Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Dio Mulai Sadar


__ADS_3

Dinda tertegun menatap Keyla yang kini berdiri di hadapannya. Karena begitu panik, cemas, dan khawatir tentang Dio dan Chika, sampai Dinda lupa kalau ada orang lain di kamar itu selain dirinya, dia adalah Keyla.


"Mbak Keyla, bagaimana kondisi kesehatan Chika dan Pak Dio?" tanya Dinda mencoba untuk memberanikan diri.


"Kau lihat saja sendiri, bagaimana keadaannya! Kalau bukan karena dia ingin menemuimu, tentunya dia tidak akan seperti sekarang ini!" sahut Keyla.


Dinda terdiam, tiba-tiba dia merasa sangat bersalah. Dinda mengakui kalau malam ini Dio kecelakaan karena ingin menemuinya, dan mengajak makan malam.


Andai saja saat itu Dinda menolak keinginan Dio, mungkin saja dia bisa terhindar dari kecelakaan itu.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, saat ini di hadapannya, Dio sudah terkapar tak berdaya dan masih belum sadar.


"Papa! Papa! Sakit Pa!"


Tiba-tiba Chika terbangun dan berteriak, buru-buru Dinda menghampirinya.


"Chika, jangan takut sayang, Bu Dinda di sini, Chika jangan khawatir, kau akan baik-baik saja!" ucap Dinda sambil membelai rambut Chika.


"Bu Dinda? Tadi aku dan Papa ketabrak mobil Bu, Papa peluk aku supaya aku tidak luka! Papa mana Bu?" tanya Chika sambil menangis.


"Ssst, itu Papa, lagi istirahat di sebelah Chika lho!" jawab Dinda sambil menunjuk ke ranjang sebelah ranjang Chika.


Chika menoleh ke samping, berusaha untuk bangun, namun tangan Dinda mencegahnya.


"Kau mau kemana Chika? Di sini saja istirahat, Papa kan juga istirahat!" cegah Dinda.


"Dinda, sebaiknya kau pulang saja, biar aku yang menjaga Dio dan mengurus Chika!" kata Keyla tiba-tiba.


"Tidak Mbak, aku harus di sini, Chika pasti membutuhkan aku!" sergah Dinda.


"Kan ada aku, lebih baik kau pulang saja, bukankah kau harus mengajar besok?" kata Keyla.


Dinda terdiam, dia baru menyadari kalau besok dia sudah harus masuk ke sekolah, setelah dia cuti beberapa hari lamanya.


Pak Roni juga tidak akan mau dengan alasan apapun, kalau Dinda mengajukan cuti kembali.


"Oke, besok aku pasti akan mengajar di sekolah, tapi aku ingin malam ini aku menjaga Chika, aku harus pastikan kalau dia baik-baik saja!" kata Dinda.


"Iya, tante Keyla yang pulang, Bu Dinda jangan!" celetuk Chika.


Keyla yang merasa terpojok akhirnya diam saja, dia lalu kembali duduk di samping Dio.

__ADS_1


sementara Dinda kembali menidurkan Chika, karena hari sudah larut sekali, sudah hampir jam satu dini hari.


Hingga akhirnya Chika kembali tertidur saat Dinda membelai-belai rambutnya.


"Dinda ... Dinda ..."


Tiba-tiba terdengar suara Dio yang memanggil-manggil nama Dinda. Dinda yang terkejut langsung menoleh, Dio nampak menggerak-gerakkan tangannya, walaupun matanya masih terpejam.


"Mbak Keyla, sepertinya Pak Dio sudah sadar, panggilkan Dokter Mbak!" seru Dinda terkesiap.


"Enak saja kau menyuruhku, kau saja yang panggil dokter sana!" cetus Keyla.


tanpa menunggu lagi sama Dinda segera keluar dari ruangan itu dan setengah berlari dia langsung menuju ke tempat suster jaga.


"Suster, Pak Dio sudah sadar, apakah masih ada Dokter?" tanya Dinda.


"Oh, sebentar ya Mbak, saya panggilkan Dokter dulu, Mbaknya duluan saja!" sahut suster itu.


Dinda langsung bergegas kembali masuk ke dalam ruangan yaitu.


Tak lama kemudian, seorang dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan Dio, dokter jaga itu mulai memeriksa kondisi Dio.


"Bagaimana kondisinya dokter? Apakah dia benar-benar sudah sadar?" tanya Keyla.


"Ya, sebentar lagi mungkin dia akan sadar sepenuhnya, kalau begitu saya tinggal, kalau ada apa-apa segera beritahu suster jaga!" jawab Dokter.


Dinda dan Keyla menganggukkan kepala, setelah itu dokter dan suster itu Kembali keluar dari ruang itu, setelah dipastikan kalau kondisi Dio baik-baik saja.


Dio mulai mengerjapkan matanya perlahan-lahan, sehingga matanya kini sudah terbuka, dan Dio nampak bingung, saat melihat suasana di sekelilingnya.


"Aduh, sakit sekali!" lirih Dio.


"Apa yang sakit Mas? Kenapa kau bisa sampai seperti ini?" tanya Dinda sambil menggenggam hangat tangan Dio.


"Dinda ... please, jangan Pergi, tetaplah di sini!" ucap Dio sambil mengeratkan genggaman tangannya.


"Iya Mas!" sahut Dinda.


Keyla yang kesal kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu, wajahnya terlihat cemberut, karena dia merasa dicuekin oleh Dio.


Dio sama sekali tidak memandangnya, meskipun Keyla sejak tadi berada disampingnya.

__ADS_1


"Dinda! Perutku lapar! Lebih baik kau turun ke bawah dan membelikan sesuatu buat kita di sini, beli roti kek atau apa gitu! Dio juga pasti lapar kan!" ujar Keyla.


"Mbak Keyla lapar?"


"Iya, udah tau nanya!" sahut Keyla.


"Mas Dio sebentar ya, aku beli makanan dulu, tidak lama kok!" bisik Dinda.


"Jangan Din, aku butuh kamu saat ini, seluruh tubuhku sakit semua!" keluh Dio.


"Sebentar saja, ada Mbak Keyla kok di sini!" bisik Dinda.


"Huh, kenapa tidak dia saja sih yang turun!" sungut Dio.


"Ssst, sebentar saja!" ucap Dinda sambil mengelus dagu Dio.


Kemudian Dinda segera keluar dari ruangan itu, dan membeli makanan untuk persediaan di kamar rawat.


Setelah Dinda pergi, Keyla kemudian beringsut mendekati Dio dan duduk di sampingnya.


"Dio, yang mana yang sakit? Biar aku usap-usap untuk meredakan rasa sakitnya!" kata Keyla.


"Key, kau duduk saja di sofa, jangan seperti ini!" tukas Dio.


"Memangnya kenapa? Dinda saja tidak masalah ada di sini!" sahut Keyla.


"Ya jelas dia tidak masalah, dia kan calon istriku!" ucap Dio.


Keyla terdiam, sesungguhnya ada rasa sakit di dalam hatinya yang dirasakan.


Penolakan Dio itu seperti pisau tajam yang menghujam Jantung nya.


"Apa aku begitu buruk di hadapanmu? Sehingga sedikitpun kau tidak pernah mau memandangku!" tanya Keyla.


"Aku tidak bilang kau buruk, tapi kau hanya belum menemukan seseorang yang bisa mengapresiasi mu dengan sepenuh hatinya!" jawab Dio.


Wajah Dio terlihat pucat, dan sesekali dia meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya, sakit yang amat sangat yang dirasakan, namun dia harus menahannya di depan Keyla.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2