Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Restu Ayah


__ADS_3

Dio buru-buru masuk ke dalam rumahnya, dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk, setelah itu dia langsung menuju ke meja telepon, bermaksud mengangkat telepon dari orang tuanya yang kini telah sampai di Singapura.


"Halo!"


"Dio, kau kemana saja? Ayah telepon ponselmu kau tidak angkat-angkat!" tanya Pak Frans.


"Maaf Ayah, aku baru bermain bersama Chika, ada kabar apa Ayah meneleponku?" tanya Dio.


"Dio, Sebagai laki-laki, Ayah tau posisimu saat ini, apalagi dulu kau pernah merasakan di jodohku dengan Ranti, Ayah kasihan padamu!" jawab Pak Frans.


"Apa maksud Ayah?!"


"Kalau kau memang benar-benar mencintai guru itu, Ayah merestuimu, tapi ayah mohon kau jangan katakan ini pada Bunda, karena kau tau sendiri, bunda punya tekanan darah tinggi, Ayah takut kalau Bunda kaget akan terjadi hal yang tidak kita inginkan!" ungkap Pak Frans.


"Jadi, ayah benar-benar merestuiku dengan Dinda?" tanya Dio nyaris tak percaya.


"Iya Nak, Ayah benar-benar merestuimu, sekarang kau kejarlah kebahagiaanmu, Ayah merestuimu untuk menikahi Dinda, tapi sekali lagi Ayah mohon, jangan beritahu ini pada Bundamu ya!" jawab Pak Frans.


"Tapi bagaimana Kalau Bunda tau? Tidak mungkin kan, kalau kita menyembunyikan terus menerus?" tanya Dio.


"Itu biar menjadi urusan Ayah, yang jadi urusanmu, kau segeralah melamar Dinda, Ayah tahu Kau pasti sangat ingin sekali memiliki seorang istri yang mendampingi hidupmu!" jawab Pak Frans.


"Terima Kasih Ayah, Ayah benar-benar Ayah yang terbaik yang aku punya!" ucap Dio yang hatinya berbunga-bunga karena restu dari sang ayah itu.


Setelah menutup teleponnya, Dio berlari-lari seperti anak kecil ke kamar Chika, anak itu baru saja membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya, setelah habis hujan-hujanan bersama Papanya.


"Chika!"


"Papa buat aku kaget saja!" sungut Chika.


"Papa akan memberikan hadiah ulang tahun yang Chika mau, kau pasti senang kan??" tanya Dio sambil duduk di tepi tempat tidur Chika.


"Beneran Pa?"


"Iya sayang, masa Papa bohong sih?"


"Yeeeaaaay!! Papa tidak bobo sendirian lagi!!" seru Chika senang.

__ADS_1


"Tapi gimana ya, Bu Dindanya lagi ada di Bandung, ponselnya tidak aktif, Papa tidak tau alamatnya di Bandung ..." gumam Dio.


"Kan Bu Dinda tidak lama-lama di Bandungnya!"


"Iya sih, tapi kan Papa sudah tidak sabar nih, rindu itu berat tau!" cetus Dio sambil mencubit hidung Chika.


"Mana lebih berat dari menggendongku??"


Dio tertawa dan langsung mengangkat Chika dalam gendongannya.


****


Sementara itu di tempat yang lain, Dinda duduk termenung di kursi yang menghadap ke arah luar jendela kamarnya itu.


Di luar masih terdengar suara rintik-rintik hujan yang belum berhenti sedaritadi, airnya menggenangi sebagian tanah dan taman yang ada di depan rumah Dinda itu.


Ceklek!


Bu Lilis masuk ke dalam dan langsung duduk di samping Dinda.


"Belum tidur Din?"


"Apa ada yang kau pikirkan? Bagaimana hubungannya dengan Dio?" tanya Bu Lilis.


"Entahlah Bu, aku juga bingung!" sahut Dinda.


"Lho kok malah bingung? Kau harus yakin pada hatimu Nak, tidak baik menggantung perasaan orang!" ucap Bu Lilis.


