
Hujan masih turun sejak sore tadi, kediaman Pak Dirja sudah terlihat sepi.
Para tamu undangan sudah pulang ke tempat mereka masing-masing, Pak Dirja karena lelah juga sudah nampak masuk ke dalam kamarnya.
Beberapa orang nampak sedang membersihkan ruangan, juga menurunkan janur kuning dan semua dekorasi pesta.
Ini pertama kalinya, di kamar Keyla, berhiaskan dekorasi kamar pengantin yang indah, dengan aneka bunga yang harum semerbak, menambah keromnatisan suasana malam itu.
Tapi tidak di atas diri Keyla, dia hanya duduk di tepi ranjangnya, sesekali dia mengusap air matanya yang berjatuhan.
Baginya, ini adalah malam terburuknya, selama ini dia mendambakan, akan melakukan malam pertamanya dengan laki-laki impiannya, namun kini semuanya kandas begitu saja.
Ceklek!
Ken nampak sudah keluar dari kamar mandi, sudah dengan berganti pakaian, rambutnya basah, tercium aroma sabun mandi yang memenuhi ruangan kamar itu.
"Mbak, sekarang giliran mbak Keyla, silahkan kalau mau mandi, air di bathtub sudah aku ganti, airnya hangat dan bersih!" kata Ken.
Tanpa bicara lagi, Keyla segera berdiri dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi, melucuti semua pakaiannya dan dia kembali menangis.
Sekitar 20 menit berada di kamar mandi, akhirnya Keyla keluar, dia langsung membaringkan tubuhnya dan membelakangi Ken yang masih duduk di tepi tempat tidur itu.
"Jangan harap malam ini aku memberikan tubuhku padamu, lebih baik kau tidur di sofa sudut sana, aku juga ngantuk, mau tidur!" ujar Keyla.
"Iya Mbak, tanpa seijinmu, aku tidak akan menyentuhmu!" sahut Ken.
"Dasar munafik! Waktu itu kau dengan enaknya memperdayai aku, sekarang jadi sok suci!" umpat Keyla.
"Aku sudah bilang, waktu itu aku khilaf Mbak!" tukas Ken.
"Pernikahan ini adalah mimpi terburukku, setelah bayi ini lahir, kita bercerai saja!" cetus Keyla.
"Apa Mbak Keyla tega sama bayi kita? Dia tidak akan punya keluarga utuh, kenapa kita tidak bisa belajar saling menerima!" kata Ken.
"Pokoknya, suami istri itu hanya status, aku tidak ingin kamu menganggapku sebagai istrimu betulan, kau paham Ken? Pernikahan ini terjadi hanya untuk menutup aib saja!" tegas Keyla.
"Baiklah, sekarang Mbak Keyla istirahat saja, aku juga akan istirahat di sofa!" ucap Ken.
Laki-laki itu segera beranjak dan langsung berbaring di sofa yang ada di sudut kamar itu.
Hamparan bunga mawar dan melati yang bertaburan sudah tak ada lagi artinya, semuanya sudah dingin dan beku, tidak ada kehangatan cinta dari pasangan yang baru menikah ini.
__ADS_1
"Nanti kalau bayi itu lahir, siapa yang akan merawatnya?" tanya Ken.
"Aku tidak tau, kita lihat saja nanti!"
"Kalau Mbak Keyla tidak mau mengurus nya, aku bersedia mengurus bayi kita!" ucap Ken.
"Hmm, mana sempat kamu ngurus bayi, kerjaannya tiap hari tidak jelas, selalu keluar masuk klub dan hotel!" cetus Keyla.
"Asal Mbak Keyla tau, sejak kejadian malam itu, aku tidak pernah lagi menginjakan kakiku di klub malam, apalagi di hotel!"
"Bohong!"
"Demi Tuhan Mbak, sejak saat itu aku sadar, aku tidak mungkin terus berpetualang mencari sesuatu yang tidak jelas, aku sadar akan rasa tanggung jawab itu, itulah sebabnya, saat itu aku sangat ingin menikahimu, selain untuk menebus rasa bersalah, aku juga ingin belajar dewasa dan bertanggung jawab!" ungkap Ken.
Keyla kemudian langsung membalikan tubuhnya dan menatap Ken yang masih berbaring di sofa.
