
Pagi ini Chika terlihat sudah rapi berseragam, dia terlihat sangat semangat dan antusias untuk pergi ke sekolah.
Sementara Dinda membantu Mbak Yuyun menata meja makan dan menghudangkankan sarapan pagi ini.
Pak Frans dan Bu Lian nampak menuruni tangga dan langsung duduk di ruang makan.
"Eh, cucu Opa sudah cantik pagi ini, sudah siap sarapan ya!" kata Pak Frans sambil mengelus kepala Chika hang sudah terlebih dahulu duduk di ruang makan itu.
"Iya dong Opa, aku lagi semangat nih, karena hari ini Mama yang membuatkan bekal untukku, kan aku tidak pernah di siapkan bekal oleh mama dulu!" ucap Chika.
"Oya?"
"Iya dong, nanti aku mau pamer sama teman-teman sekelas aku, pasti mereka iri padaku, karena aku di buatkan bekal spesial hari ini!" celoteh Chika.
"Chika tidak boleh pamer, nanti jadi sombong, itu kan tidak baik!" sergah Bu Lian.
"Kan pamer sesekali tidak apa-apa dong Oma, supaya teman-teman aku tidak ada yang katain aku lagi kayak dulu!" sahut Chika.
Dinda terlihat berjalan ke arah meja, lalu meletakkan tas makan Chika di atas meja, di dekat tas sekolahnya.
"Nanti bekalnya di habiskan ya sayang!" kata Dinda.
"Siap Mama!" sahut Chika cepat.
"Dinda, di mana Dio?" tanya Bu Lian tiba-tiba.
"Ehm, belum bangun Bunda!" jawab Dinda.
"Dasar kebiasaan! Dari sebelum menikah sampai sekarang, kebiasaan bangun siangnya tidak hilang-hilang juga!" sungut Bu Lian.
"Tapi kan kebiasaan mabuk Papa sudah hilang Oma!" celetuk Chika.
"Ya ya, kamu memang paling pintar untuk membela Papamu Chika! Dinda, kamu bangunkan Dio sekarang, masa jam segini masih tidur!" titah Bu Lian.
"Baik Bunda!"
Dinda lalu segera melangkah menaiki tangga atas menuju ke kamarnya.
Dio masih nampak tidur sambil memeluk guling di tempat tidurnya, perlahan Dinda mendekati suaminya itu.
"Mas, bangun Mas, semua orang sudah sarapan di meja makan, masa kamu malah tidur!" panggil Dinda sambil mengguncangkan tubuh Dio.
Dio mulai mengerjapkan matanya, lalu menatap hangat pada istrinya itu.
"Alangkah bahagianya hatiku, saat aku membuka mataku, ada bidadari cantik yang sedang menyapaku, ayo mendekatlah, aku ingin memelukmu sebentar saja!" ucap Dio.
__ADS_1
"Iiih Mas Dio apaan sih? Ayah dan Bunda sudah menunggu di bawah, bukan waktunya lagi untuk santai-santai, cepatlah mandi dan ganti pakaian!" cetus Dinda.
"Kau tidak tau bagaimana setiap hari aku harus menahan hasratku yang memuncak, sampai kapan kau datang bulan sayang? Aku sudah tidak sabar!" ujar Dio mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin dua hari lagi aku sudah selesai dan benar-benar bersih, sudahlah, sekarang cepat mandi dan ganti bajumu!" Dinda lalu menarik tangan Dio untuk bangun dari tempat tidurnya.
Mau tidak mau Dio menuruti keinginan istrinya itu, dia mulai masuk kedalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Setelah Dio selesai mandi, mereka kemudian turun dan mulai duduk bergabung di ruang makan itu.
"Papa terlambat! Kita sudah selesai sarapan!" cetus Chika.
"Maaf Nak, Papa tidur terlalu nyenyak sampai lupa bangun!" kata Dio beralasan.
"Chika, hari ini Opa dan Oma yang mengantar Chika sekolah ya!" ucap Pak Frans.
"No! Hari ini aku mau di antar oleh Papa dan Mama!" sahut Chika.
"Tapi kan Papa baru sarapan, nanti kelamaan kalau menunggu Papa!" timpal Bu Lian.
"Pokonya aku mau di antar Papa Mama! Nggak asyik kalau sama Opa dan Oma, kan sudah tuwir!" sahut Chika.
