
Siang itu Dinda duduk termenung di depan teras rumahnya, wajahnya kelihatan sendu.
Sampai detik ini, Dinda masih belum percaya dengan apa yang dihadapinya hari ini. Semua ini rasanya seperti mimpi, tapi ini adalah sebuah kenyataan yang memang harus dihadapi.
Dinda sudah kehilangan sosok seorang sahabat yang selama ini bahkan sangat dipercayai dan dianggap seperti saudara sendiri.
Sejak zaman Dinda masih kuliah dulu, dia sudah bersahabat dengan Asti, susah senang sama-sama, di dalam satu kos yang sama. Bercanda bersama, juga saling berbagi, semuanya pahit dan manis mereka rasakan bersama-sama.
Dinda sama sekali tidak menyangka, hari ini semua kepercayaannya luntur seketika, Asti begitu tega menghianati nya hanya demi uang dan harta, uang dan harta sudah membutakan mata hatinya dan tidak lagi menjunjung tinggi nilai persahabatan mereka.
Dio dan Pak Dirja sudah sejak tadi pergi ke rumah sakit untuk mengurus masalah Ratih, walau Bagaimana proses hukum harus tetap dijalankan.
melihat Dinda yang duduk termenung sendirian Bu Lilis kemudian melangkah mendekati Dinda dan kini duduk disampingnya.
"Sudahlah Dinda, kau jangan berlarut-larut dalam kesedihan mu itu, ingat bayi yang ada dalam kandungan itu lebih penting daripada seorang sahabat yang menghianati mu!" kata Bu Lilis.
"Ibu benar, tapi Ibu juga pasti sudah mengenal Asti lama, sama seperti aku, Ibu juga bisa membayangkan bagaimana perasaanku, ini sangat menyakitkan Bu!" ucap Dinda.
"Iya Ibu tahu Nak, kalau ibu ada di hadapan Asti, pastinya ibu akan mati-matian mencaci-maki dia, akan Ibu jambak rambutnya, dan itu tidak sebanding dengan apa yang telah dia perbuat padamu dan keluargamu!" kata Bu Lilis.
Dinda kemudian memeluk Bu Lilis dan kembali menangis. Kalau orang lain yang berbuat seperti itu pada Dinda, mungkin Dinda tidak akan sesakit ini, tapi ini sahabatnya sendiri yang telah bekerjasama dengan orang-orang yang akan menghancurkan keluarganya, bahkan berniat menghabisinya dengan racun mematikan itu.
Setelah itu Bu Lilis langsung membimbing Dinda kembali masuk kedalam rumahnya.
Hari ini Chika tidak ke sekolah, karena dia masih trauma dengan apa yang baru saja dialaminya beberapa waktu yang lalu.
Dan selama Hari ini pula, Dinda menemani Chika, menemaninya bermain, makan, juga mengerjakan tugas-tugas sekolah.
"Mama, Kata nenek orang-orang jahat yang ada dirumah kita sudah pergi, Memangnya benar ya Ma?" tanya Chika pada saat Dinda menemaninya mengerjakan tugas-tugas dari sekolah, karena Chika tidak masuk sekolah.
__ADS_1
"Iya sayang, sekarang rumah kita sudah aman walaupun sekarang sudah tidak ada lagi suster Anna, sudah tidak ada lagi Bang Ujang, tapi kita tenang, sebab tidak dihantui lagi oleh orang-orang jahat itu, dan papa juga Mama pasti akan selalu menjaga Chika!" Jawab Dinda.
"Mama, tapi aku masih takut, waktu itu aku diculik aku tidak dikasih makan juga minum, aku takut Ma, aku lihat sendiri Bang Ujang yang dijatuhkan ke jurang oleh orang-orang jahat itu! Aku takut!" ungkap Chika yang kini langsung memeluk Dinda.
Dinda mengusap kepala anak sambungnya itu.
Dinda maklum dan bisa merasakan apa yang Chika rasakan saat ini, anak sekecil itu dengan mata kepalanya sendiri melihat langsung bagaimana orang-orang itu memperlakukannya.
