Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Berita Di Pagi Hari


__ADS_3

Pagi itu keluarga Dio sedang terlibat sarapan pagi bersama di meja makan besar bersama dengan Pak Frans dan Bu Lian, yang sejak kemarin sudah datang.


Baru pagi ini mereka berkumpul bersama dan berbincang, karena kemarin itu mereka semua sangat lelah akibat perjalanan panjang yang mereka tempuh.


"Dio, Dinda, Bunda sangat bahagia deh, akhirnya impian Bunda terkabul, sekarang Dinda sudah hamil dan Sebentar lagi bunda akan punya cucu, dan Chika akan mempunyai adik!" ucap Bu Lian dengan mata berbinar.


"Benar Nak, sejak di Singapura, Bundamu itu tidak henti-henti selalu mengajak kemari, katanya dia ingin menemani saat Dinda hamil sampai melahirkan, padahal kan biasanya wanita hamil di awal, selalu saja rewel, ya mual lah, ya pusing lah Ingin ini, ingin itu!" lanjut Pak Frans.


"Sekarang Bunda boleh di sini untuk menemani istriku di saat kehamilannya, aku malah senang kalau ayah dan bunda mau tinggal di sini lebih lama, karena kami membutuhkan kalian, sebagai calon orang tua, Meskipun aku sudah punya Chika, tapi rasanya aku memang harus banyak belajar untuk mendampingi orang hamil!" ucap Dio.


Pak Frans dan Bu Lian tertawa mendengar ucapan Dio yang dirasa begitu polos, mereka baru melihat ada pancaran kebahagiaan di wajah putranya itu.


Padahal dulu ketika Dio menikah dengan Ranti, dan pada saat Ranti hamil, Dio tidak pernah sampai se antusias seperti sekarang ini, meskipun Dio melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan sebagai seorang ayah.


Pak Frans dan Bu Lian menyadari, bahwa ada hal yang membuat orang bahagia, itu adalah perasaan cinta yang tumbuh dari dalam hati, bukan hanya sesuatu yang di luar, apalagi sesuatu yang dipaksakan.


Ketika mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba mata Dio tertuju pada televisi yang ada di ruang makan itu, yang menayangkan sebuah tragedi kebakaran di salah satu rumah, yang menewaskan seluruh anggota keluarga, mata Dio melotot saat melihat rumah siapa yang kebakaran itu.


"Ya Tuhan! Itu rumah yang kemarin aku kunjungi! Itu rumah keluarga almarhumah Ranti! kenapa bisa terjadi kebakaran seperti itu?!" pekik Dio sambil matanya menatap tajam ke arah televisi.


Pak Frans dan Bu Lian juga nampak terkejut melihat berita yang ada di televisi itu.


"Dio, itu kan rumah keluarganya Ranti? Kenapa Apa bisa terjadi kebakaran di subuh hari seperti itu ya? sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Pak Frans bingung.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu ayah! Pada saat aku berkunjung ke sana, ban mobil yang aku sewa kempes, mau tidak mau aku terpaksa menginap di rumah mereka, Tapi entah mengapa perasaanku waktu itu tidak enak, seperti ada hawa negatif, sehingga membuat aku berpikir bagaimana caranya supaya aku bisa keluar dari tempat itu, ternyata Tuhan memang masih sayang aku dan Chika, kalau tidak, mungkin kami sudah jadi salah satu korban kebakaran itu!" ungkap Dio.


Melalui berita di televisi itu, di jelaskan bahwa pada jam 3 dini hari, telah terjadi kebakaran di rumah orang tua dan keluarga almarhumah Ranti, menurut berita yang mereka dengar, penyebabnya adalah telah terjadi konsleting listrik, di saat semua penghuni rumah itu sedang tertidur pulas.


Dan dan yang lebih tragis lagi adalah, semua anggota keluarga di dalam rumah itu tewas terbakar api.


Dinda bergidik ngeri, dia tidak bisa membayangkan jikalau Dio dan Chika, pada saat itu jadi bermalam di rumah itu, pastinya dia akan menjadi korban kebakaran itu, tapi untungnya nasib baik masih berpihak pada suami dan anak sambungnya itu, sehingga pagi ini dia masih bisa menikmati sarapan bersama.


