
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia sudah memesan tiket untuk pulang kembali ke Jakarta.
Pengalamannya di Papua selama dua hari ini cukup membuatnya sedikit kapok, tidak akan lagi menginjakkan kaki di Tanah ini.
Saat ini keluarga almarhumah Ranti memang tengah mengincar Chika, karena Chika adalah satu-satunya anak Ranti keturunan generasi mereka, namun dia tidak membiarkan Chika begitu saja diambil oleh mereka.
Walau bagaimana, selama ini dia sudah berjerih lelah mengurus dan membesarkan Chika bahkan sejak Chika masih kecil.
Melalui pengalaman itu, Dio bertekad akan selalu menjaga keluarganya dengan sebaik-baiknya, bahkan kalau perlu dia akan segenap hati untuk menjaga istri dan anaknya itu, dengan tangannya sendiri, sehingga keluarga kecilnya tetap utuh dan bahagia.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, Dio, Dinda dan Chika akhirnya tiba di tempat kediaman mereka.
Di parkiran rumah Dio, sudah ada mobil lain, ternyata Pak Frans dan Bu Lian sudah sampai di rumah Dio.
Mbak Yuyun membantu membawakan koper dan tas oleh-oleh.
"Ayah dan Bunda di mana Mbak?" tanya Dio.
"Lagi istirahat di kamarnya Pak!" jawab Mbak Yuyun.
Setelah itu, Mbak Yuyun menemani Chika membersihkan tubuhnya dan beristirahat di kamarnya, anak itu juga kelihatan sangat lelah.
Dio kemudian menuntun Dinda berjalan naik ke atas menuju ke kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya, Mereka kemudian langsung membersihkan diri mereka lalu beristirahat.
Nanti setelah mereka beristirahat, mereka baru mengobrol dengan Pak Frans dan Bu Lian yang baru tiba itu.
"Mas Dio, aku nyaris tidak percaya lho, setelah apa yang kamu ceritakan tentang pengalamanmu pergi ke rumah keluarga mendiang istrimu itu, Masa sih mereka bersikap seperti itu pada dirimu dan juga Chika!" ucap Dinda.
"Ya itulah, aku juga tidak menyangka, padahal awalnya niat Aku hanya ingin bersilaturahmi saja, dan memperkenalkan Chika dengan keluarga dari pihak mama kandungnya itu, tapi ternyata mereka malah menuntut lebih, mulai hari ini aku akan jaga keluargaku baik-baik, tidak ada yang boleh mengambil Chika dari tanganku, siapapun dia!" Kata Dio.
__ADS_1
Mereka kemudian mulai membaringkan tubuh mereka di tempat tidurnya itu, rasanya begitu nyaman sekali hingga tak terasa Mereka kemudian mulai tertidur.
Sementara itu di lantai bawah, setelah menidurkan Chika, Mbak Yuyun kemudian mulai menyiapkan makanan untuk makan malam.
Tiba-tiba Bu Lian masuk ke dapur yang membuat Mbak Yuyun sedikit terkejut
"Eh Nyonya, tumben Nyonya masuk ke sini, saya masih belum selesai Nyonya, mungkin nanti sebentar lagi akan selesai kok!" ucap Mbak Yuyun sedikit gugup.
"Memangnya kau pikir aku tidak pernah masuk dapur? Oh iya, ke mana anak dan menantu ku? kenapa Rumah ini begitu sepi sekali, sejak kami datang?" tanya Bu Lian.
"Oh Pak Dio dan Bu Dinda sedang istirahat di kamarnya Nyonya, mereka kan baru tiba dari Papua!" jawab Mbak Yuyun.
Bu Lian nampak sedikit terkejut mendengar Dio dan Dinda yang pergi ke Papua itu, Bu Lian berpikir, tumben sekali Dio berpikir untuk bersilaturahmi terhadap keluarga mendiang istrinya itu, padahal sebelumnya Dio begitu cuek.
"Ngapain mereka ke Papua? seperti tidak ada tempat yang lebih bagus aja!" gumam Bu Lian.
"Tidak tahu Nyonya, Katanya sih mau ke rumah keluarga mendiang istrinya pak Dio dulu!" sahut Mbak Yuyun.
Setelah itu, wanita paruh baya itu nampak melangkah meninggalkan ruangan dapur
****
Tidak seperti biasanya, hari ini Ken pulang lebih cepat ke rumah, padahal beberapa hari yang lalu Ken sempat lembur dan pulang malam.
Kini Ken sudah pulang ke rumah, padahal waktu baru saja menunjukkan jam 4 sore, dan matahari Masih kelihatan bersinar terang.
Keyla nampak sedang membantu membuat puding di dapur juga menyiapkan bahan makanan untuk makan malam nanti.
Tiba-tiba Ken datang ke dapur dan langsung memeluk Keyla dari belakang.
"Wah sekarang istriku rajin sekali! aku sangat senang sekali melihatmu kini bisa bergelut di dapur seperti ini, tidak seperti yang dulu!" ucap Ken sambil mencium rambut dan leher Keyla.
__ADS_1
Ken tidak memperdulikan kehadiran Bi Titi dapur itu, sehingga membuat Bi titi menjadi risih dan malu sendiri melihat ulah Ken.
"Ken, sudah jangan peluk-peluk, malu tahu! lebih baik sekarang kamu mandi, setelah itu baru deh kita makan sama-sama!" kata Keyla sambil sedikit menguraikan pelukan Ken itu.
"Yah padahal aku baru saja ingin mengajakmu mandi bersama, kau malah mengusirku!" sungut Ken.
"Hush! Kamu ini bicara apa sih? Tidak malu di dengar Bi Titi??" ujar keyla.
"Malu kenapa sih? Kan sama istri sendiri, kalau sama istri orang lain baru malu!" sahut Ken.
"Hmm, susah ya bicara dengan bocah!" cetus Keyla.
"Biar bocah tapi kan punyaku besar Mbak, bisa memuaskan kamu kan!" balas Ken.
Spontan Keyla menutup mulut len dengan tangannya, kemudian menarik tangan Ken keluar dari dapur itu.
Bi Titi nampak senyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
lalu terus menarik tangan Ken menuju ke kamar mereka, setelah itu ia langsung menutup pintu kamarnya itu dan menatap tajam ke arah Ken yang sejak tadi tertawa cengengesan
"Jaga kelakuan Ken! Kamu selalu saja membuat aku malu!" seru Keyla.
"Malu-malu tapi mau kan? Hayo, ngaku deh sayang, kamu sengaja menarik tanganku karena sudah kangen padaku kan?!" ledek Ken.
Wajah Keyla memerah, ken memang paling bisa membuat dia salah tingkah dan jadi keki.
Pada saat Keyla bengong, dengan cepat Ken mengangkat tubuh Keyla dan membawanya masuk ke kamar mandi.
"Sore ini kita akan mandi bersama, jangan jaim dan pura-pura sayang, kamu senang kan, saat aku menyentuhmu!" lanjut Ken yang langsung melucuti pakaiannya Keyla tanpa rasa malu itu.
Bersambung ....
__ADS_1
****