
Keyla sedikit terkejut, dia tidak menyangka kalau Ayahnya akan kembali meminta restu darinya, terkait keinginannya untuk menikahi Bu Lilis, Ibunya Dinda.
"Bagaimana Nak? Ayah butuh seorang pendamping untuk menemani masa tua Ayah, kau tau kan, Ayah sudah lama sekali menduda, bahkan sejak kau masih kecil!" ucap Pak Dirja.
"Tidak Ayah, untuk masa tua Ayah jangan khawatir, aku yang akan mengurus Ayah dan menjaga Ayah!" kata Keyla.
"Tapi Nak ..."
"Tidak Ayah, aku tidak setuju, aku bilang tidak ya tidak!" potong Keyla cepat.
Pak Dirja terdiam mendengar perkataan Keyla, dia tidak bicara lagi, wajahnya nampak sedih.
"Mbak Key jangan seperti itu, sesekali pikirkan kebahagiaan orang lain!" cetus Ken yang langsung duduk di sampingnya.
"Jangan ikut campur Ken, dia Ayahku!" cetus Keyla.
"Dia juga Ayahku, Ayah mertuaku!" balas Ken.
"Urusi saja dirimu sendiri! Kenapa harus mengurus urusan Ayah!?" lanjut Keyla.
"Karena kau istriku, apa yang jadi urusanmu dan Ayah, akan menjadi urusanku!" seru Ken.
"Dasar pecundang!" sungut Keyla.
"Sudah jangan ribut! Ayah pusing!" seru Pak Dirja sambil berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya, meninggalkan piring makanannya yang belum habis.
"Ayah!" panggil Keyla, namun Pak Dirja tidak menoleh dan terus berjalan hingga masuk ke dalam kamarnya.
"Puas Mbak?? Kamu sudah melukai hati Ayah! Apa itu yang di sebut bisa membahagiakan orang tua??" sentak Ken.
Keyla terdiam, seolah menyadari kalau dia telah melukai hati sang Ayah.
"Mungkin Ayah memang pernah punya kesalahan di masa lalu, tapi apakah dengan begitu Ayah tidak berhak bahagia?? Ayo jawab aku!" lanjut Ken.
"Bukan begitu maksudku Ken, aku hanya tidak ingin ..."
"Kamu egois Mbak, hanya karena kamu tidak menyukai Dinda dan Ibunya, kamu membatasi impian dan kebahagiaan Ayahmu sendiri, cobalah untuk memahami Ayah dan apa yang dia butuhkan, bukan apa yang kau inginkan!" ungkap Ken yang ikut berdiri dan meninggalkan Keyla seorang diri di ruang makan itu.
Entah mengapa ada yang mengalir di pipi Keyla, hatinya sedih karena dia sudah melukai hati Ayahnya.
Sudah tidak ada lagi selera makannya, Keyla terus menangis, menyesal telah mengucapkan kata-kata yang membuat hati Ayahnya sakit.
"Maaf Mbak Keyla, itu kenapa makanannya pada tidak di makan ya?" tanya Bi Titi yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Keyla buru-buru mengusap wajahnya yang basah.
"Tolong di bereskan saja Bi, buang saja makanan yang tidak habis itu!" jawab Keyla sambil cepat-cepat berlalu dari tempat itu.
__ADS_1
Bi Titi hanya memandang kepergian Keyla dengan tatapan heran.
Keyla langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Ken yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya nampak sedikit terkejut.
"Lho Mbak, ada apa? Kok nangis??" tanya Ken.
"Ken, apakah kata-kataku tadi menyakiti hati Ayah??" tanya Keyla sambil menangis.
"Ya jelaslah, tuh sadar!" sahut Ken.
"Selama ini, Ayah sangat sayang padaku, dia selalu menjodohkan aku dengan orang-orang terbaik dan berkualitas, hanya saja aku yang kurang layak, saat kau menikahiku, dia juga tidak pernah menyalahkan aku!" isak Keyla.
Ken tertegun, dengan sigap dia bangkit dan mendekati Keyla, lalu mengusap bahu Keyla, mencoba menenangkan hati istrinya itu.
"Sudahlah Mbak, belum terlambat kok untuk minta maaf!" ucap Ken.
"Aku menyesal Ken!" kata Keyla.
