Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Pulang Cepat


__ADS_3

Ini adalah hari ke empat Dio dan Dinda berbulan madu ke Turki. Sudah dua hari ini mereka bermalam di hotel yang ada di Cappadocia, tempat yang di inginkan oleh Dinda.


Pagi-pagi sekali Dio mengajak Dinda untuk melihat keindahan alam dan berencana akan naik balon udara.


Sepanjang jalan Dinda terlihat sangat takjub, seumur hidupnya dia baru melihat tempat seindah ini.


Banyak sekali balon-balon udara yang berterbangan dengan beraneka warna, dengan panorama alam yang begitu indah di pandang mata.


Di sepanjang jalan itu, terlihat banyak sekali orang yang menunggangi kuda, seperti pada masa jaman kerajaan dulu.


Tak henti-hentinya Dinda menyunggingkan senyum di bibirnya, dalam hati dia sangat bersyukur, selain mendapatkan suami yang sangat tampan dan amat mencintainya, dia juga memiliki kesempatan untuk menikmati bulan madu yang begitu spesial.


"Nanti kita naik balon udara sayang, kita bisa melihat indahnya tempat ini, aku juga mau foto-foto dan akan aku posting di akun media sosial aku!" kata Dio.


"Biasanya Mas Dio jarang posting apapun, tumben!" ujar Dinda.


"Itu kan dulu, sekarang sudah ada wanita yang mendampingi aku, pastinya aku akan bangga dong, dan aku akan memamerkan pada dunia, seorang Dio yang kini telah bangkit dan berubah!" ucap Dio sambil meremas kembali jemari Dinda.


Mereka kemudian mulai turun dari bus wisata, berjalan dan memandang alam yang begitu indah dan artistik.


Dio mulai banyak berfoto bersama Dinda dalam tiap momen, dan langsung memposting nya di media sosialnya.


Banyak sekali tanggapan dan komentar dari para followersnya.


Karena selama ini, Dio sangat jarang memposting apapun, terutama yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya, namun kali ini, dia dengan bangga memamerkan kebahagiaan dirinya bersama dengan Dinda.


Dinda duduk memandang ratusan balon udara yang berterbangan dengan sangat indah, sambil menikmati nuansa alam yang eksotis.


"Mau naik sekarang sayang?" tanya Dio. Dinda menganggukan kepalanya.


Mereka kemudian mulai di bantu oleh seorang operator yang terpercaya untuk naik balon udara.


Kebetulan hari itu cuaca sangat mendukung untuk naik balon udara, seorang pilot balon udara sudah siap untuk mengantar mereka terbang dan menjelajah daerah itu.


"Aku takut Mas!" ucap Dinda pada saat mereka sudah akan bersiap untuk naik ke balon udara, dan pilot sudah mulai memberikan instruksi.


"Jangan takut sayang, kamu tidak sendiri, ada aku yang selalu bersamamu!" bisik Dio.


Petugas mulai memompa balon udara, dan ketika balon sudah terbentuk, para petugas itu berusaha untuk mendirikan balon.


Setelah di rasa sudah aman, Dio dan Dinda mulai naik ke keranjang balon udara dengan perlahan dengan beberapa orang wisatawan yang lain juga, setelah ada instruksi untuk naik.


Dan perlahan balon udara itu mulai naik ke atas, hembusan angin menerpa rambut dan wajah Dinda dan Dio.


Dinda selalu memegang dengan erat tangan Dio, takut kalau tangan itu akan terlepas dari genggaman tangannya.


Terlihat sunset di pagi hari yang sangat indah, dengan warna langit yang kemerahan.


Dio selalu mengambil foto-foto indah itu dengan ponselnya, dengan tidak melepaskan genggaman tangan Dinda.


"Kamu bahagia sayang?" tanya Dio sambil membelai rambut Dinda yang sedikit berantakan terkena angin.


"Iya Mas, sangat!" jawab Dinda.


"Aku juga sangat bahagia, seumur hidupku, belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini!" ucap Dio.


Dinda merebahkan kepalanya di dada Dio, hawa dingin semakin mereka rasakan, pada saat balon udara sudah mulai naik tinggi.


****


Menjelang sore hari mereka baru tiba di hotel, setelah mereka puas menjelajahi daerah wisata di Cappadocia.


