
Entah mengapa ada perasaan yang berkecamuk dalam diri Keyla, hatinya tiba-tiba menjadi panas saat melihat Ken suaminya itu, kini sedang duduk di sebuah meja bundar bersama dengan seorang wanita yang Keyla sendiri tidak mengenal siapa wanita itu.
"Bu, sudah selesai makannya kan? sekarang kita pulang ya Bu!" kata Keyla yang langsung berdiri.
Bu Lilis nampak sedikit bingung, namun dia mengikuti Keyla yang langsung menarik tangannya keluar dari cafe itu melalui pintu samping.
"Ada apa sih Key, kok kamu berubah pucat!" tanya Bu Lilis bingung.
Keyla tidak menjawab pertanyaan Bu Lilis, dia segera masuk ke dalam mobilnya dan kemudian mulai mengendarai mobilnya itu keluar dari cafe itu.
Kini perasaan Hatinya sudah tidak karu-karuan dan sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Bahkan Keyla mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan yang agak tinggi, sehingga membuat Bu Lilis sedikit nyeri dan benar-benar heran melihat sikap Keyla yang seperti itu.
"Keyla Kau ini kenapa sih? Hati-hati Nak kamu sedang hamil!" ujar Bu Lilis memperingatkan.
"Biar saja Bu, aku sudah tidak peduli dengan kehamilan ini, toh Papanya pun juga sudah tidak peduli lagi!" sahut Keyla dengan tatapan yang masih lurus menatap ke arah jalan.
"Hey, jangan sembarangan bicara Keyla! Jaga kata-katamu! Orang hamil itu harus dijaga semua perkataannya, kasihan nanti bayimu!" kata Bu Lilis.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba kembali di rumah, dengan kesal Keyla turun dari mobil kemudian membawa belanjaannya dan menaruh begitu saja di dapur.
Setelah itu Keyla langsung naik keatas menuju ke kamarnya, tanpa bicara lagi.
Bu Lilis hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Keyla tanpa tahu alasan mengapa dia bisa berubah seperti itu.
Kemudian Bi Titi langsung membereskan semua belanjaan Keyla itu dan menyusunnya.
__ADS_1
"Kalian tadi dari mana saja?" tanya Pak Dirja yang tiba-tiba muncul dari arah kamarnya itu.
"Tadi aku habis menemani Keyla belanja Mas, Tapi tiba-tiba saat tadi kami makan siang di cafe, setelah habis makan dia langsung mengajak pergi begitu saja, dan tiba-tiba sikapnya berubah, aku bingung, dia tidak cerita apapun, namun jelas terlihat dia seperti menyimpan kemarahan yang entah apa penyebabnya!" jawab Bu Lilis mencurahkan semua isi hatinya.
"Aneh juga Keyla, tidak biasanya dia seperti itu! Apa mungkin dia melihat sesuatu yang membuat dia marah?" gumam Pak Dirja.
"Aku juga tidak tahu Mas, pokoknya tadi di cafe tiba-tiba Keyla langsung mengajak pulang begitu saja, dan pada saat aku tanya pun dia tidak menjawab apapun!" ujar Bu Lilis.
"Ya sudahlah, biarkan saja Keyla seperti itu, mungkin itu bawaan orang hamil, biasanya kan kalau orang hamil itu bawaannya sensitif, Semua Serba Salah!" kata Pak Dirja.
"Tapi ini bukan seperti orang yang sedang sensitif Mas, ini seperti orang yang sedang marah beneran, atau jangan-jangan di cafe tadi dia melihat sesuatu ya, Aku jadi bingung deh!" sahut Bu Lilis.
"Sudah lupakan saja masalah Keyla, sore ini aku ingin mengajakmu keluar sebentar Lis, Kebetulan aku ada undangan dari rekan bisnisku yang baru datang dari luar negeri, Aku ingin kau ikut aku untuk mendampingi aku!" kata Pak Dirja.
