
Pagi itu, Dio dan Dinda sudah siap berangkat ke Bandara, di antar oleh Pak Ujang, Pak Frans, Bu Lian dan Chika.
Sepanjang perjalan menuju ke Bandara, wajah Chika terlihat mendung.
Ini adalah pertama kalinya Papanya pergi jauh meninggalkannya, walaupun hanya satu minggu untuk berbulan madu.
"Chika, besok Oma akan ajak Chika jalan-jalan ke wahana air yang Chika suka, nanti Chika bisa berenang sepuasnya di sana!" kata Bu Lian mencoba menghibur cucunya.
"Opa juga akan mengajak Chika jalan-jalan ke mall, Chika boleh minta apa saja yang Chika mau!" timpal Pak Frans.
"Tuh Nak, dengar, Opa dan Oma sayang lho sama Chika, kenapa hari ini Chika sedih?" tanya Dio sambil mebelai rambut putrinya itu.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di Bandara.
Chika sejak tadi hanya diam saja, tidak menjawab tawaran Opa dan Omanya.
"Chika, Papa dan Mama hanya pergi sebentar, Chika jangan sedih!" ucap Dinda yang kini menggandeng tangan Chika setelah mereka turun dari mobil.
"Sini Papa gendong Chika, duh, anak cantik jangan sedih dong, Papa dan Mama kan mau membuat adik untuk Chika!" bisik Dio sambil menggendong Chika.
Pada saat mereka sampai di dalam, dan penerbangan sebentar lagi. Tiba-tiba Chika menangis keras.
"Huuuaaa, Papa! Aku sedih Papa pergi, aku belum pernah di tinggal Papa aku pasti kangen sama Papa!!" tangis Chika di pelukan Dio.
Bu Lian mencoba untuk mengambil chika dari gendongan Dio.
"Sayang, jangan seperti ini, tuh lihat, malu lho di lihat orang, ayo sini sama Oma!" kata Bu Lian.
"Biarkan sebentar lagi Bunda, Chika memang selama ini selalu bersamaku, wajar kalau dia merasa kehilangan!" ucap Dio yang kini memeluk Chika dengan erat.
Ada yang sesak di dalam dada Dinda, dia jadi merasa seolah-olah dia telah merebut Dio dari Chika.
Benar kata orang, cinta Pertama seorang anak perempuan adalah papanya, dan itu sekarang di alami oleh Chika.
Dulu Chika kurang kasih sayang ibu, makanya dia terbiasa dengan Papanya yang single parent, tapi kini, hanya karena Papanya menikah dan bulan madu, Chika jadi merasa kehilangan segalanya.
"Papa, kalau aku kangen bagaimana?" tanya Chika sambil teriak.
"Nanti setelah sampai, Papa langsung telepon Chika!" jawab Dio.
"Janji ya!"
"Iya, Papa janji sayang!"
Chika kemudian turun dari gendongan Dio, dan dia menatap ke arah Dinda.
__ADS_1
"Mama jagain Papa ya, dan trimakasih karena Mama sudah buat Papa tidak suka mabuk lagi!" kata Chika.
"Iya Nak, Mama akan jagain Papa, Chika tenang saja!" jawab Dinda.
Hingga Dio dan Dinda sudah naik ke dalam pesawat, Chika masih belum mau beranjak.
Pak Frans dan Bu Lian lalu berusaha untuk membujuk Chika agar mau kembali pulang ke rumah.
Pesawat yang di tumpangi oleh Dinda dan Dio mulai bergerak perlahan.
"Mas ..."
"Iya sayang?"
"Selama ini, kau selalu bersama dengan Chika, aku jadi merasa bersalah!" ucap Dinda.
"Kenapa kamu merasa bersalah, wajar kita baru menikah kemudian bulan madu, Chika itu hanya tidak terbiasa di tinggal jauh saja!" jawab Dio.