"Chika! Yang sopan kalau bicara sama Opa dan Oma!" hardik Dio.
"Maaf, tapi aku mau di antar sama Papa Mama saja!" ucap Chika, wajahnya nampak memelas.
"Iya Mas, kita antar Chika ya, lagi pula kan kita punya banyak waktu!" lanjut Dinda.
"Baiklah, ayo!"
Dio lalu berdiri dari tempatnya, menuju ke garasi tempat di mana mobilnya terparkir, padahal dia baru sarapan satu sendok.
Chika nampak senang akhirnya Dinda dan Dio mengantar ke sekolah pagi ini.
"Yeaaaay!! Yuhuuu!!" seru Chika sambil melonjak kegirangan.
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, jika tidak henti-hentinya bersenandung gembira, karena hari ini hatinya sangat senang.
Chika merasa memiliki keluarga yang lengkap, Dia memiliki Papa juga mama sehingga dia tidak sabar ingin memamerkannya pada teman-temannya.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sekolah, setelah Dio memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah, Dio dan Dinda kemudian turun dari mobil dan berjalan menggandeng tangan Chika menuju ke arah lobby.
Di lobby yang pagi ini ramai dengan orang tua murid yang mengantar sekolah, mereka semua menatap ke arah Dio dan Dinda yang kini menggandeng tangan Chika.
"Ciyeeee, pengantin baru sudah jalan-jalan saja, kapan nih bulan madunya Bu Dinda!" goda salah satu orang tua murid.
__ADS_1
Dinda hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan mereka.
"Chika, sekarang kau naiklah ke atas, papa dan mama hanya mengantar sampai di sini ya!" kata Dinda.
"Oke deh! Dah mama dah papa!" seru Chika riang sambil melambaikan tangannya dan setengah berlari naik ke atas menuju ke kelasnya.
Setelah Chika naik ke atas, Dio lalu dengan cepat menggandeng tangan Dinda untuk kembali berjalan ke parkiran, menuju mobil mereka.
"Mas, boleh kita mampir ke apartemen? Aku ingin sekali ketemu sama Ibu!" kata Dinda tiba-tiba.
"Tentu saja boleh sayang, kita langsung ke sana ya!" jawab Dio.
Dinda tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
****
Sementara itu di tempat kediaman Pak Dirja, Keyla masih mengurung diri di kamar.
Sejak kejadian Ken yang telah menodainya, Keyla seolah hilang arah dan semangat hidup, dia hanya menghabiskan waktunya di kamar saja dan melamun sepanjang hari.
"Mbak Titi, apakah Keyla sudah sarapan pagi ini?" tanya Pak Dirja yang terlihat duduk di ruang makan.
"Tidak tau Pak, saya tadi sudah memberikan sarapan di kamarnya, tapi tidak tau di makan atau tidak!" kata Bi Titi.
"Baiklah, aku akan coba berbicara padanya!"
Pak Dirja bangkit berdiri dan melangkah pelan-pelan menuju ke kamar Keyla.
Tanpa mengetuk lagi, karena Keyla tidak pernah mengunci pintu kamarnya, Pak Dirja langsung masuk ke dalam kamar Keyla.
Keyla nampak duduk termenung di meja kamarnya sambil menatap kosong ke arah luar jendela.
Perlahan Pak Dirja mendekatinya lalu menyentuh bahunya.
"Nak, apa yang sedang kau pikirkan, ceritakan pada Ayah!" kata Pak Dirja.
Keyla hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"Ayah tau bagaimana perasaanmu saat ini, kamu pasti sedih kan karena Dinda menikah dengan Dio, seharusnya kamu yang sekarang jadi istrinya, tapi kau harus belajar menerima kenyataan kalau Dio memang bukan jodohmu Key!" ucap Pak Dirja.
"Ayah, untuk apa membahas itu lagi? Saat ini aku sudah benar-benar hancur tanpa sisa, kalau bukan karena Ayah, mungkin aku sudah bunuh diri!" sahut Keyla dengan mata yang masih menatap lurus ke depan.
"Keyla, jangan berkata seperti itu Nak, kamu pasti akan mendapatkan laki-laki terbaik sebagai jodohmu, percayalah!" ujar Pak Dirja.
Tiba-tiba Keyla menoleh ke arah Pak Dirja dan menatap tajam wajahnya.
__ADS_1
Bersambung ...
****