"Baiklah Mas, kalau begitu aku siap-siap dulu ya ganti baju!" ujar Bu Lilis yang kemudian segera melangkah masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.
****
Sebuah rumah yang cukup besar yang ada di daerah itu, kini terpampang di hadapan Dio dan Chika, selama ini dia tidak pernah tahu di mana rumah mertua dan saudara-saudara iparnya dulu.
Baru kali ini Dio datang berkunjung ke rumah mantan mertuanya setelah beberapa tahun istrinya meninggal.
"Papa, Ini rumah siapa? Kok Bentuknya lucu seperti rumah zaman dulu?" tanya Chika.
"Ini rumah Oma dan Opa Chika dari mama Ranti, disini mungkin juga ada ada om dan tante Chika, nanti Chika yang sopan ya Kalau bertemu dengan mereka!" jawab Dio.
Chika menganggukkan kepalanya, kemudian Dio segera menuntun Chika masuk ke dalam pekarangan rumah yang luas itu, baru saja dia sampai di teras, seorang wanita muda datang menghampiri Dio.
__ADS_1
"Ini Mas Dio dan Chika bukan? Mbak Ratih menelepon, katanya kalian akan datang ke sini!" tanya wanita muda yang kini ada di hadapan mereka itu.
"Ya benar!" jawab Dio singkat.
"Kalau begitu silahkan masuk, Ibu sudah menunggu di dalam, saya Rani, adik bungsu Mbak Ranti dan Mbak Ratih!" kata wanita yang ternyata bernama Rani itu.
Dio kemudian melangkah masuk sambil menuntun Chika ke dalam ruang tamu yang luas itu, dan mereka kemudian duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu jati, di ruang tamu itu sudah duduk seorang wanita paruh baya, dia adalah Ibu dari Ranti mantan mertua Dio.
"Akhirnya kau datang juga Dio, dengan membawa cucuku!" kata wanita itu yang menatap tajam kearah Dio.
Dio kemudian Melangkah dengan perlahan mendekati wanita tua itu, kemudian berlutut dan mencium tangannya.
"Maafkan aku Ibu, baru bisa mengunjungi Ibu sekarang! Chika, berikan salam pada Oma!" ucap Dio.
Chika kemudian mencium tangan wanita tua itu, dan tiba-tiba wanita tua itu memeluk Chika dengan erat sambil menangis.
"Ini pasti Chika cucuku, kamu sudah besar sayang, Oma sangat merindukanmu, tinggalah kamu di sini menemani Oma!" ucap wanita itu sambil menciumi rambut Chika.
"Sudah lama Ibu merindukan cucunya itu, bahkan sampai sakit-sakitan, sejak Mbak Ranti meninggal, sudah tidak ada lagi warisan yang didapatkannya, apalagi Mbak Ratih divonis dokter mandul, tidak bisa memiliki keturunan, di keluarga ini sudah tidak ada lagi generasi, hanya Chika lah satu-satunya yang menjadi harapan keluarga ini, karena dia adalah anak dari Mbak Ranti!" jelas Rani yang tiba-tiba duduk disebelah ibunya itu.
Dio tertegun dan tidak bisa mengatakan apapun, dia sama sekali tidak menyangka kalau keluarga dari almarhumah istrinya itu sangat mengharapkan Chika, tapi Ratih telah datang dengan niat jahat, bukan hanya untuk mengambil Chika, bahkan ingin merampas harta milik Dio, dan karena kejahatannya itu Kini dia mendekam dalam penjara.
"Sekarang Mbak Ratih jadi korban, karena dia hanya ingin membahagiakan ibu di sisa-sisa terakhir hidupnya, karena Ibu mengidap penyakit yang cukup parah dan kata dokter dia tidak akan bisa bertahan lama!" lanjut Rani dengan wajah menunduk.
Bersambung....
*****
__ADS_1