Melihat apa yang tidak seharusnya dilihat oleh anak-anak seusia Chika.
Wajar saja jika Chika merasa sangat trauma, perlu waktu untuk memulihkan segalanya.
****
Sementara itu itu, Ratih adik kandung dari Ranti kini sedang ada di bawah pengawasan Kepolisian.
Kini Pak Dirja dan Dio bisa bernafas lega, apa yang mereka kerahkan tidak sia-sia, penyelidikan berjalan dengan cepat, dan semua saksi kunci telah dikumpulkan berikut barang bukti.
Kini para tersangka utama itu akan bersiap-siap mendekam di penjara sesuai dengan apa yang mereka perbuat.
Wajah Pak Dirja nampak lelah, karena beberapa hari belakangan ini dia sangat kurang tidur, bahkan dia sampai lupa meminum obat rutinnya.
Setelah mereka sampai kembali di rumah Dio, Pak Dirja berniat akan kembali pulang ke rumahnya.
Bu Lilis juga bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah suaminya itu.
"Ayah dan Ibu akan pulang sekarang juga? Apa tidak sebaiknya Ayah beristirahat saja dulu di sini, wajah Ayah kelihatan pucat!" kata Dinda yang melihat Pak Dirja dan Bu Lilis sudah bersiap-siap akan segera pulang ke rumah mereka.
"Tidak Dinda, semakin Ayah berlama-lama nanti Keyla akan semakin marah pada ayah! Apalagi Ayah sudah beberapa kali lupa minum obat Ayah karena kesibukan yang kemarin itu!" sahut pak Dirja.
__ADS_1
"Aku sudah beberapa kali mengingatkanmu untuk meminum obat mu itu Mas! Tapi kau selalu menunda nya jadi begini nih akibatnya!" sungut Bu Lilis.
"Kau jangan marah seperti itu sayang, namanya juga sudah tua, aku menundanya karena ada hal yang lebih penting, tapi ternyata aku malah kebablasan lupa!" ujar Pak Dirja sambil mulai naik kedalam mobilnya itu disusul oleh Bu Lilis.
Dinda dan Dio hanya bisa membiarkan saja mereka pulang kembali ke rumah mereka.
Meskipun mereka kelihatan sangat khawatir karena wajah Pak Dirja yang kelihatan sangat pucat dan lelah itu.
Setelah itu, Pak Dirja langsung melajukan mobilnya itu menuju ke rumahnya, sebenarnya sepanjang jalan Pak Dirja sudah mulai merasakan ada yang tidak enak di dalam tubuhnya, namun dia terus dengan sisa-sisa tenaganya menyetir mobilnya hingga sampai ke rumahnya yang kira-kira berjarak 1 jam perjalanan dari rumah Dio.
Pada saat Pak Dirja baru saja memarkirkan mobilnya dan dia turun dari mobilnya itu disusul oleh Bu Lilis, tiba-tiba saja Pak Dirja langsung ambruk dan jatuh tersungkur.
Bu Lilis melotot dan langsung berteriak histeris melihat suaminya yang tiba-tiba jatuh itu.
Mendengar suara teriakan Bu Lilis, Bi Titi, Keyla dan Ken langsung berhambur keluar dan mereka terperangah melihat Pak Dirja yang sudah tergeletak itu.
"Ayah! Apa yang terjadi padamu Ayah!" teriak Keyla histeris sambil mengguncang-guncangkan tubuh Pak Dirja.
Sementara Bu Lilis hanya menangis disampingnya sambil terus mengelus dada suaminya itu.
"Mbak Keyla, tolong bantu aku angkat Ayah kedalam mobil, biar aku membawanya langsung ke rumah sakit!" ujar Ken.
Tanpa menunggu lama, Pak Dirja kemudian diangkat oleh Ken dibantu oleh Keyla dan Bu Lilis masuk kedalam mobil kembali, lalu dengan cepat ke naik ke dalam mobil itu, disusul oleh Keyla dia Bu Lilis.
Kemudian Ken langsung melesat keluar dari rumah itu menuju ke rumah sakit.
Bersambung ....
****
__ADS_1