Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Nasib Keyla


__ADS_3

Matahari pagi sudah nampak bersinar, cahayanya menembus dari jendela balkon kamar Dio.


Dinda masih berada di dalam pelukan Dio, entah mengapa sejak malam tadi, Dio tidak sedikitpun melepaskan pelukannya.


Jika Dinda bergerak sedikit, Dio pasti akan semakin mengeratkan pelukannya, seolah takut kalau Dinda akan pergi jauh darinya.


Dinda mengerjapkan matanya, dia bisa merasakan suara jembatan nafas Dio, juga jantung yang berdetak di dada Dio, karena kepala Dinda tepat berada di dada Dio.


Dinda mencoba menguraikan pelukan Dio, karena di rasakannya ada yang basah dan lengket di tubuhnya.


Perlahan Dinda berhasil juga melepaskan pelukan Dio, dia menghirup udara sebanyak-banyaknya, rasanya begitu sesak berada dalam dekapan Dio semalaman.


Tiba-tiba matanya tertuju pada selimut dan pakaiannya yang basah, ada cairan kental yang membasahi pakaian dan selimut yang mereka pakai.


Dio juga berbaring hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya, dan ada suatu benda yang tersembul keluar, membuat mata Dinda melotot.


"Ya Tuhan, besar sekali senjata milik Mas Dio!" gumam Dinda.


Dia ingin sedikit menyentuh ujungnya, tapi mengurungkan niatnya karena takut dan malu kalau Dio terbangun.


"Mas!"


Dinda mengguncang tubuh Dio, bermaksud membangunkannya.


Dio nampak mengerjapkan matanya, dan kini terbuka sempurna saat melihat Dinda yang sudah duduk di hadapannya.


"Good morning Sayang, pagi-pagi kamu sudah mengejutkan saja!" ucap Dio.


"Itu apa Mas?" tanya Dinda sambil menunjuk selimut dan pakaiannya yang terkena noda cairan putih kental dan berbau khas.


"Oh, ini adalah benih ku sayang, calon anak kita yang keluar dengan sendirinya karena sudah penuh di dalam!" jawab Dio.


"Jorok!" sungut Dinda sambil memalingkan wajahnya.


"Lho, kok jorok, semua laki-laki memang begitu sayang, seharusnya ini berada dalam rahim kamu, tapi kan kamu lagi datang bulan!" sahut Dio.


"Maafkan aku ya Mas!" ucap Dinda menunduk.

__ADS_1


Dinda jadi merasa bersalah pada Dio, seharusnya semalam itu Dinda mempersembahkan surganya untuk Dio, namun karena Dia sedang datang bulan, Dio terpaksa menahan hasratnya agar tidak tumpah, walaupun akhirnya tumpah juga di selimut dan pakaiannya.


"Sudahlah, kamu jangan merasa bersalah begitu, toh nanti juga aku bisa menunaikan kewajiban yang satu itu, sekarang yuk kita mandi bareng!" ajak Dio yang langsung bangkit bari tidurnya.


"Mandi bareng?"


"Iya lah, kita kan sudah suami istri, wajar dong!" sahut Dio.


"Tapi Mas, nanti kamu pengen gimana? Lagian aku malu lagi datang bulan begini!" tanya Dinda.


"Ya aku janji deh, tahan hasrat, yang penting kita mandi bareng, yah kalau nanti aku keluar lagi, ya nggak apa-apa kan?" bujuk Dio.


Akhirnya Dinda menganggukan kepalanya, dia tidak ingin mengecewakan keinginan suaminya ini.


Dengan antusias, Dio kembali menggendong Dinda ke kamar mandi.


"Lepas Mas! Jangan pakai gendong-gendong juga kali! Memangnya aku anak kecil!!" teriak Dinda.


Dio langsung kembali melucuti seluruh pakaian Dinda tanpa memperdulikan teriakan Dinda.


****


"Aaarrgghh!!"


Keyla menjerit histeris saat melihat darah yang menempel di selimut yang dia kenakan.


Sementara di sebelahnya, Ken nampak masih tertidur pulas dengan tubuh yang juga polos dan hanya di tutupi oleh selimut saja.


Keyla lalu langsung memukul tu ih Ken, hingga laki-laki itu terbangun karena kaget.


"Ken!! Apa yang sudah kau perbuat padaku?? Jawab Ken!!" sengit Keyla sambil memukul tubuh Ken dengan bantal.


"Sabar Mbak! Aku ... aku minta maaf, semalam itu waktu Mbak Key mabuk aku khilaf Mbak! Maafkan aku!" ucap Ken sambil berusaha untuk memeluk Keyla, namun dengan kasar Keyla menepiskan tangan Ken.


"Kurang ajar kau Ken! Brengsek!! Bajingan!! Binatang!!" maki Keyla sambil menangis keras.


Ken membiarkan saja tubuhnya di pukul dan dirinya di caci maki oleh Keyla.

__ADS_1


Keyla menangis tersedu-sedu sambil memeluk gulingnya, hatinya sangat hancur saat ini.


Walaupun Keyla nampak buruk dan arogan, namun selama ini dia selalu berusaha menjaga kesuciannya, dia akan memberikannya pada orang yang benar-benar dia cintai.


Namun hari ini, dunia seolah hancur, hanya karena seorang Ken, laki-laki yang bahkan sudah Keyla anggap sebagai adik sendiri.


Ken yang merasa bersalah kemudian beringsut mendekati Keyla.


"Maafkan aku Mbak, maafkan aku, aku akan bertanggung jawab, aku sayang sama Mbak Keyla!" ucap Ken dengan suara sedikit bergetar.


Selama ini Ken selalu memandang enteng pada setiap wanita yang di tidurinya, namun terhadap Keyla, Ken sungguh merasa sangat bersalah.


"Sudah terlambat kau minta maaf Ken! Kau benar-benar sudah merusak hidupku! Aku benci kamu Ken!!"


Keyla kembali memukul-mukul tubuh Ken sambil menangis, Ken lalu dengan cepat menangkap tubuh Keyla dan memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku Mbak, aku janji, ini yang terakhir, aku akan menikahimu, berikan aku kesempatan untuk menjadi lebih baik, bertanggung jawab padamu!" ucap Ken.


"Aku tau siapa kamu Ken, Dinda saja bisa dengan mudahnya kau campakkan, apalagi aku!! Dan kau sudah merusak apa yang aku jaga selama ini!! Aku benci kamu Ken!!" sengit Keyla.


"Ya aku tau Mbak, selera Mbak Keyla bukan aku, Mbak Keyla seleranya Dokter Dicky, Dio, laki-laki mapan dan dewasa juga berkelas, sedangkan aku?? Hanya laki-laki bajingan yang suka mengumbar hawa nafsu pada banyak wanita, tapi apa aku tidak boleh punya kesempatan untuk berubah??" tanya Ken dengan suara tinggi.


Keyla terdiam sabil mengusap kasar wajahnya yang basah.


"Sekarang antar aku pulang ke rumah Ken! Dan please, jangan lagi kau datang padaku, aku muak melihat wajahmu!" ujar Keyla.


"Baik!"


Ken bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan berpakaian, setelah itu dia bersiapengantar Keyla pulang.


Keyla yang dengan cepat berpakaian langsung mengambil tasnya dan berjalan lebih dulu keluar dari kamar hotel itu, saat ini hatinya sedang hancur dan dia sangat membenci Ken, juga tidak ingin melihatnya lagi.


Semakin melihat Ken hatinya semakin hancur.


Bersambung....


****

__ADS_1


__ADS_2