
Ken sudah mulai dipindahkan ke ruangan khusus perawatan, dia tidak lagi berada di ruangan ICU meskipun Ken masih belum sadar, namun kondisi tubuhnya sudah mulai stabil dan bisa merespon obat-obatan yang diberikan dengan baik.
Sampai detik ini, Keyla juga selalu berada di sisi Ken, memberikannya dukungan walau hanya dengan sebuah sentuhan, namun Keyla yakin, bahwa energi yang diberikan melalui sentuhan, bisa membawa Aura yang positif sehingga Ken tetap bisa bertahan hidup.
Ceklek!
Dio masuk ke dalam ruangan perawatan itu di temani oleh Pak Dirja.
Mereka kemudian berjalan menghampiri Ken yang masih berbaring di ranjangnya.
"Keyla, tadi Dio membawakan makanan, kamu makanlah Key, jangan terus berada di samping Ken, dia akan baik-baik saja!" kata Pak Dirja.
"Iya Ayah!"
"Aku berhutang banyak pada Ken, karena dia anakku Chika selamat!" ucap Dio.
Tiba-tiba Keyla melihat jemari Ken sedikit bergerak, matanya membulat dia terperanjat kaget, jari itu terus bergerak-gerak perlahan.
"Ayah, Lihatlah! ken sudah mulai bergerak Ayah! jari-jarinya sudah bergerak!" seru keyla senang.
"Oh ya? Ini adalah suatu kemajuan! Nak Dio, tolong panggilkan dokter!" kata Pak Dirja sambil beringsut mendekati Ken dan mencoba untuk memegang jari-jari tangannya memberikan rangsangan supaya bisa lebih bergerak lagi.
Dio menganggukkan kepalanya, setelah itu dia bergegas keluar dari ruangan itu untuk memanggilkan dokter.
Tak lama kemudian dokter dan Seorang perawat masuk ke dalam dan ternyata dokter yang datang itu adalah dokter Dicky, kebetulan dokter Dicky sedang berada tidak jauh dari ruangan itu, tanpa menunggu lama, Dio langsung memanggil dokter Dicky untuk melihat keadaan Ken di dalam ruangan.
Keyla sedikit terkejut pada saat melihat dokter Dicky, masuk kedalam ruangan itu dan langsung bergegas memeriksakan kondisi Ken suaminya.
"Syukurlah, dia sudah mulai merespon, sepertinya tak lama lagi dia akan sadar!" kata dokter Dicky.
"Benarkah? Wah, aku senang sekali, kalau memang benar dia akan bisa segera sadar!" ucap Keyla dengan wajah berbinar.
Dokter Dicky memandang heran ke arah Keyla, yang dia tahu dulu Keyla memang akrab dengan Ken sepupunya itu, mereka sebagai sahabat tapi sepertinya saat ini ini persahabatan mereka menjadi satu hubungan yang spesial.
Meskipun dokter Dicky tahu kalau mereka memang sudah menikah, Namun sepertinya di antara mereka sudah ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh yang tanpa mereka sadari, meskipun tak terucap oleh mulut tapi, tidak dibohongi oleh tatapan mata.
__ADS_1
Ken nampak mengerjapkan matanya, sepertinya dia memang sudah sadar, selama beberapa waktu lamanya ini belum bisa sadar-sadar juga.
"Ken! kau sudah sadar ken! Ayo bukalah matamu!" ucap Keyla sambil menggenggam hangat jemari tangan Ken.
"Sabar Keyla, pelan-pelan Ken juga pasti akan sadar juga, kau jangan terburu-buru seperti itu, apalagi dia baru sadar setelah beberapa waktu lamanya berbaring tanpa sadar!" tukas Pak Dirja.
"kalau nanti dia benar-benar sadar, jangan di Tanya-tanya dengan hal-hal yang berat atau pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya dia berpikir keras, itu akan membuat dia semakin keras berpikir yang menyebabkan otaknya sakit!" ucap dokter Dicky.
"Baik Dokter!"
"Kalau begitu aku keluar dulu, karena aku sedang ada janji dengan seseorang!" kata dokter Dicky sambil melangkah kearah pintu dan keluar dari ruangan itu.
sementara itu, Ken kini mulai membuka matanya dengan sempurna, tatapannya kosong dan bingung, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu, menatap wajah-wajah yang ada di hadapannya, terlebih wajah Keyla yang berada paling dekat dengan wajahnya.
"Di mana aku?" gumam Ken lirih.
"Ken ... kamu sudah sadar?" tanya Keyla dengan air matanya yang tiba-tiba mengalir membasahi pipinya.
"Mbak Keyla ..."
"Syukurlah ... akhirnya kamu sadar juga, akhirnya kamu ingat aku juga dan tidak lupa ingatan!" ucap Keyla.
"Mana mungkin aku melupakan Ibu dari anakku?" lirih Ken.
Keyla semakin erat memeluk Ken.
"Aduh!!" Tiba-tiba Ken menjerit.
"Eh, maaf Ken, sakit ya!" Keyla langsung melepaskan pelukannya.
"Peluk lagi Mbak, tapi jangan kenceng-kenceng!" sahut Ken.
Keyla kemudian langsung kembali memeluk tubuh suaminya itu.
****
__ADS_1
Sementara di rumah, Dinda baru saja memberikan Chika jus buah dan cemilan, setelah itu Dinda mengantarkan Chika untuk beristirahat di kamarnya.
Wajah Chika masih tersimpan sedikit ketakutan, sepertinya anak itu agak mengalami sedikit trauma, dengan kejadian yang menimpanya.
Chika kini lebih banyak diam dan tidak banyak bicara seperti sebelumnya.
"Nah Chika, sekarang Chika istirahat dulu ya di kamar, nanti kalau Chika butuh apa-apa, Chika panggil saja Mama!" ucap Dinda sambil menyelimuti tubuh Chika dengan selimut.
"Iya Ma!" sahut Chika.
"Pokoknya sekarang Chika jangan takut lagi, ada Mama, juga Papa dan yang lainnya yang akan menjaga chika!" lanjut Dinda.
Chika tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Tiba-tiba pintu kamar Chika terbuka, Mbak Yuyun masuk dengan wajah pucat dan nafas yang memburu.
"Mbak Yuyun? Ada apa? Kok aneh gitu?" tanya Dinda.
"Bu Dinda, sini deh Bu! Ayo Bu, cepat Bu!" sahut Mbak Yuyun sambil melambaikan tangannya ke arah Dinda.
Dinda semakin bingung kemudian dia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Mbak Yuyun yang berada di depan pintu kamar Chika.
"Ada apa sih Mbak?" tanya Dinda.
Tanpa menunggu, Mbak Yuyun langsung menarik tangan Dinda menuju ke ke ruang keluarga.
Setelah sampai di ruang keluarga, Mbak Yuyun selalu menunjuk ke arah televisi, yang menayangkan tentang berita ditemukannya nya sesosok mayat di bantaran kali.
Dan setelah diketahui identitasnya sesosok mayat itu adalah Ujang.
Dinda membulatkan matanya saat melihat tayangan di televisi tersebut, yang menyiarkan secara langsung di tempat kejadian.
"Ya Tuhan, benar itu Ujang! Dia sudah tewas!" pekik Dinda tertahan.
Bersambung ...
__ADS_1
****