Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Putus Asa


__ADS_3

Pak Dirja buru-buru pamit dan langsung kembali pulang ke rumahnya, dia mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya itu.


Di tengah perjalanan dia menepikan mobilnya, berniat akan menelepon Ken, untuk meminta bantuan mencari Keyla.


Pak Dirja menyadari, Keyla saat ini sedang terguncang, banyak hal yang di alaminya, orang yang seharusnya menjadi jodohnya menikah dengan orang lain, yang notabene adalah adiknya sendiri.


Belum lagi dia harus menerima kenyataan bahwa Ayahnya punya anak dari wanita lain selain Ibunya, dan anaknya itu adalah Dinda, yang kini telah menikah dengan Dio.


"Halo Om, ada apa?" tanya Ken dari sebrang telepon.


"Ken, Om minta tolong, cari Keyla, belum pernah dia pergi tanpa seijin Om, Om bingung mau cari dia di mana!" jawab Pak Dirja.


"Baik Om, saya akan cari Mbak Keyla!" jawab Ken.


"Trimakasih Ken!" ucap Pak Dirja yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya.


Pak Dirja menarik nafas lega, paling tidak dia sedikit tenang, sejak Kecil Ken dan Keyla itu bersahabat, karena Pak Dirja dan Orang tua Ken juga adalah rekan bisnis lama.


Pak Dirja selalu mempercayai Ken lebih dari siapapun, karena selama ini, yang dekat dan paling memahami Keyla itu hanya Ken.


Sementara Ken yang baru saja menerima telepon dari Pak Dirja, tanpa menunggu lagi dia segera berjalan ke arah mobilnya dan langsung mengendarai mobilnya untuk mencari Keyla.


Di hari siang bolong seperti ini, tidak mungkin kalau Keyla pergi ke klub malam.


Ken berusaha berpikir kemana Keyla pergi, apalagi pikirannya sedang kusut, Ken khawatir Keyla akan melakukan tindakan yang di luar nalarnya.


Kemudian Ken membuka ponselnya, tadinya dia akan menelepon Keyla, namun tiba-tiba di beranda medsos nya, ada berita tentang percobaan bunuh diri seorang wanita di jembatan layang, dan Ken membulatkan matanya saat melihat siapa wanita itu.


"Mbak Keyla!" pekiknya.


Tanpa menunggu lama, Ken segera melajukan mobilnya cepat menuju ke jembatan layang yang di maksud.


Banyak orang berkerumun di bawah, sambil menarik Keyla.


Mereka semua tidak ada yang berani mendekat, takut Keyla akan berbuat nekat.


Ken menyeruak di antara orang-orang yang berkerumun, tanpa memperdulikan mobilnya yang terparkir begitu saja di pinggir jalan.


"Mbak keyla! Apa yang kamu lakukan! Ayo pulang Mbak! Ayahmu mengkhawatirkanmu!" teriak Ken.


"Mau apa kau datang ke sini Ken?? Kau telah merusak hidupku! Pergi!!" sengit Keyla.


Ken tertegun, dia ingat akan perbuatan bejatnya pada Keyla, dan Ken tiba-tiba merasa sangat bersalah.


"Maafkan aku Mbak! Aku janji akan selalu menjagamu!" teriak Ken.

__ADS_1


Seolah tidak memperdulikan teriakan Ken, Keyla semakin berjalan menepi dan mulai mengangkat kakinya di pembatas jembatan layang itu.


Terdengar teriakan orang-orang untuk mencegah Keyla akan terjun.


Kemudian dengan gerakan sangat cepat, Ken berlari sekencang-kencangnya dan langsung menarik tangan Keyla hingga tubuh Keyla jatuh menimpanya.


"Lepaskan Ken! Kurang ajar!!" sentak Keyla.


"Terserah Mbak Keyla mau caci maki aku sekasar apa! Aku tidak akan melepaskanmu!" seru Ken.


"Dasar bajingan! Binatang! Brengsek!!" teriak Keyla menumpahkan amarahnya.


Ken terus memeluk dan menggendong keyla hingga ke mobilnya. Terdengar suara orang-orang bertepuk tangan, karena misi penyelamatan Ken berhasil.


