniat akan mengintegrasikannya, namun Pak Dirja menahan dada Dio untuk maju dan mencegah Dio melakukan hal itu.


"Sabar Dio, kamu jangan terburu-buru mengintegrasi dia, walau bagaimana pun dia itu baru sadar, Jangan membuat kondisinya semakin buruk!" ujar Pak Dirja.


Akhirnya Dio pun mengurungkan niatnya dan dia kembali mundur, hanya menatap wanita itu dari kejauhan saja.

__ADS_1


Wanita itu kini membuka matanya dengan sempurna, dia nampak terkejut pada saat melihat Dio dan Pak Dirja yang kini berdiri di hadapannya.


Wanita itu diam tak bisa berkutik dengan kepala yang masih diperban, dan darah yang masih merembes di sebagian perbannya itu.


Karena tidak sabar, Dio akhirnya maju untuk bertanya sesuatu pada wanita misterius itu, yang selama ini telah meresahkan seisi rumahnya.


Pak Dirja hanya bisa membiarkan saja Dio bertanya pada wanita itu, lagipula kelihatannya kondisi wanita itu dalam keadaan stabil, dan lukanya juga tidak terlalu parah seperti yang dibayangkan sebelumnya.


"Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?" tanya Dio.


Wanita itu diam saja tidak langsung menjawab pertanyaan Dio, dari sorot matanya dia nampak seperti bingung dan takut, karena saat ini kondisinya berbaring di rumah sakit tidak ada daya.


"Ayo jawab aku! siapa kau sebenarnya? Apa maksudmu meneror keluargaku? Apakah kita pernah punya masalah sebelumnya?" tanya dia dengan suara yang kini mulai meninggi.


Pak Dirja menepuk-nepuk lembut bahu Dio, berusaha untuk menenangkan emosi laki-laki itu.


"Aku ini adalah Ratih, adik kandung dari Ranti, Aku ingin mengambil Chika ke keluargaku, karena orang tua kami sangat mendambakan cucu, dan tidak ada seorang pun cucu yang orangtua kami miliki selain Chika, bukan hanya itu, kami juga menginginkan sebagian dari hartamu yang adalah hak waris terhadap Ranti dan Chika!" jelas wanita yang ternyata bernama Ratih itu.


Dio terkesiap mendengar penjelasan dari wanita yang kini ada di hadapannya itu, dia sama sekali tidak menyangka kalau wanita yang ada dihadapan itu adalah Ratih adik kandung dari Ranti mendiang istrinya dulu.


Dan dia juga sangat terkejut mendengar dari pengakuan Ratih, kalau mereka ingin mengambil Chika dari keluarga Dio bukan hanya Chika, namun sebagian harta yang dia miliki yang merupakan hak waris untuk Chika dan juga Ranti.


Dio sama sekali tidak menyangka Bahwa keluarga dari pihak Ranti akan menuntut seperti itu, tapi tidak dengan cara baik-baik melainkan dengan cara cara meneror seperti ini.


Dan ada hal yang aneh, dari mana Ratih bisa masuk ke dalam rumah itu tanpa melalui pintu gerbang depan, apakah selama ini dia memang sudah tinggal di situ selama beberapa saat lamanya?


"Sedikitpun tidak akan pernah aku membiarkan anakku disentuh oleh kalian!" geram Dio.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2