
Malam itu, Dio menyewa beberapa bodyguar untuk menjaga keamanan rumahnya. Meskipun kini suster Anna telah kabur dan menghilang, dan kini menjadi buronan polisi, namun tetap saja rumah Dio tidak benar-benar menjadi aman.
Kamar bekas Suster Anna juga sudah diamankan, semua barang-barangnya sudah diambil menjadi barang bukti, termasuk beberapa bungkus racun yang mematikan dan beberapa senjata api, juga pakaian pakaian yang ada di kamar itu.
Setelah kamar suster anak itu di geledah, memang tidak ada orang lain yang ditemukan di dalam kamar itu, kamar itu memang sudah benar-benar kosong, namun yang jadi pertanyaannya sekarang adalah, jikalau praduga sementara ada orang lain yang tinggal di dalam kamar itu, lalu kemanakah perginya orang itu, apakah mungkin dia bisa melewati gerbang, dekat dengan penjagaan yang begitu ketat? Apalagi kalau orang itu adalah orang asing.
Malam ini Chika kembali tidur di kamarnya, namun dia ditemani oleh Bu Lilis.
Sementara Dinda masih berada di kamarnya, wanita itu juga nampak sudah tertidur Setelah Dio memberinya berbagai macam makanan dan buah-buahan, demi menjaga agar kandungan Dinda tetap sehat dan terjaga.
setelah dipastikan sudah tertidur pula, dia kemudian keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk memantau keadaan di lantai bawah.
Pak Dirja nampak duduk lantai bawah di ruang keluarga, sambil berkomunikasi dengan beberapa orang rekannya.
Dio kemudian ikut Duduk di ruang keluarga itu bersama dengan Pak Dirja.
"Bagaimana ayah? Apakah sudah ada titik terang?" tanya Dio.
"Barusan polisi telepon Ayah katanya suster sudah ditangkap dan kini ada di tahanan polisi! Ayah sudah mengingatkan, agar penjagaan terhadap suster Anna diperketat, sehingga kasus yang dulu tidak terulang lagi!" jawab Pak Dirja.
"Wah cepat sekali tertangkapnya! hebat juga kerja polisi, sekarang adalah menyelidiki siapa yang ada dibalik suster Anna, sepertinya temen Dinda, si Asti harus ditanyakan mengenai ini!" Kata Dio.
"Nah, kau benar Dio, lebih baik kau langsung telepon teman Dinda yang merekomendasikan suster Anna itu, dari situ kau bisa mendapatkan keterangan!" sahut Pak Dirja.
Dio menganggukkan kepalanya, setelah itu dia langsung mencari nomor telepon Asti, setelah didapat dia langsung menelpon.
Namun beberapa kali menelepon Asti, telepon itu tidak diangkat-angkat, sehingga membuat Dio menjadi kesal.
"Sial! Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya??" sungut Dio.
"Tidak di angkat??"
"Iya Ayah, sudah lebih dari lima kali aku menelepon, tapi tidak di angkat sama sekali!" sahut Dio.
"Aneh!" gumam Pak Dirja.
__ADS_1
Tiba-tiba Mbak Yuyun dari arah belakang datang menghampiri Dio dan Pak Dirja yang masih mengobrol di ruang keluarga itu.
"Pak Dio, tadi Tuan dan Nyonya besar telepon, katanya besok mereka akan datang ke sini!" kata Mbak Yuyun.
"Ayah dan Bunda??"
"Iya Pak!"
"Gawat, mereka tidak tau apa yang terjadi di rumah ini!" gumam Dio.
Setelah itu Mbak Yuyun nampak kembali beranjak dari tempat itu menuju ke dapur, dan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
"Ayah, apa yang harus aku lakukan? kalau Ayah dan Bunda besok datang kesini, pasti mereka akan sangat terkejut dan shock setelah tahu apa yang terjadi di rumah ini! Aku takut bunda akan kambuh dan Anfal seperti waktu itu!" kata Dio.