"Nanti aku temani minta maaf pada Ayah, sekarang kau istirahatlah, kasihan bayi kita kalau Mamanya sedih!" bisik Ken yang langsung memeluk Keyla dengan erat.
"Ken ... kamu jangan kemana-mana ya!" ucap Keyla.
"Tumben Mbak, biasanya aku selalu di usir terus sama Mbak Keyla!" sahut Ken bingung.
"Memangnya aku sudah boleh tidur satu ranjang dengan Mbak Key??" tanya Ken senang.
"Kamu duduk saja, aku yang tidur, awas jangan kemana-mana!" sahut Keyla yang mulai membaringkan tidurnya.
"Oke lah Mbak, demi istri dan calon anak, tidak apa-apa lah aku duduk saja!" kata Ken sedikit kecewa.
"Awas jangan modus!" cetus Keyla.
"Tenang Mbak, walau aku selalu berharap kapan aku bisa memberikan Mbak Key nafkah batin, tapi aku akan sabar menunggu!" ucap Ken sambil terus mengusap-usap punggung Keyla.
Keyla diam saja tanpa menjawab ucapan Ken, entah mengapa siang ini hatinya begitu hangat berada di dekat Ken.
****
Malam ini di rumah Dio, Bu Lilis masih nampak duduk di teras, sambil memandang hujan yang turun sejak sore tadi.
"Bu, masuk, di luar dingin!" kata Dinda yang tiba-tiba datang menghampiri Bu Lilis, dia lalu duduk di samping Ibunya itu.
"Sebentar lagi Din, Ibu masih mau di sini!" sahut Bu Lilis.
"Kalau begitu, aku temani Ibu ya!"
__ADS_1
"Kau temani saja suamimu, atau Chika, nanti mereka mencarimu!"
"Tidak kok Bu, Mas Dio sedang bawain puzzle dengan Chika!" ucap Dinda.
"Din, besok Ibu pulang ke Bandung ya!" kata Bu Lilis tiba-tiba.
"Tapi kenapa Bu? Baru juga sebentar Ibu di sini, menginaplah lebih lama lagi, apa Ibu kurang nyaman??" tanya Dinda.
"Bukan begitu Nak, Ibu hanya merasa kalau di Bandung Ibu lebih tenang dan damai!" jawab Bu Lilis.
"Apa ini ada hubungannya dengan Ayah Dirja?" tanya Dinda.
Bu Lilis terdiam tanpa menjawab pertanyaan Dinda.
"Bu, kalau memang Ibu dan Ayah Dirja mau bersatu dan hidup bersama, aku tidak keberatan kok, aku tau Ibu juga butuh teman hidup di masa tua Ibu, yang bisa saling berbagi dan saling memperhatikan!" lanjut Dinda.
"Ibu takut Din ..."
"Apa yang Ibu takutkan? Mbak Keyla??" tanya Dinda. Bu Lilis menganggukan kepalanya.
"Bu, sejak Mbak Keyla menikah dengan Ken, dia terlihat sudah banyak berubah, tidak searogan dulu lagi, Ken juga berubah jadi lebih dewasa!" ungkap Dinda.
"Iya Din, Ibu juga melihat itu!" sahut Bu Lilis.
"Bu, jangan lagi Ibu memendam sesuatu, itu sangat menderita Bu, cukup sudah selama bertahun-tahun ini Ibu memendam rasa, sekarang saatnya Ibu bahagia!" ucap Keyla.
"Mama!"
Tiba-tiba Chika datang menghampiri mereka.
"Eh, Chika sudah selesai mainnya?" tanya Dinda.
"Sudah Mama, sekarang kita mau keluar sama Papa!" sahut Chika.
"Keluar sama Papa? Mau kemana?" tanya Dinda.
"Mau makan enak, Mama sama Nenek ikut ya!" sahut Chika.
Tak lama Dio nampak keluar dari dalam rumahnya dan menghampiri mereka.
"Let's go! Kita makan malam di luar hari ini!" kata Dio yang nampak antusias.
"Eh, ada angin apa ini? Tumben ajak makan malam di luar hujan-hujan begini?" tanya Dinda bingung.
"Aku baru memenangkan sebuah proyek besar sayang, dan aku ingin merayakan nya bersama kalian!" jawab Dio senang.
Bersambung ....
__ADS_1
****