Setelah Keyla masuk kedalam mobil, tanpa memperdulikan orang-orang yang masih terlihat berkerumun, Ken segera melajukan mobilnya cepat meninggalkan tempat itu.


"Dasar bodoh! Kenapa Mbak keyla melakukan hal sebodoh itu?? Itu hanya akan menambah dosa saja!" sengit Ken sambil mengendarai mobilnya.


"Munafik! Sok suci kamu Ken!!" jerit keyla sambil menangis.


Setelah Ken jauh meninggalkan jembatan layang itu, kemudian dia menghentikan laju kendaraannya.


Ken lalu kembali memeluk keyla yang ambil menangis shock.


"Jangan menangis Mbak, aku janji tidak akan membiarkanmu sendirian menghadapi ini, aku janji!" bisik Ken.


****


Malam ini Dinda dan Dio nampak sedang membereskan pakaian mereka, untuk persiapan bulan madu mereka ke Turki dua hari lagi.


Chika nampak membantu Papa dan Mamanya itu membereskan pakaian dan barang-barang mereka, walaupun Chika tidak ikut mereka bulan madu ke Turki, namun wajah Chika memancarkan kebahagiaan, Karena kini dia sudah memiliki orang tua lengkap yang sangat mengasihi dirinya.


"Pokoknya Papa dan Mama jangan lupa membelikan aku oleh-oleh yang banyak!" kata Chika.


"Kau tenang saja sayang, Papa akan membelikanmu banyak oleh-oleh, memangnya Chika mau apa sih?" tanya Dio.


"Aku mau boneka yang bagus!" sahut Chika.


"Boneka?"


"Iya, boneka, dan aku juga mau di belikan coklat yang banyak, nanti aku akan bagikan ke semua teman sekelas ku!" jawab Chika.


"Siap sayang!" sahut Dio.


"Chika, sudah cukup Nak, dari tadi Chika sudah bantu masukin baju-baju ke dalam koper, sekarang Chika boleh istirahat di kamar ya, besok kan sekolah!" ucap Dinda.

__ADS_1


"Iya deh, aku juga sudah ngantuk!" sahut Chika.


Dinda dan Dio mengecup pipi Chika, kemudian Chika langsung keluar dari kamar itu dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Sudah lengkap Mas, sekarang istirahat dulu deh, kan besok masih ada waktu!" kata Dinda.


"Iya sayang, trimakasih ya!" ucap Dio.


"Trimakasih untuk apa?" tanya Dinda.


"Karena sudah mau jadi istriku dan ibu untuk anakku!" jawab Dio.


"Iya Mas, sama-sama!"


"Oya, setelah nanti kita sampai di Turki, kamu ingin jalan-jalan kemana?" tanya Dio yang mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Itu Mas, aku ingin ke Cappadocia, yang lagi trend itu, naik balon udara!" jawab Dinda.


"Wah, kamu tau tempat itu dari mana?" tanya Dio penasaran.


"Dari film yang lagi viral itu Mas, yang tentang perselingkuhan! Aku sedih deh pas nonton film itu, ngerasain sakitnya di selingkuhin suami!" jawab Dinda.


Dio tertawa mendengar ucapan Dinda.


"Apa kamu pikir, aku tipe laki-laki yang suka berselingkuh?" tanya Dio.


"Ya tidak sih Mas, dan jangan sampe deh, amit-amit!" cetus Dinda.


Dio kemudian mulai membelai wajah Dinda yang kini sudah berbaring di sampingnya.


"Hidup itu pilihan sayang, mau setia atau selingkuh, itu juga pilihan, dan aku memilih untuk setia!" ucap Dio.


Dinda tersenyum, ada semburat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.


"Mas Dio puitis juga!" gumam Dinda.


"Oke, nanti setelah sampai di Turki, aku akan mengajakmu naik balon udara, sesuai keinginanmu, semampuku aku akan berusaha untuk membahagiakanmu!" ucap Dio sambil mengecup jemari tangan Dinda.


Dio perlahan maju dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda, dengan lembut dan perlahan dia mulai mengecup bibir Dinda, mengigitnya sedikit dan merasakan kehangatannya.


"Sudah selesai kan datang bulannya?" tanya Dio dengan tatapan mata yang berkabut gairah.


Dinda menganggukkan kepalanya malu-malu.


Bersambung...

__ADS_1


****


__ADS_2