Meskipun tubuh mereka nampak lelah, namun mereka berdua terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Mereka bukan hanya naik balon udara menikmati indahnya panorama alam, namun mereka juga mengunjungi beberapa tempat yang indah di Cappadocia.


Mereka mengunjungi museum, dan tempat-tempat bersejarah kuno yang indah dengan pemandangan gua-gua, lembah dan bukit pasir.


Seharian ini mereka tidak terasa menikmatinya, hingga hari menjelang sore.


Dio yang langsung mandi karena tubuhnya lengket, kini nampak baru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah.


Dinda terpesona melihat wajah Dio yang terlihat menawan saat baru mandi itu, seolah dia baru menyadari ketampanan suaminya itu.


"Kenapa kamu menatapku tidak berkedip?" tanya Dio.


"Eh, tidak kok Mas, siapa yang menatapmu!" kilah Dinda.


"Hmm, sudah terciduk masih juga menyangkal, apa susahnya kamu mengakui kalau suamimu ini memang tampan sejak lahir!" ujar Dio cemberut.


"Iya iya, Mas Dio ganteng!" sahut Dinda akhirnya.


Mereka kemudian berbaring sambil melihat-lihat hasil foto mereka saat jalan-jalan tadi.


"Mas tidak telepon Chika? Kasihan dia Mas, pasti akan nungguin kamu telepon dia!" kata Dinda.


"Dari kemarin itu, kamu tau kan sinyalku dan nomor bermasalah, tapi nanti aku coba menghubungi nomor rumah saja!" sahut Dio.


"Iya sih Mas, tapi aku kangen Chika Mas!" ujar Dinda.


Pada saat Dio membuka akun media sosialnya kembali, ada salah satu komentar yang mengatakan kalau dia asyik berbulan madu, sedangkan orang tuanya nya di rawat di rumah sakit.


Dio dan Dinda terkejut membaca komentar itu.


"Mas, coba kamu telepon rumah, siapa tau sedang ada masalah di rumah!" kata Dinda cemas.


"Duh, aku harus pakai telepon kamu deh, ponselku selalu tidak nyambung kalau telepon ke rumah!" ujar Dio.


Setelah beberapa kali mencoba, barulah teleponnya tersambung.


"Halo!"


"Mbak Yuyun, apakah di situ ada Chika??" tanya Dio.


"Ada Pak, lagi di kamarnya!" jawab Mbak Yuyun.


"Mbak, sekarang jawab aku, apa yang terjadi dengan Ayah dan Bunda?" tanya Dio.


"Anu Pak ... anu ... itu!"


"Jawab jujur Mbak!" sentak Dio.


"Anu Pak, Nyonya sudah beberapa hari ini di rawat di rumah sakit, kata tuan, dia kecelakaan saat akan menjemput Non Chika!" jelas Mbak Yuyun gugup.


"Kenapa kalian tidak mengabari aku??" tanya Dio.


"Kata Tuan, jangan beritahu pak Dio, takut akan mengganggu bulan madu Pak Dio dan Bu Dinda!" jawab Mbak Yuyun.


Dio kemudian langsung menutup panggilan teleponnya.


"Ada apa Mas?" tanya Dinda.


"Bunda di rawat di rumah sakit, dia kecelakaan!" jawab Dio.


"Ya Tuhan, kenapa mereka tidak memberitahu kita??"


"Katanya takut mengganggu bulan madu kita!" sahut Dio.

__ADS_1


"Mas, kita pulang cepat saja, kasihan Chika, dia pasti membutuhkan kita Mas!" kata Dinda.


"Tapi, kita masih ada jadwal beberapa hari lagi sayang!" tukas Dio.


"Kita kan sudah cukup puas Mas, aku rasa sudah cukup kita menikmati bulan madu kita, walaupun hanya beberapa hari!" ucap Dinda.


"Tapi aku sangat ingin memberikan mereka oleh-oleh spesial!" ujar Dio.


"Oleh-oleh? Oleh-oleh apa?" tanya Dinda.


"Adik untuk Chika!" bisik Dio.


Lagi-lagi seluruh bulu kuduk Dinda meremang seketika.


Bersambung ...


****


Hai guys ...


Ini ada visual para tokoh versi author, tapi tetap versi pembaca yang paling oke ...



Ferdio Dacosta (Dio)





Dinda Maharani





Ken





Keyla





Chika




Ini hanya gambaran saja ya guys ...

__ADS_1


Trimakasih atas dukungannya ...


__ADS_2