
Chika nampak berjalan cepat dari arah tangga atas, saat melihat kedatangan Dio dan Dinda.
Wajahnya begitu riang, dan ceria, Chika terlihat baru bangun dari tidurnya.
"Bu Dinda!" panggil Chika.
"Pelan-pelan sayang, nanti kau bisa jatuh dari tangga!" ujar Dio memperingatkan.
"Papa, Oma dan Opa pulang tadi pagi, tapi katanya pas aku ulang tahun, Oma dan Opa akan datang lagi!" kata Chika sambil bergelayut manja di pelukan Papanya.
"Oya? Tadi Oma dan Opa pamit sama Chika?" tanya Dio.
"Iya Pa, Papa sih di telepon tidak di angkat-angkat!" sahut Chika.
"Maaf Chika, ponsel Papa mati!" ucap Dio.
Tiba-tiba Dio merasa bersalah pada Chika, padahal semalam itu dia habis dari klub malam dan mabuk-mabukan.
"Kenapa Papa bisa ketemu sama Bu Dinda?" tanya Chika sambil menoleh ke arah Dinda.
"Ehm, tadi Papa jemput Bu Dinda, hari ini kan liburan, Chika mau apa?" tanya Dio sambil membelai sayang rambut putrinya itu.
"Aku mau berenang Pa, kita berenang yuk, ajak Bu Dinda!" jawab Chika.
"Eh, jangan! Bu Dinda tidak bisa renang!" sergah Dinda.
"Oke, kita renang di rumah ya, Chika, Papa dan Bu Dinda!" ujar Dio.
"Jangan Pak! Jangan macam-macam, aku tidak bisa renang dan lagi pula aku tidak bawa baju renang!" tukas Dinda sambil menggelengkan kepalanya.
"Dulu Mama punya banyak baju renang! Bu Dinda pakai saja!" celetuk Chika.
"Jangan! Kalian saja yang berenang, Bu Dinda tungguin saja!" sergah Dinda.
"Mbak Yuyun!!" panggil Dio tiba-tiba.
Mbak Yuyun nampak jalan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Ada apa Pak Dio?" tanya Mbak Yuyun.
"Siang ini masak yang enak ya, dan tolong ambilkan pakaian renang di lemari bajuku, itu masih baru, bawa ke sini ya!" titah Dio.
"Baik Pak!" sahut Mbak Yuyun yang langsung berjalan ke arah kamar Dio.
Tak lama kemudian, Mbak Yuyun sudah muncul dan membawa sebuah pakaian renang yang masih baru, lalu menyodorkannya ke arah Dio.
Dio langsung mengambilnya dan memberikannya pada Dinda.
"Ini untukmu sayang!" ucap Dio.
__ADS_1
"Jangan Pak, aku tidak mau!" tolak Dinda.
"Ini masih baru sayang, tau nggak, aku sengaja membeli pakaian renang untukmu, karena aku yakin suatu hari kita akan berenang sama-sama di sini, please ..." mohon Dio.
Akhirnya dengan sedikit terpaksa, Dinda menerima pakaian renang itu, meskipun Dinda sendiri tidak terlalu suka renang.
"Gitu dong Bu Dinda! Aku senang deh, akhirnya bisa berenang sama Papa juga Bu Dinda!" seru Chika senang.
Demi Chika, akhirnya Dinda menuruti untuk ikut berenang bersama dengan mereka.
Dinda lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian renang yang di berikan Dio padanya.
"Dasar singa mesum! Kenapa dia memberikan pakaian renang seksi begini sih!" sungut Dinda saat dia melihat di cermin, pakaian yang dia kenakan terlihat begitu seksi dan terbuka, Dinda jadi malu sendiri.
Mereka kemudian menuju ke kolam renang besar yang ada di samping rumah Dio, di dekat taman dengan air mancur yang nampak seperti wahana air.
Chika terlihat sangat gembira, dia langsung melompat ke kolam renang itu, Dinda tertegun melihat kepiawaian Chika dalam berenang.
Anak itu sangat pandai berenang dan menyelam, sementara Dinda, sama sekali tidak bisa renang.
"Ayo Bu Dinda! Sini!" panggil Chika.
Dinda kemudian mulai masuk ke dalam kolam dengan air yang dingin itu.
Dio juga nampak langsung melompat ke kolam renang itu sambil mulai menyelam dan berenang.
"Ayo mendekatlah, aku akan mengajarimu berenang!" kata Dio.
