Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Menjelang Hari H


__ADS_3

Setelah menjalani foto prewedding, Dio mulai membayar lunas catering dan dekorasi, juga EO yang akan memeriahkan rumahnya yang akan di desain sedemikian rupa oleh Dio.


Dio sengaja ingin melangsungkan pernikahannya dengan Dinda di rumahnya sendiri, rumah yang di bangunnya dengan hasil kerja kerasnya selama ini.


Semua sudah selesai, masalah gaun, dekorasi, EO, catering dan undangan. Hanya tinggal menunggu hari H yang akan jatuh dua hari lagi.


Dinda semakin berdebar menunggu saat itu tiba, dia sama sekali tidak menyangka, belum setahun dia gagal menikah, sekarang dia menemukan cinta yang sesungguhnya, pelabuhan terakhir dalam hidupnya.


Dio tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya, saat dia akan mengantar Dinda pulang ke apartemen.


"Ada apa Mas?" tanya Dinda.


"Sayang, maukah kau menemaniku ke rumah sakit sebentar? Ada sahabat Ayahku yang di rawat di sana! Papanya Keyla!" jawab Dio.


"Boleh Mas!"


"Kau tidak cemburu?" tanya Dio.


"Cemburu kenapa Mas? Kan kamu menengok Ayahnya, bukan anaknya!" sahut Dinda.


"Trimakasih ya sayang!" Dio mengecup jemari tangan Dinda.


"Sakit apa dia Mas? Dia datang kan ke pernikahan kita nanti?" tanya Dinda.


"Pasti datang sayang, hanya saja, tiba-tiba dia kena serangan jantung ringan, waktu telepon sama aku itu lho!" jawab Dio.


Dio kemudian kembali melajukan mobilnya itu menuju ke rumah sakit.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit, Dio langsung memarkirkan mobilnya dan menggandeng tangan Dinda berjalan ke arah lobby.


"Ehm! Makin mesra saja tiap hari nih!" terdengar suara dari belakang mereka.


Dio dan Dinda langsung menoleh ke belakang.


"Dokter Dicky?" Dio langsung maju dan menjabat tangan Dokter Dicky yang tersenyum ke arah mereka.


"Aku sudah menerima undangan eksklusif kalian, selamat ya, aku harap kalian bahagia selamanya! Seperti aku!" ucap Dokter Dicky.


"Terimakasih Dokter, jangan lupa kau harus datang ke pernikahan kami!" kata Dio.


"Pasti, aku akan mengajak istri dan anak-anakku, kalian tenang saja!" jawab Dokter Dicky.


"Dokter, sampaikan salamku pada Mbak Fitri, sudah lama aku tidak bertemu dengannya di sekolah!" kata Dinda.

__ADS_1


"Siap, nanti aku sampaikan, kalau begitu aku pamit, anak-anakku sudah menunggu!" ucap Dokter Dicky sambil mengatupkan kedua tangannya.


Setelah Dokter Dicky pergi, Dio kembali menggandeng tangan Dinda menuju ke lift, mereka naik ke atas, menuju ke ruangan Pak Dirja di rawat.


Di depan ruangan itu, nampak Keyla sedang duduk termenung seorang diri.


Matanya langsung menatap tajam saat Dio dan Dinda berjalan mendekatinya.


"Mau apa kalian ke sini?" tanya Keyla.


"Key, kami hanya ingin menjenguk Ayahmu, bagaimana keadaannya?" sahut Dio.


"Tidak, kalian jangan menemuinya, Ayahku akan sakit hati jika melihat kalian berdua!" ujar Keyla.


"Mas, kau saja yang masuk menemuinya, biar aku menunggu di sini!" ucap Dinda.


"Tapi Din ..."


"Benar kata Mbak Keyla, mungkin Ayahnya akan tambah sakit jika melihat kita, kau mengerti kan?" Dinda menatap wajah Dio.


Dio menganggukan kepalanya, lalu segera masuk ke dalam ruangan itu, sementara Dinda duduk di samping Keyla.


Hening.


"Mbak Keyla, Aku minta maaf!" ucap Dinda.


"Kenapa kau harus minta maaf?"


"Aku tau apa yang Mbak Keyla rasakan saat ini, tapi aku yakin, Mbak Keyla akan dapat seseorang yang ..."


"Stop! Jangan mengguruiku! Semakin aku bicara padamu, hatiku semakin sakit!" potong Keyla cepat.


Dinda terdiam, wajar jika Keyla sangat membencinya saat ini, laki-laki yang seharusnya di jodohkan untuk Keyla, kini malah akan menikah dengan Dinda.


"Aku sudah capek! Sekarang hanya Ayahku yang aku punya, aku tidak punya siapapun yang dapat membahagiakan aku selain Ayah!" lanjut Keyla.


"Mbak Keyla beruntung masih mempunyai Ayah, sedangkan aku, tidak pernah sedikitpun melihat atau menyentuh Ayahku, sangat menyedihkan bukan?" sahut Dinda.


Dari ujung koridor rumah sakit, Ken terlihat berjalan perlahan mendekati mereka, Dinda mulai panik, takut hal yang buruk kembali menimpanya.


Dinda menunduk saja, tidak berani menatap ke arah Ken.


"Siapa di dalam Mbak Key?" tanya Ken.

__ADS_1


"Dio!" sahut Keyla


"Hmm, pantas Dinda ada di sini, Din, aku minta maaf ya, mungkin memang duda itu lebih cocok untukmu dari pada aku!" ucap Ken.


Dinda terperangah, tidak biasanya Ken berkata lembut dan sopan seperti ini, biasanya dia akan langsung mengejar Dinda jika bertemu dengannya.


"Iya!" sahut Dinda.


"Kau jangan khawatir Din, aku ikhlas melepaskanmu, mungkin kita memang tidak berjodoh!" lanjut Ken.


"Trimakasih Ken!" ucap Dinda.


Ken kemudian menoleh ke arah Keyla yang sedari tadi diam saja. Kemudian dia duduk di samping Keyla.


"Kita makan bakso yuk Mbak! Biar otak fresh!" ajak Ken.


"Malas!" cetus Keyla.


"Sudahlah Mbak, aku saja bisa kok melupakan Dinda yang sangat aku sayang itu bahagia, masa Mbak Keyla tidak bisa move on juga??" tanya Ken.


Keyla lalu melotot dan langsung berdiri.


"Dengar Ken! Kau tidak pernah mengerti bagaimana perasaanku?? Aku sudah bosan mendengar guncingan orang terhadapku, yang mengatakan aku ini perawan tua lah, tidak laku-laku lah! Perebut milik orang lain lah! Aku bosan Ken!" sengit Keyla.


"Bukan begitu maksudku Mbak!" ucap Ken.


Ken langsung menggenggam tangan keyla, hanya bermaksud untuk menguatkan hatinya.


Keyla langsung menangis, kedua tangannya menutupi wajahnya, Ken langsung merengkuh bahu Keyla untuk menenangkannya.


Sementara Dinda jadi merasa tidak enak, dia berharap Dio akan cepat datang.


Tiba-tiba Dio keluar dari ruangan Pak Dirja di rawat.


"Sudah selesai Mas?" tanya Dinda.


"Sayang, Om Dirja ingin sekali menemuimu, Ayo ikut aku masuk, dia ingin sekali bertemu dan melihat calon istriku!" jawab Dio.


"Tapi Mas ..."


"Ayolah sayang, dia sudah menunggumu ..." Dio langsung menggandeng tangan Dinda untuk masuk ke dalam ruangan Pak Dirja di rawat.


Bersambung...

__ADS_1


****


__ADS_2