Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Pak Dirja terkesima saat Keyla menatap tajam ke arahnya, seperti ada sesuatu yang di pendamnya selama ini, rasa kecewa dan marah namun tidak bisa terungkapkan.


"Ayah ... di hadapan orang lain mungkin aku ini orang yang menyebalkan dan murahan, tapi pernahkah sedikit saja aku melawan Ayah? Selama ini aku selalu berdiri di depan Ayah, dan aku sama sekali tidak menyangka Ayah akan sepicik itu berselingkuh dengan seorang pengasuh!" ucap Keyla.


Pak Dirja terdiam, dia sadar kalau dia memang memiliki kesalahan di masa lalunya, masa lalu yang bahkan sudah mulai terkikis dan terabaikan, tapi siapa sangka kini muncul kembali secara tiba-tiba.


"Maafkan Ayah Keyla, waktu itu Ayah khilaf, dan Ayah mengaku salah!" jawab Pak Dirja.


"Tanpa Ayah mengakupun, memang Ayah sudah salah!" cetus Keyla.


"Key, tidakkah kita bisa memperbaiki sesuatu yang salah itu??" tanya Pak Dirja.


"Apa maksud Ayah? Apa yang harus di perbaiki?"


"Hubungan!" ucap Pak Dirja.


"Hubungan?"


"Ya, walau bagaimana, Bu Lilis itu pernah menjadi masa lalu Ayah, dan Dinda adalah anak biologis Ayah juga, yang berarti dia itu adalah adikmu!" jelas Pak Dirja.


Keyla memalingkan wajahnya kembali menghadap ke jendela luar.


"Tidak semudah itu Ayah! Ayah pikir aku bisa begitu saja menerima mereka dan mengakui Dinda begitu saja? Tidak!" tegas Keyla.


Pak Dirja menarik nafas kecewa.


"Baiklah Nak, sekali lagi maafkan Ayah, asal kau tau, Ayah selalu berusaha untuk mencarikanmu jodoh yang terbaik, apalagi kau sudah benar-benar dewasa dan pantas untuk menikah dan berumah tangga!" ungkap Pak Dirja.


Tanpa sadar, kembali air mata Keyla mengalir membasahi pipinya, apalagi saat dia teringat Ken yang sudah merusak mahkota yang selama ini di jaganya.


Keyla benar-benar hancur, sudah tidak ada lagi harapan untuk menikahi seorang laki-laki mapan dan berkelas seperti impiannya selama ini, semuanya di rusak oleh Ken dalam waktu semalam saja.


Pak Dirja maju dan memeluk putrinya itu, seolah dia tau dan ikut merasakan apa yang Keyla rasakan saat ini.


"Jangan menangis Key, hati Ayah sakit melihat kamu menangis seperti ini!" ucap Pak Dirja.


****


Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, semua murid-murid sekolah berhamburan keluar kelas, saat pulang sekolah adalah saat yang paling menyenangkan.


Chika juga terlihat keluar dari kelasnya, setelah dia membereskan buku pelajaran sekolah di mejanya itu.


"Chika!" panggil Bu Dita yang masih terlihat duduk di meja sudut kelas itu.


Chika yang baru saja keluar kelas langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Bu Dita.


"Ada apa Bu Dita?" tanya Chika.


"Sini deh, ada yang mau Bu Dita tanya!" sahut Bu Dita.

__ADS_1


Chika kemudian langsung masuk kembali ke dalam kelasnya itu, dan duduk di hadapan Bu Dita.


"Chika hari ini pulang sama siapa?" tanya Bu Dita.


"Sama Papa dan Mama dong!" sahut Chika bangga.


"Hmm, lain deh yang sekarang sudah punya Mama!"


"Iya dong, lagian kenapa sih Bu Dita kepo saja!" cetus Chika.


"Kan cuma tanya, Oya Chika, setelah jadi Mama Chika, Bu Dinda bakalan ngajar di sekolah lagi atau tidak?" tanya Bu Dita lagi.


"Tidak tau deh, tapi kata Papa, terserah Mama, asal Mama senang!" jawab Chika.


Bu Dita manggut-manggut sambil memegangi dagunya.


"Kapan-kapan Bu Dita boleh ya main ke rumah Chika!" kata Bu Dita.


"Boleh saja sih, tapi mau ngapain Bu?" tanya Chika.


