
Setelah motornya selesai diperbaiki dan ban nya sudah tidak bocor lagi, Dinda kemudian langsung kembali melajukan motornya itu menuju ke apartemen.
Sepanjang perjalanan, perasaan Dinda sangat tidak enak, apa lagi Dio yang meneleponnya, yang mengatakan kalau Dinda sedang bersama dengan laki-laki lain.
Memang benar saat itu Dinda sedang bersama dengan Mr. Sam, tapi mereka hanya sebatas mengobrol saja, tidak melakukan hal yang berlebihan sama sekali, dan Mr. Sam juga hanya membantu sebagai sesama rekan kerja.
Dinda masih penasaran, dari mana Dio bisa tahu kalau dirinya bersama dengan Mr. Sam tadi saat pulang sekolah.
Tidak mungkin kalau semuanya ini adalah perbuatan Ken lagi, karena sejak kejadian di rumah dokter Dicky, saat perayaan ulang tahun putrinya itu, Ken sudah tidak lagi menampakan diri di hadapan Dinda.
setelah sampai di apartemen, Dinda kemudian langsung memarkirkan motornya itu di parkiran dan dengan terburu-buru dia naik ke atas menuju ke apartemennya.
"Kau sudah pulang Din? Makanlah dulu, Ibu sudah masak opor ayam kesukaanmu!" kata Bu Lilis.
Dinda menganggukkan kepalanya, kemudian dia menaruh tas kerjanya dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan itu, masih kepikiran soal Dio yang kelihatannya sedang marah padanya.
"Ada apa Din? Kok muka kamu Murung begitu? Apa ada masalah di sekolah?" tanya Bu Lilis sambil berjalan mendekati Dinda dan duduk di sebelahnya.
"Tidak Bu, aku hanya lelah saja, mau istirahat saja dulu di kamar ya, nanti saja makannya!" jawab Dinda yang langsung bangkit dan berjalan menuju ke kamar.
Dinda membersihkan dirinya dan berganti pakaian, setelah itu dia mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.
Perlahan Dinda meraih ponselnya, bermaksud menelepon Dio balik, untuk sedikit meluruskan kesalah pahaman.
Beberapa kali menelepon, tidak ada respon dari Dio, akhirnya Dinda menyerah dan memilih untuk tidur.
****
Sentuhan tangan lembut di punggung Dinda mengejutkan Dinda, dia mengerjapkan matanya, Ibunya sudah duduk di sebelahnya sambil tersenyum.
"Ibu? Jam berapa sekarang? Aku ketiduran!" kata Dinda sambil berusaha duduk dari pisisinya.
"Baru juga jam tiga, kau tidur nyenyak sekali, sepertinya ada yang sedang kau pikirkan, insting orang tua itu kuat lho Din!" ucap Bu Lilis.
Dinda terdiam, mau bagaimanapun dia berbohong, Ibunya pasti akan tau isi hatinya yang sesungguhnya.
"Mas Dio Bu, dia salah paham padaku hanya karena melihat aku bersama dengan Mr. Sam, rekan sesama guru, padahal saat itu dia hanya menungguiku saat ban motorku bocor!" ungkap Dinda.
"Salah paham? Kenapa tidak kau jelaskan saja kejadian yang sebenarnya?"
"Dia mana mau dengar aku? Orang langsung tutup telepon begitu saja!" sahut Dinda.
"Hmm, selesaikan masalah kalian, ingat Din, sebentar lagi kau akan menikah dengannya, jangan sampai masalah kecil menghancurkan segalanya!" ucap Bu Lilis.
"Bu, bisakah kita menunda dulu mencari alamat Ayah? Sore ini aku ingin bertemu dengan Mas Dio, supaya tidak berlarut-larut!"
__ADS_1
"Pergilah Nak, besok-besok kan kita bisa mencarinya, yang penting selesaikan dulu masalahmu!" ucap Bu Lilis.
Dinda tersenyum, kemudian dia memeluk Ibunya.
"Trimakasih Bu!"
Tanpa menunggu lama, Dinda kemudian kembali menyambar jaket dan helmnya, bersiap akan pergi ke rumah Dio.
"Makan dulu Din! Sejak pulang tadi kau belum makan apapun!" seru Bu Lilis saat Dinda akan beranjak pergi.
"Nanti saja Bu! Aku belum lapar!" sahut Dinda.