"Dio, Sepertinya kau harus mencegah kedatangan ayah dan bunda mu itu! Bukan apa-apa ini semua demi kebaikan mereka, apalagi rumah ini dalam penyelidikan polisi!" ujar Pak Dirja.
"Baiklah Ayah, aku akan menelpon mereka sekarang juga!" sahut Dio.
Kemudian dia merogoh ponselnya, dan mulai menelpon kedua orang tuanya itu, yang kini berada di Singapura.
"Kabar kami baik Ayah, Oya, kata Mbak Yuyun, Ayah dan Bunda akan datang besok?"
"Iya Dio, Bundamu sudah kangen Chika, lagi pula di sini juga kami sedang banyak waktu!" sahut Pak Frans.
"Iya ayah, tapi bisakah ayah dan bunda menunda dulu kedatangan ke sini? Karena saat ini, Dinda baru hamil muda, nanti setelah dia sedikit lebih kuat, Ayah dan Bunda datang ke sini, aku ingin mengadakan syukuran!" Kata Dio.
"Oh ya? Dinda hamil? Akhirnya aku dan Bundamu bisa memiliki cucu kembali! Baiklah Dio, Ayah akan katakan ini pada Bundamu, dia pasti akan sangat senang!" sahut Pak Frans dengan begitu bersemangat.
"Iya, maka dari itu Ayah, jangan buru-buru datang kesini ya, tunda dulu lah mungkin seminggu kemudian, karena dokter mengatakan kalau kandungan Dinda itu sedikit rentan, jadi takutnya dia malah repot mempersiapkan ini itu!" ucap Dio beralasan.
"Baiklah, Ayah dan Bunda akan datang minggu depan, Ayah akan katakan kabar bahagia ini, Bundamu pasti akan sangat senang, mendengar Dinda sudah hamil!" sahut Pak Frans.
"Trimakasih Ayah!" ucap Dio sebelum menutup panggilan teleponnya.
Setelah menelepon ayahnya, Dio kemudian kembali duduk bersama dengan Pak Dirja dan melanjutkan obrolan mereka.
__ADS_1
Sementara itu di lantai atas di kamarnya, Dinda yang tadinya tertidur dengan sangat pulas, tiba-tiba terbangun, matanya mengedarkan ke seluruh ruangan, Dio tidak ada di sampingnya.
Kemudian Dinda bangun dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengucek matanya yang masih terasa sedikit mengantuk.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, biasanya jam segini dia sudah ada di alam mimpi bersama dengan Dio, namun pada saat Dinda terbangun Dio tidak ada di sampingnya.
Dinda kemudian mengambil mantelnya berniat akan mencari Dio keluar kamar, barangkali suaminya itu sedang berada ada di bawah.
Baru saja Dinda membuka pintu kamarnya, tiba-tiba di hadapannya berdiri seorang wanita, Dinda membulatkan matanya karena terkejut.
Wanita itu pernah Dinda lihat di dalam sebuah foto, wajahnya sangat mirip dengan Ranti, mendiang istri Dio, mamanya Chika.
Dinda langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Wanita itu tersenyum ke arah Dinda tatapan wajahnya begitu dingin.
"Si-siapa kamu?!" tanya Dinda sambil mundur bersandar tembok.
"Kamu tau siapa aku?? Kenapa harus bertanya lagi, aku hanya minta, kembalikan hakku dan anakku!" sahut wanita itu.
"Hak?? Hak apa??" tanya Dinda bingung.
"Kamu terlalu polos! Semua yang suami kamu miliki sekarang, itu bukan sepenuhnya milikmu, termasuk Chika!!" sahutnya.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" tanya Dinda semakin bingung.
"Kamu memang bodoh, dan tidak seharusnya mengerti!!"
Wanita itu terus melangkah maju mendekati Dinda.
Dinda yang ketakutan lalu berjalan mundur ke belakang, hingga tanpa sadar dia sudah berada di luar, di luar balkon kamarnya.
Hawa dingin dan hembusan angin malam menerpa tubuh Dinda, sehingga seluruh bulu kuduk Dinda merinding, ketakutan bercampur dengan dinginnya malam.
Bersambung ...
__ADS_1
****