"Ya mau ketemu sama Bu Dinda, kan kangen, Bu Dita kan teman Bu Dinda!" sahut Bu Dita.


"Bu Dita lucu deh, kalo kangen kan Mama sekarang datang, kenapa tidak ngobrol saja di bawah? Kangen apa kangen!" cetus Chika.


Bu Dita terlihat salah tingkah mendengar ucapan Chika yang ceplas ceplos itu.


Chika menganggukan kepalanya, setelah itu dia segera berjalan keluar dari kelas menuju ke bawah, di susul oleh Bu Dita.


"Papa!" panggil Chika saat melihat Dio yang sudah duduk menunggunya di bangku lobby yang kini agak mulai sepi itu.


Dio bangkit dan langsung melangkah untuk memeluk Chika yang kini berlari ke arahnya.


"Kau dari mana saja sayang? Papa nungguin lho dari tadi!" tanya Dio.


"Ngobrol sama Bu Dita Pa, oya, Mama mana?" tanya Chika balik, saat di lihatnya Dio tidak bersama Dinda.


"Mama sedang membantu Oma masak untuk makan siang kita sayang, kita langsung pulang yuk, sudah lapar kan?" sahut Dio.


Chika menganggukan kepalanya.


Dio kemudian langsung menggandeng tangan Chika berjalan keluar dari lobby menuju mobilnya yang terparkir di parkiran sekolah itu.


****


Aroma makanan lezat tercium nikmat saat Dio dan Chika turun dari mobil.


Mereka dengan tidak sabar langsung masuk ke dalam rumah untuk makan siang.


Mbak Yuyun nampak membawakan tas Chika dan membantu mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Dinda terlihat sibuk menata aneka hidangan di meja makan besar itu.


"Mas Dio sudah pulang? Cuci tangan dan bersih-bersih dulu sana, setelah itu makan siang!" kata Dinda.


Dio bukannya beranjak malah memeluk Dinda dari belakang.


"Kangen sayang, rasanya pengen kekepin terus punya istri kesayangan begini!" bisik Dio sambil menciumi leher istrinya itu.


"Mas Dio apaan sih! Malu ada Ayah dan Bunda! Sudah sana, jangan mesum di sini!" sergah Dinda sambil melepaskan pelukan Dio.


"Ah, awas saja setelah makan siang nanti, aku boyong kamu ke kamar, dan kekepin sampai malam!" ancam Dio sengaja senyum menyeringai.


Dinda bergidik, membayangkan apa yang akan Dio lakukan nanti terhadapnya.


Pak Frans dan Bu Lian muncul dan langsung duduk di ruang makan itu, tak lama kemudian Chika juga sudah berganti pakaian dan langsung duduk di samping Opa dan Omanya.


"Dio, kapan kau akan pakai tiketmu itu untuk berangkat bulan madu?" tanya Pak Frans.


"Akhir pekan ini Ayah, kata Dinda dia masih ingin melayani di rumah ini dan membantu Bunda!" jawab Dio yang langsung bergabung duduk, lupa cuci tangan dan bersih-bersih.


"Bagus! Jangan lama-lama kau pakai tiket itu, semua hotel dan segala sesuatu yang sudah Ayah urus semua, kalian tinggal menikmatinya Saja!" lanjut Pak Frans.


"Trimakasih Ayah, Bunda!" ucap Dio.


"Kau pergilah berbulan madu Dio, lebih cepat lebih baik, supaya cepat dapat cucu lagi Bunda!" timpal Bu Lian.


Dinda dan Dio saling berpandangan dan menelan ludahnya, sampai hari ini, Dinda masih perawan.


"Bunda jangan khawatir, kalau urusan yang satu itu sih, tidak usah di suruh!" sahut Dio.


Mereka mulai menikmati santap siang mereka.


Ting... Tong ...


Tiba-tiba terdengar suara bel dari arah depan gerbang rumah Dio.


Mbak Yuyun nampak berjalan tergopoh-gopoh ke arah gerbang.


Bersambung ....


****


Hai Readers ...


Bagi yang belum membaca novel author yang berjudul "Cinta Di Atas Luka", Author sarankan baca ya, karena latar belakang dari cerita ini berasal dari novel itu, tentang siapa Dio, Keyla dan Dinda sebelum Mereka saling berhubungan.


Jangan lupa tetap selalu mendukung karya author ini ya ...


Trimakasih...😇🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2