"Kasihan keluarga itu, mungkin sejak dulu keluarga itu adalah keluarga yang kurang kasih sayang, bahkan mereka rela melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, kini satu-satunya orang yang masih tertinggal adalah Ratih, yang kini mendekam di penjara!" ungkap Dio.


****


Sementara itu di tempat kediaman Pak Dirja, Ken sudah nampak rapi dengan memakai pakaian formalnya, memakai dasi dan jas, hari ini dia akan pergi ke kantornya.


Berada di rumah terus membuat Keyla menjadi bosan, Itulah sebabnya pagi ini Keyla berniat untuk ikut mendampingi Ken pergi ke kantornya.


"Apa kamu tidak merasa lelah key? Ken itu kan seharian lho di kantor, nanti kamu bisa bosan disana!" kata Pak Dirja.


"Tidak apa-apa Ayah, sekali-kali, lagipula kata Ken di ruangannya itu ada sofa yang empuk dan tempatnya cukup nyaman untuk beristirahat, Pokoknya Ayah jangan khawatir deh!" sahut Keyla.


"Tapi kamu harus tetap hati-hati juga Key, jaga kandunganmu baik-baik Jangan terlalu lelah juga, jangan lupa makan yang cukup dan teratur!" Timpal Bu Lilis.


"Iya Bu, Jangan khawatir, pokoknya beres deh, selama masih ada Papinya di dekatnya, Bayiku ini pasti akan baik-baik saja!" jawab Keyla.

__ADS_1


Pak Dirja dan Bu Lilis saling berpandangan sambil tersenyum, mereka gembira karena kini Keyla sudah mulai berubah, Keyla sudah sedikit demi sedikit meninggalkan sifat yang egois dan mau menang sendiri, Ken sedikit banyak telah merubah kehidupan Keyla menjadi lebih baik, dan kini Keyla menyadari bahwa bayi yang ada dalam kandungannya itu begitu penting.


Setelah sarapan, Kemudian Ken dan Keyla berpamitan pada Pak Dirja dan Bu Lilis. Mereka kemudian langsung naik ke mobil dan berangkat menuju ke kantornya Ken.


"Ken, nanti di sana kamu jangan sering-sering tinggalin aku ya! Awas aja nanti kalau aku ditinggal sendirian di ruangan kamu!" kata keyla.


"Iya Mami keyla, pokoknya khusus hari ini aku akan atur jadwalku, tidak ada meeting meeting ataupun pertemuan dengan klien, Hari ini aku khusus bersamamu di ruanganku aku hanya akan memeriksa dokumen dokumen dan berkas-berkas penting saja!" ucap Ken.


Keyla tersenyum senang, kemudian sekitar 30 menit kemudian mereka sudah sampai di kantornya Ken.


Kantor itu tidak terlalu besar hanya ada 4 lantai, Ken merintisnya dari nol hingga kini perusahaannya semakin berkembang.


Dalam hati Keyla cukup mengagumi kegigihan suaminya itu, sejak menikah dengan Keyla, Ken bahkan sudah tidak pernah lagi mabuk-mabukan dan bersenang-senang di klub malam seperti dulu.


Dia meninggalkan wanita-wanitanya yang dulu setiap hari terus mengelilinginya, kini Ken hanya fokus pada satu pandangan saja terhadap Keyla Ibu dari calon anaknya itu.


"Ken, mulai sekarang kamu jangan panggil aku mbak mbak lagi ya, aku malu tahu kalau orang lain dengar, masa istrinya sendiri dipanggil mbak!" kata keyla sedikit tersipu.


Ken tersenyum kemudian menggenggam tangan Keyla dengan hangat.


"Iya sayang, aku juga tidak mau memanggil kamu mbak-mbak lagi, Kamu itu bukan Mbakku, Kamu adalah istriku, Mami dari calon anakku! Mulai hari ini aku akan memanggilmu sayang atau Mami keyla, istri kesayangan Ken!" ucap Ken sambil tersenyum.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2