"Jangan deh Pak, sudah Pak Dio berenang saja, aku berendam juga sudah cukup!" sahut Dinda yang terlihat malu dan risih karena pakaiannya minimalis.
Dio tersenyum dan memeluk Dinda dalam air kolam itu.
"Semakin kau menolak, kau semakin tak ku lepaskan! Kau benar-benar sudah membuatku mabuk kebayang Bu Guru!" bisik Dio.
Dio langsung menciumi Dinda beberapa kali, tidak tahan menahan gejolak yang sedari tadi sudah melandanya.
"Ciyeeee!! Papa cium Bu Dinda! Suiit suiiit!" goda Chika.
"Chika, tutup matamu! Kalau Papa sedang sama Bu Dinda, kau jangan ikut campur!" hardik Dio.
"Oke deh Pa!" sahut Chika yang kemudian melanjutkan aktifitas renangnya.
Dinda mendorong dada Dio saat dio kembali mengecupi bibirnya.
"Sudah Pak! Malu aku di depan Chika! Tahan dulu keinginanmu!" sergah Dinda.
"Ouuh, Maafkan aku sayang! Baiklah, aku benar-benar tak sabar untuk memperistrimu, kenapa Ayah dan Bunda pakai pulang segala sih!" sungut Dio.
"Mungkin mereka tidak merestuimu dengan aku Pak!" lirih Dinda.
__ADS_1
Dio kembali memeluk Dinda dan membenamkan kepala wanita itu di dadanya.
"Tidak sayang, kehilanganmu bisa membuat aku menjadi gila, aku akan terus meyakinkan mereka, aku janji!" bisik Dio.
Ada rasa hangat yang Dinda rasakan berada dalam pelukan Dio, meskipun air kolam itu begitu dingin.
"Aku takut Pak!"
"Jangan takut, percayalah padaku, kita akan melangkah bersama menghadapi segala rintangan, lagi pula, aku sudah dewasa, sudah berhak menentukan kebahagiaanku sendiri!" ucap Dio.
Dinda menangis sambil menganggukan kepalanya, kini seluruh harapannya dia letakan di dada Dio, laki-laki yang memberikannya kenyamanan dan kehangatan.
Mbak Yuyun nampak datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Pak Dio, ada yang datang mencari Bapak, dia sedang ada di teras depan!" kata Mbak Yuyun.
Dinda langsung melepaskan pelukannya itu.
"Siapa Mbak?" tanya Dio.
"Itu Pak, Mbak Keyla, yang waktu itu pernah datang!" sahut Mbak Yuyun.
Dio belum memberikan jawaban, tiba-tiba Keyla sudah berjalan menghampiri mereka dari arah depan.
"Wow! Asyik sekali kalian berenang!" seru Keyla sambil jalan mendekat ke tepi kolam renang.
"Mau apa kau ke sini Key? Memangnya aku pernah mengundangmu??" tanya Dio.
Dinda terbelalak saat melihat keyla, dia sudah kenal dengan wanita yang kini berdiri tidak jauh dari hadapan nya itu, Keyla juga nampak terkejut melihat Dinda.
"Mbak Keyla? Jadi Mbak keyla yang ini yang di maksud??" tanya Dinda kaget.
"Sayang, kau sudah kenal dengan Keyla??" bisik Dio. Dinda menganggukan kepalanya.
"Mbak Keyla ini adalah teman dekat dari Ken, laki-laki yang pernah melukai hatiku!" ucap Dinda.
Dinda langsung naik ke tepi kolam dan menutup tubuhnya dengan handuk, Dio juga menyusulnya.
"Dinda... aku tidak menyangka kau semurahan ini, dasar kau tak tau diri, tidak bisa mendapatkan Ken, kau mendekati Dio! Memalukan!!" cetus Keyla.
"Tutup mulutmu Key! Dinda tidak seperti itu!" sentak Dio.
"Hmm, kau belum tau saja Dio, aku sudah lama mengenal Dinda, dia ini sudah lama pacaran dengan Ken, kalau kuhitung-hitung, sudah empat tahun! Dan aku tidak yakin kalau dia masih perawan, secara Ken itu sangat pandai bermain dengan wanita!" sahut Keyla.
Dinda langsung berlari ke arah kamar mandi yang tidak jauh dari kolam itu, menumpahkan segala perasaannya.
Bersambung...
****
__ADS_1