"Aku bisa mebayangkan, tidak mudah kau menjadi Papa single, apalagi dulu sendirian merawat Chika!" gumam Dinda.
"Ya, apalagi dulu Chika sangat nakal dan bermasalah di sekolah, aku hampir putus asa, untung saja Chika menemukanmu!" ucap Dio.
Dio menggenggam hangat tangan Dinda yang dingin.
"Trimakasih Mas!"
"Aku yang trimakasih padamu, kehadiranmu memberikan warna dalam hidupku!"
"Aku yang banyak terimakasih padamu Mas, dulu aku sempat tidak mau menikah, karena kegagalan yang pertama, tapi ternyata kau berbeda, aku jadi lebih percaya diri!" kata Dinda.
Dio lalu merengkuh Dinda, mengecup kening dan bibir Dinda dengan lembut.
"I Love you so much!" bisik Dio.
"Love you too, more and more!"
"Jangan bergerak, aku ingin tetap seperti ini, memelukmu terus!" ucap Dio.
"Malu Mas, banyak orang yang melihat ke arah kita!" tukas Dinda.
"Biarkan saja, mereka semua kan cuma ngontrak, hanya kita berdua pemilik dunia ini!" bisik Dio yang terus memeluk Dinda dengan erat.
****
Ting ... Tong ...
__ADS_1
Suara bel berbunyi dari arah gerbang rumah Pak Dirja.
Bi Titi yang tadi ada di luar lalu mendekati Pak Dirja yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Siapa yang datang Bi?" tanya Pak Dirja.
"Itu Pak, Mas Ken yang datang!" jawab Bi Titi.
Ken nampak berjalan dari arah luar mendekati Pak Dirja.
"Duduklah Ken, belakangan ini aku lihat kau jarang bersama dengan Keyla, padahal dulu kalian begitu akrab!" kata Pak Dirja.
Ken lalu duduk di hadapan Pak Dirja.
"Mbak Keyla ada Om?" tanya Ken.
"Ada di kamarnya, Om juga heran, belakangan ini dia sering mengurung diri di kamar, ada apa sih Ken?"
Ken terdiam mendengar pertanyaan Pak Dirja, ada rasa bersalah yang terus saja menghantuinya, hingga dia tidak bisa tidur.
"Memangnya Mbak Keyla tidak cerita apa-apa Om?" tanya Ken.
"Tidak, yang Om tau, dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau Dinda adalah adik tirinya, tapi sepertinya ada hal lain yang membuatnya begitu depresi, tapi Om tidak tau apa itu!" jawab Pak Dirja.
"Om, kalau misalnya ... aku melamar Mbak Keyla, bagaimana menurut Om?" tanya Ken tiba-tiba.
Pak Dirja terkesima, namun dia langsung tertawa kemudian.
"Kau jangan bercanda Ken! Om tau bagaimana tabiatmu, apalagi perlakuanmu terhadap wanita, dulu kau pernah dengan teganya membatalkan pernikahan Dinda, sekarang kau tau, Ayah Dinda adalah aku! Kau pasti sangat menyesal!" sahut Pak Dirja.
"Aku dan Dinda, mungkin memang tidak berjodoh, mau bagaimana lagi? Tapi aku senang kalau akhirnya dia bahagia juga!" ungkap Ken.
"Bagus! Aku malah senang kau tidak jadi menikahi Dinda, tapi jangan coba-coba kau melamar Keyla, Aku tentu tidak akan setuju!" cetus Pak Dirja.
"Memangnya kenapa Om??"
"Mana mungkin Om memberikan putri Om dengan lelaki bajingan sepertimu, cukuplah kau hanya berteman dengan Keyla, sudahlah, jangan melantur!" tukas Pak Dirja.
"Om, tapi saya serius terhadap Keyla, mungkin Keyla adalah pelabuhan terakhir saya Om!" ucap Ken.
Pak Dirja hanya menatap Ken dengan tatapan tidak suka.
Bersambung...
*****
__ADS_1