
Dinda di rawat di ruang perawatan VIP, sejak Dinda di rawat, tidak sedetikpun Dio beranjak dari sisi Dinda.
Beberapa kali Dinda menangis karena shock mendengar kenyataan bahwa di dalam rahimnya terdapat kista, sebelumnya dia sama sekali tidak pernah tau, dia hanya merasakan sakit di dalam setiap kali Dio menggaulinya.
Operasi akan di laksanakan siang hari ini, setelah terlebih dahulu Dinda berpuasa sejak tadi malam.
Ceklek!
Pintu ruangan itu di buka, Chika datang bersama Mbak Yuyun.
Chika langsung menghambur memeluk Dinda.
"Mama! Kenapa Mama di rawat? Apa Mama capek gara-gara aku nakal?" tanya Chika.
"Tidak sayang, ini bukan karena Chika kok!" sahut Dinda sambil membelai rambut Chika.
"Ini gara-gara Papa! Papa yang salah!" timpal Dio tiba-tiba.
"Mas, jangan bilang begitu, Mas Dio tidak salah kok!" tukas Dinda sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya Dio, yang sejak tadi ada di samping Dinda.
"Pak Dio, ini pakaian bersih yang Pak Dio minta, nanti pakaian kotornya biar saya bawa pulang!" kata Mbak Yuyun sambil menyodorkan satu tas pakaian bersih untuk Dinda dan Dio.
"Trimakasih Mbak Yuyun, nanti titip Chika ya, mungkin beberapa hari ke depan aku tidak bisa mengantar jemput Chika, minta tolong sama Bang Ujang!" kata Dio.
"Iya Pak, Oya, tadi pagi Tuan Frans telepon, katanya siangnya ini Tuan dan Nyonya mau datang dari Singapura!" ujar Mbak Yuyun.
"Iya Mbak, semalam aku memang telepon mereka!" sahut Dio.
"Mas Dio bilang ke mereka soal aku?" tanya Dinda.
"Iya sayang!"
"Mas, aku minta, Mas Dio jangan memberitahu Ibuku soal sakit aku ini, aku takut Ibu jadi kepikiran!" ucap Dinda.
"Kenapa? Kenapa Ibumu tidak boleh tau, dia bisa datang dan memberikan semangat buat kamu!" kata Dio.
__ADS_1
"Please Mas, nanti setelah operasi, baru aku sendiri yang akan memberitahukan Ibu!" mohon Dinda.
"Baiklah sayang, aku janji tidak akan memberitahu Ibu!" sahut Dio.
Pintu ruangan tiba-tiba di buka dari luar, Pak Dirja datang dengan membawa satu keranjang buah-buahan.
"Ayah ..."
"Semalam mendengar kabar dari Dio, Ayah sangat khawatir Nak, makanya Ayah langsung datang pagi ini, Ayah berharap operasi siang ini akan berhasil, dan kamu akan normal lagi!" ucap Pak Dirja.
"Trimakasih Ayah ..."
"Ayah jangan khawatir, aku akan selalu berada di sisi Dinda!" ucap Dio.
"Ayah ... apakah Mbak Keyla tau kalau aku di sini?" tanya Dinda.
"Tau, Ayah sudah memberitahu dia, juga Ken suaminya!" jawab Pak Dirja.
Dinda terdiam, walau Keyla adalah kakaknya, namun hubungan Dinda dan Keyla juga belum terlalu baik sampai saat ini, entah mengapa seperti ada jarak yang membentang di antara mereka.
Hari sudah beranjak siang, dua orang perawat kemudian memindahkan Dinda ke ruang operasi, Dio menggenggam tangan Dinda, mengiringi istrinya itu sampai di depan ruang operasi.
"Kamu pasti akan baik-baik saja sayang, satu hal yang harus kamu tau, aku sangat dan sangat mencintai kamu, sangat mencintaimu!" bisik Dio sambil mengecup kening Dinda, sebelum Dinda masuk ke ruang operasi.
Dinda tidak dapat lagi menjawab ucapan Dio, hanya air matanya yang mengalir yang mewakili perasaannya saat ini.
Dengan lembut Dio mengecup kedua mata Dinda yang basah beberapa kali.
"Kau istri yang hebat, yang berhasil membuatku bahagia, berjuanglah demi aku!" ucap Dio.
"Iya Mas, trimakasih... trimakasih telah mencintai aku, maafkan aku ... belum bisa memberikanmu seorang bayi mungil!" isak Dinda.
"Ssst, apapun yang terjadi padamu, tidak akan mengurangi kadar cintaku padamu, percayalah padaku!" ucap Dio.
Tak lama Dinda mulai masuk ke ruang operasi, Dio dengan wajah cemas nya terus berdiri di depan pintu ruang operasi itu tanpa duduk.
__ADS_1
"Dio, wajahmu terlihat lelah, kau duduklah dan istirahatlah, ini Ayah bawa makanan untukmu!" kata Pak Dirja.
"Aku belum lapar Ayah!" sahut Dio.
"Tapi kamu harus makan, apa kata Ayah dan Bunfamu nanti kalau kau tidak mau makan juga, nanti di sangka ya aku tak perduli padamu!" ujar Pak Dirja.
Akhirnya Dio duduk di samping Pak Dirja, Chika yang sejak tadi duduk dengan Mbak Yuyun, langsung berlari melompat ke pangkuan Dio.
"Papa, aku janji deh tidak nakal lagi, asal Mama bisa sembuh!" kata Chika.
"Chika sekarang tidak nakal kok, sejak kenal sama Mama, kita berdoa saja untuk Mama ya, yang penting Mama bisa sembuh dan bersama kita lagi!" ucap Dio sambil terus memeluk Chika.
"Chika, sini kakek pangku, biar Papa makan dulu!" kata Pak Dirja yang menyodorkan satu kotak nasi padang pada Dio.
Chika menganggukan kepalanya dan berpindah ke pangkuan Pak Dirja.
Sementara Dio mulai menyantap makanannya, sejak kemarin bahkan dia belum makan.
Dari ujung koridor rumah sakit, muncullah Pak Frans dan Bu Lian dengan langkah tergopoh-gopoh, mereka langsung berjalan menghampiri Dio.
"Dio, apa yang terjadi? Sebenarnya apa yang di alami oleh istrimu itu?" tanya Bu Lian beruntun.
"Ada kista di rahim Dinda Bun, tapi tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja!" jawab Dio.
"Kalian tidak mendengar saran Bunda sih, waktu itu kan Bunda sudah bilang, periksa ke dokter! Jadi kan tau keadaan diri sendiri!" ujar Bu Lian.
"Sudah Bun! Jangan menyalahkan mereka, saat ini mantu kita sedang ada di ruang operasi, seharusnya kita mendoakannya, jangan malah menyalahkannya!" sergah Pak Frans.
Bu Lian terdiam, kemudian dia langsung duduk di samping Dio.
Setelah selesai makan, Dio kemudian berdiri dan berjalan gontai ke arah taman yang tidak jauh dari situ.
Dio kemudian duduk di bangku taman itu, sengaja menjauhkan diri dari keramaian, untuk sedikit menenangkan pikirannya.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya, kemudian dia langsung mendekat ke arah sesuatu, yang membuat dia punya kekuatan untuk bangkit dari duduknya itu.
__ADS_1
Bersambung ...
****