Bu Lilis hanya geleng-geleng kepala melihat Dinda yang pergi begitu saja keluar dari apartemennya, cinta memang bisa menghilangkan rasa lapar.
****
Dinda terus mengendarai motornya menembus keramaian jalan di sore itu.
Braaakk!
Tiba-tiba motor Dinda menabrak mobil yang baru berhenti di depannya, sehingga mobil itu lecet.
Dinda langsung panik, karena sejak tadi pikirannya tidak konsentrasi, hingga tidak memperhatikan jalanan yang padat merayap itu.
Seorang laki-laki turun dari mobilnya yang di tabrak Dinda barusan.
"Jangan panik, mobil lecet bisa di perbaiki, yang penting kau aman dan selamat!" jawab laki-laki itu.
Dinda mendongakan kepalanya, matanya sedikit menguat saat melihat seorang laki-laki setengah baya yang kini ada di hadapannya.
Wajahnya sangat mirip dengan foto yang berikan Ibunya, hanya saja ini versi tuanya.
"Lain kali hati-hati ya mengendarai motor, di keramaian seperti ini sangat berbahaya!" ucap laki-laki itu, entah mengapa ada yang menghangat di dalam hati Dinda.
Kemudian laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobilnya, dan mobil itupun melaju begitu saja meninggalkan Dinda yang masih bengong memandangnya.
"Tunggu!"
Dinda ingin memanggilnya tapi tidak tau siapa namanya.
"Dia ... sangat mirip foto Ayah!" gumam Dinda terpana.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
Ponsel Dinda bergetar, Dinda lalu merogoh ponselnya yang ada di saku jaketnya.
__ADS_1
Kemudian dia langsung mengusap layar ponselnya itu.
"Halo!"
"Halo Bu Dinda? Ini Chika, Bu Dinda kesini dong, Papa lagi ngambek masa tidak mau keluar kamar!" kata Chika yang meneleponnya itu.
"Ngambek kenapa?" tanya Dinda.
"Tidak tau Bu, dari tadi siang, malah Papa belum makan siang, padahal kan sekarang sudah sore, makanya aku telepon Bu Dinda saja!" sahut Chika.
"Ya ampun Chika, benar-benar deh Papa kamu itu, ya sudah, Bu Dinda sudah di jalan nih, tunggu ya!"
"Oke!"
Dinda kemudian langsung kembali mengendarai motornya menuju ke rumah Dio, dan sedikit melupakan kejadian insiden barusan.
Namun Dinda terus memikirkan laki-laki tadi, yang sangat mirip dengan foto Ayahnya, entah mengapa ada kerinduan pada sosok seorang Ayah.
Tak lama kemudian Dinda sudah sampai di rumah Dio.
Setelah memarkirkan motornya, Dinda langsung bergegas masuk.
Ternyata Dio sudah duduk menunggunya di ruang tamu rumahnya.
"Hmm, tumben datang tanpa ku minta?" tanya Dio pura-pura cuek.
"Tidak boleh ya?"
"Kenapa? Apa merasa salah makanya datang ke sini??"
"Mas, tadi di parkiran sekolah ban motorku kempes, Mr. Sam itu hanya membantu menunggui aku, apa itu salah? Aku dan dia hanya mengobrol biasa lho!" jelas Dinda.
"Mulai besok, kau belajar menyetir mobil sendiri, aku tak akan membiarkan naik motor lagi!" sahut Dio.
"Apa? Mobil? Jangan berlebihan deh Mas, hanya masalah Mr. Sam kenapa harus belajar setir mobil segala sih?" sungut Dinda.
"Terserah! Pokoknya aku tak akan membiarkan mu naik motor lagi!" cetus Dio.
"Tapi ngomong-ngomong Mas, tau dari mana kalau aku bertemu dengan Mr. San?" tanya Dinda kepo.
"Aku pasang aplikasi melacak nomor ponsel mu, juga Keberadaanmu di ponselku, tadinya aku pikir aku hanya ingin tahu keadaanmu diluar sana, apakah kau kesusahan atau bagaimana, tapi ternyata aku malah melihatmu ngobrol berdua dengan guru itu!" jawab Dio.
"Ya ampun! Dari aplikasi to, pantas saja!" gumam Dinda sambil menggaruk kepalanya.
Bersambung ....
__ADS_1
*****