"Aku takut Bu, melangkah bersamanya akan banyak badai dan rintangan di depan nanti!" sahut Dinda.


"Kau sama dengan ibu, dulu Ibu juga takut, tapi wajar Ibu takut, dulu Ibu bermain dengan suami orang, sedangkan kau kan tidak, jadi apalagi yang kau takutkan??" tanya Bu Lilis.


Dinda menoleh ke arah Bu Lilis dan menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu.


"Bu, kenapa Ibu sangat membenci Ayah?" tanya Dinda.


Bu Lilis terdiam sesaat lamanya.

__ADS_1


"Ibu sebenarnya tidak membencinya Nak, Ibu mencintai Ayahmu, tapi waktu dan tempat yang salah, Ayahmu sudah beristri meskipun mereka sering sekali cekcok! Perasaan bersalah yang membawa Ibu pergi darinya, Ibu sangat berdosa!" Bu Lilis mulai menangis.


"Di mana keberadaan Ayah sekarang Bu?" tanya Dinda.


"Untuk apa kau menanyakan itu?"


"Hanya ingin tau saja, siapa tau aku bisa bertemu dengan Ayahku, kalau dia masih hidup!" sahut Dinda.


"Apa kau sangat ingin bertemu dengannya??" tanya Bu Lilis.


"Kalau aku bertemu Dengan nya, aku hanya ingin menanyakan kenapa dia tidak menikahi Ibu? Kenapa justru Ibu yang pergi meninggalkannya?" ungkap Dinda.


"Ibu sudah di usir Nak, karena Ibu adalah orang ketiga, dan di sebut pelakor, sakit hati Ibu saat itu, apalagi Ibu pergi dalam keadaan mengandung kamu!" ucap Bu Lilis.


kemudian Bu Lilis bangkit dari tempatnya dan keluar dari kamar Dinda, dan Tak lama kemudian dia sudah kembali lagi ke kamar itu, sambil membawa selembar foto berukuran kecil di tangannya.


"Ini foto ayahmu, kau simpanlah, siapa tahu nanti kau akan bisa bertemu dengannya!" lanjut Bu Lilis dengan tangan sedikit gemetar.


Dinda mengambil foto dari tangan ibunya itu, menatap sebentar foto itu, foto seorang laki-laki yang terlihat tampan di masa nya.


"Siapa nama ayahku?" tanya Dinda.


"Apakah nama begitu penting untukmu Dinda? Hati ibu sakit setiap kali Bu mengingat namanya!" jawab Bu Lilis.


"Oke Ibu tidak usah menyebut nama, tapi paling tidak Ibu bisa beritahu aku, apa pekerjaan Ayahku? Dulu Ibu bilang katanya dia majikan ibu, Apakah dia seorang dokter, seorang pengusaha atau apa?" tanya Dinda.


"Dia adalah seorang pengacara! dulu Dia adalah seorang pengacara hebat, juga sangat ahli dalam hal hukum, makanya tak heran sejak muda dia sudah begitu kaya raya dan sukses!" jawab Bu Lilis.


Dinda terdiam beberapa saat lamanya, tiba-tiba pikirannya teringat pada Dio.


Dio juga adalah seorang pengusaha muda yang sukses, menghadapi orang-orang kaya, banyak sekali tantangan dan masalahnya.


Belajar dari pengalaman ibunya, Dinda semakin takut dan berhati-hati dalam melangkah, apalagi dia menyadari dirinya adalah anak yang lahir diluar pernikahan.


Akan banyak pandangan miring terhadap nya, jika melihat masa lalunya itu, dan tidak heran pada waktu itu, Ken membatalkan pernikahan hanya karena masalah itu.


"Kalau keluarga Dio tahu tentang masa lalumu, sebenarnya Ibu juga takut kau akan mendapat penolakan seperti dulu! Tapi melihat ketulusan hati Dio, Ibu menjadi yakin bahwa Dio bisa mengatasi segalanya!" ucap Bu Lilis sambil mengelus lembut bahu Dinda.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2