Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Dengan Perlahan Dio menggandeng tangan Dinda masuk ke dalam ruang perawatan Pak Dirja.


Pak Dirja nampak masih berbaring di ranjangnya, kondisinya sudah mulai membaik, wajahnya sudah kemerahan, tidak lagi pucat seperti sebelumnya.


Pada saat Dinda dan Pak Dirja saling bertatapan, mereka berdua sama-sama terkejut, Dinda tiba-tiba langsung menghentikan langkahnya.


"Ini Om, calon istriku, sebentar lagi dia akan sah menjadi istri seorang Dio!" kata Dio bangga.


Tidak ada jawaban dari Pak Dirja, dia menatap lekat pada Dinda yang berdiri di samping Dio.


Seluruh tubuh Dinda berubah menjadi dingin, keringat mulai bercucuran di tubuhnya, padahal suhu di ruangan itu dingin dan sejuk karena ac.


"Hei, kalian kenapa? Apa sebelumnya kalian pernah bertemu?" tanya Dio bingung.


"I-Iya, aku pernah menabrak mobilnya beberapa waktu yang lalu!" jawab Dinda gugup.


Dio kemudian menuntun tangan Dinda untuk melangkah mendekat ke ranjang Pak Dirja.


Tiba-tiba Pak Dirja menangis, dia tidak bisa lagi berkata apapun, lidahnya terasa kelu, hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini.


Dinda juga tidak bisa mengucapkan apapun, dia berdiri seperti patung.


"Siapa namamu?" tanya Pak Dirja sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Dinda!" jawab Dinda.


Kembali Pak Dirja menangis. Dio yang melihat momen itu menjadi bingung dan tak mengerti.


"Kau anak Ibu Lilis?" tanya Pak Dirja lagi.


"Iya ..."


"Siapa nama Ayahmu? Apakah kau punya saudara lain?" tanya Pak Dirja sambil menangis.


"Aku tidak tau siapa nama Ayahku, Ibuku sudah mengubur nama itu selama puluhan tahun, dan aku adalah anak satu-satunya dari Ibuku!" jawab Dinda.


Tiba-tiba Pak Dirja memegangi dada kirinya yang tiba-tiba terasa nyeri. Wajahnya kembali pucat, padahal sebelumnya dia nampak segar.


Dio melotot dan spontan langsung berlari ke luar ruangan untuk memanggil Dokter.


Sementara Dinda masih berdiri mematung di tempatnya.


Ken dan Keyla terlihat masuk ke ruangan itu.


"Ayah!!" Keyla langsung berhambur memeluk Pak Dirja.


Tak lama kemudian dia menghampiri Dinda dan mendorong tubuhnya.

__ADS_1


"Kau apakan Ayahku?? Kenapa dia bisa seperti ini saat melihatmu??!" sengit Keyla yang tidak dapat mengontrol emosinya.


"Sabar Mbak! Kenapa kau jadi salahkan Dinda?!" bela Ken sambil menarik tangan Keyla menjauhi Dinda.


Tak lama kemudian seorang Dokter dan perawat datang, di susul oleh Dio di belakangnya.


Sang Dokter langsung memeriksa kondisi Pak Dirja, sementara perawat nampak sedang memeriksa tekanan darah Pak Dirja.


"Bagaimana keadaan Ayah saya Dokter?" tanya Keyla cemas.


"Tekanan darah pasien meningkat, tolong kalian semua menunggu di luar ruangan, pasien butuh ketenangan secara psikologis!" jawab Dokter.


"Baik Dokter!"


Dio segera menuntun tangan Dinda keluar dari ruangan itu.


Ken juga berusaha untuk membujuk Keyla, yang bersikeras untuk tetap tinggal di ruangan.


"Mas Dio, antarkan aku pulang ke apartemen sekarang!" pinta Dinda.


"Iya sayang, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Om Dirja? Aku sungguh tidak mengerti, saat melihatmu, Dia begitu shock sampai menangis!" tanya Dio.


Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke arah parkiran mobil.


"Mas ..."


"Kau tau siapa ini?" tanya Dinda.


Dio nampak mengerutkan keningnya.


"Wajahnya sangat mirip dengan Om Dirja, tapi ini masih kelihatan muda!" jawab Dio.


"Mas Dio, foto ini adalah foto Ayah kandungku, yang di berikan oleh Ibuku!" ucap Dinda dengan suara sedikit bergetar.