"Dewasa?? Bagiku laki-laki dewasa itu hanya Dicky dan Dio! Bukan kamu!" sengit Keyla.
"Tapi mereka semua sudah punya istri dan anak, Mbak Keyla mau berharap apa lagi??" balas Ken.
Keyla terdiam, dia sadar kalau laki-laki yang menjadi impiannya, kini sudah tidak mungkin lagi di gapainya.
Dia harus belajar ikhlas menerima takdir yang kini ada di hadapannya.
Ken yang melihat Keyla menangis, langsung bangun dan melangkah mendekati keyla, lalu mengusap rambutnya.
"Jangan menangis Mbak, berikan aku kesempatan untuk berubah menjadi laki-laki dewasa sesuai dengan impian Mbak Keyla!" ucap Ken.
"Mana mungkin, umurmu saja jauh di bawahku, mana mungkin kamu bisa menjadi seperti mereka!" isak Keyla.
"Kedewasaan seseorang bukan di ukur dari umurnya Mbak, kita sama-sama belajar, menjadi pribadi yang lebih baik, apalagi, sebentar lagi kita akan menjadi urang tua!" bisik Ken sambil mencoba untuk memeluk Keyla.
Mulanya Keyla terhanyut dan merebahkan kepalanya di dada Ken, namun tiba-tiba Keyla tersadar dan reflek mendorong tubuh Ken ke belakang.
"Jangan modus! Kembalilah tidur di sofa, aku ngantuk!" sergah Keyla yang kembali menghempaskan tubuhnya di tempat tidur ya itu.
"Modus kalau sudah suami istri tidak apa-apa tau! Hmm, malam pertama yang menyedihkan!" sungut Ken.
****
Malam itu di tempat kediaman Dio, Dinda baru saja membuatkan ramuan jamu di sebuah gelas, dia akan memberikan ramuan itu pada Dio suaminya sebelum tidur.
__ADS_1
"Mas, ini ada minuman kesehatan, minumlah!" kata Dinda yang langsung menyodorkan minuman yang berbau khas itu.
"Apa ini? Baunya tidak enak, mirip kayak param kocok!" tukas Dio sambil menutup hidungnya.
"Mas, minumlah, ramuan ini di berikan oleh Mbak Fitri untuk kita!"
"Mbak Fitri??"
"Iya Mas, katanya ini bisa menyuburkan benih dan kandungan aku!" jelas Dinda.
"Oya? Baiklah, sini aku minum!"
Dengan menahan nafasnya, karena Dio sungguh tidak suka minuman itu, dia meneguk sampai habis tak tersisa, demi menyenangkan hati istrinya.
Rasanya perut Dio mual ingin muntah, namun dia berusaha untuk menahannya.
Setelah Dio minum, Dinda juga minum ramuan jamu itu, berharap kalau dia bisa segera hamil dan memiliki momongan.
Selang beberapa jam meminum ramuan itu, tubuh keduanya tiba-tiba berkeringat, jantung mereka berdebar dan mereka mulai merasakan sesuatu yang berbeda di tubuh mereka.
"Din, efek minuman tadi apa ya? Kok tubuhku jadi aneh dan juniorku tiba-tiba menegang dengan cepat??" tanya Dio bingung.
"Aku juga tidak tau Mas, tiba-tiba aku juga merasa ada yang berdenyut di bawah sana, aku bingung kok bisa begini!" jawab Dinda dengan nafas terengah-engah.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
Tiba-tiba ponsel Dinda bergetar, Dinda langsung meraih ponselnya, ada telepon dari Fitri.
Dengan cepat Dinda mengusap layar ponselnya itu.
"Halo, Mbak Fitri!"
"Din, aku minta maaf, ramuan obat untuk kalian ketinggalan di rumah, tadi aku salah kasih, itu bukan obat penyubur kandungan, tapi ..."
"Tapi apa Mbak?" tanya Dinda cepat.
"Itu ramuan obat dari kampung Ibuku, fungsinya seperti obat perangsang gitu deh, supaya pasangan suami istri makin Hot di ranjang, tadinya aku mau kasih jamu itu untuk keyla!" jawab Fitri.
"Apa??" Dinda langsung membulatkan matanya.
Bersambung...
__ADS_1
****