"Apa??" Dio melotot nyaris tak percaya.


"Benar Mas, walaupun aku tidak pernah tau siapa nama Ayahku, tapi firasatku mengatakan, kalau Ayahnya Mbak Keyla itu juga adalah Ayahku!"


Tiba-tiba Dinda menangis, setelah beberapa waktu lamanya dia menahannya.


Dio langsung reflek memeluk Dinda, mengusap lembut punggungnya, dan berusaha untuk menenangkannya.


Terdengar suara petir dan angin yang berhembus kencang, menandakan kalau sebentar lagi akan turun hujan.


"Jangan menangis sayang, ingat, kita akan menikah sebentar lagi, aku tidak mau ada hal apapun yang mengganggu rencana pernikahan kita!" bisik Dio.


"Mas Dio, sekarang katakan padaku, aku harus bagaimana?? Apakah aku harus memeluknya dan memanggilnya Ayah? Lalu bagaimana dengan Mbak Keyla, apakah dia tidak semakin membenciku setelah tau kalau aku ..."

__ADS_1


"Sssst, jangan bicara lagi, kita pulang sekarang ya, tenangkan pikiranmu!"


Dio mengecup kening Dinda, dan membimbingnya masuk ke dalam mobilnya.


Perlahan Dio mengemudikan mobilnya itu menembus derasnya hujan dan meninggalkan rumah sakit, menuju ke apartemen.


Sepanjang jalan Dinda hanya diam saja, sambil sesekali mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.


Hingga mereka tiba di apartemen, saat Dinda membuka pintu apartemen itu bersama dengan Dio, Bu Lilis nampak sedang mencoba baju yang di berikan oleh Dio.


"Wah, kalian sudah pulang, baju ini bagus sekali Nak Dio, tadi si Ujang datang, katanya besok pagi-pagi dia akan menjemput Ibu dan Dinda ke rumahmu, setelah penata rias datang ke apartemen!" kata Bu Lilis.


Dio dan Dinda masuk dan langsung duduk di sofa ruangan itu.


"Lho Din, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali? Calon pengantin jangan seperti ini, walaupun kalian nikahnya dadakan, tapi tetap harus di persiapkan dengan baik dong!" lanjut Bu Lilis.


Tiba-tiba Dinda memeluk Ibunya dengan erat sambil menangis.


"Ibu, aku sudah bertemu Ayah Bu, aku sudah melihatnya langsung!" tangis Dinda pecah dalam pelukan Bu Lilis.


Dio hanya bisa diam dan memandang momen itu sambil menggigit bibirnya.


"Apa? Di mana kau bertemu dengan Ayahmu? Katakan pada Ibu!" tanya Bu Lilis.


"Di rumah sakit Bu, sekarang katakan padaku, siapa nama Ayahku??" sahut Dinda sambil menatap ke wajah Bu Lilis yang masih terlihat kaget.


"Ayahmu bernama Raden Sudirja, biasa di panggil Dirja!" jawab Bu Lilis.


"Benar Bu, aku sudah bertemu dengan dia, Pak Dirja itu adalah Ayahku kan, sekarang Di sedang di rawat di rumah sakit, dan asal Ibu tau, dia juga adalah ayahnya Mbak Keyla!" ucap Dinda.


"Benarkah?"


"Benar Bu!"


"Dulu anak majikan Ibu juga bernama Keyla, tapi Ibu tidak menyangka kalau Keyla yang waktu itu datang ke sini adalah Keyla anak majikan Ibu, kenapa semua jadi kebetulan begini?!" Bu Lilis mulai menitikkan air matanya.


"Bu, sepertinya Ayah sudah tau siapa aku, tapi ... Mbak Keyla belum tau siapa kita!" ucap Dinda.


"Dinda, sebentar lagi kau akan menikah, Ibu mohon kau fokus saja pada pernikahanmu, yang penting kau sudah tau siapa Ayahmu, Ibu tidak ingin kau gagal lagi!" kata Bu Lilis.


"Ibu benar sayang, ingatlah besok kita akan menikah, undangan sudah di sebar, catering sudah di boking, semuanya sudah di persiapkan, jangan sampai semuanya ini gagal hanya karena ..." Dio menghentikan ucapannya.


Tring ... Tring ... Tring


Tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon dari ponsel Dio.


Bersambung...

__ADS_1


****


__ADS_2