Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Setelah tiga hari lamanya Dinda pulang ke Bandung, hari ini dia kembali ke Jakarta dengan kereta api.


Di dalam kereta api, Dinda mulai kembali membuka ponselnya yang selama ini sengaja di nonaktifkan.


Selama di Bandung Dinda tidak ingin ada hal apapun yang mengganggunya, sehingga dia sengaja mematikan ponselnya.


Selama 3 hari ini banyak sekali notifikasi di ponselnya itu, mulai dari pesan singkat, panggilan masuk, hingga beberapa panggilan video, dan yang paling banyak adalah panggilan dari Dio, sudah berapa ratus kali Dio memanggilnya dan menulis pesan singkat di ponsel Dinda.


'Dinda kau membuatku gila!"


'Please jangan siksa hatiku, aku sangat merindukanmu, hujan yang jadi saksinya!'


'Kapan kau kembali sayang, tidakkah kau tau kalau rindu itu berat?'


'Aku ada kabar bagus untuk kita, tidakkah kau ingin mendengarnya?'


'Dinda ... I Love you more and more!"


Dina senyum-senyum sendiri membaca pesan singkat dari Dio.


Dio yang dewasa itu, statusnya duda namun gaya bicaranya persis seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.


Perlahan Dinda menekan nomor ponsel Dio, dalam hati dia juga sudah sangat merindukan laki-laki itu.


Pembicaraan dengan ibunya membuat Dinda sadar, bahwa dia tidak salah jika memilih Dio, seorang laki-laki yang tulus untuk menjadi pendamping hidupnya, karena Dio bukan milik siapapun, statusnya benar-benar single, bukan pria beristri.


"Halo Dinda, kau kemana saja? Hampir saja aku lapor polisi karena kehilanganmu, katakan padaku, di mana keberadaanmu? Aku akan langsung datang menjemputmu!" terdengar suara Dio yang langsung menyerocos di sebrang telepon.


"Sudah bicaranya??"


"Ya, cepat katakan di mana dirimu??"


"Aku masih dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, mungkin sekitar setengah jam lagi aku akan sampai di stasiun!" kata Dinda.


"Stasiun? Oke, aku langsung meluncur ke sana! Pokoknya kau jangan kemana-mana sebelum bertemu denganku di stasiun!" ucap Dio.


"Iya Pak!"


"Bisakah tidak memanggilku Pak? Aku bukan Bapakmu!" cetus Dio.


"Oke deh Om!"


"Astaga, kau pikir aku sugar daddy??"


Dinda tertawa cekikikan sebelum dia menutup panggilan teleponnya itu.


****

__ADS_1


Dinda turun dari kereta api di Stasiun Jakarta Kota.


Dari kejauhan Dio nampak melambaikan tangannya sambil berjalan cepat kearah Dinda.


Pada saat mereka sudah saling mendekat, Dio langsung memeluk Dinda dengan erat, seolah menumpahkan rasa Rindunya itu, padahal Baru beberapa hari mereka berpisah.


"Ah, baru berapa hari rasanya sudah seperti setahun, mana bisa aku terlalu lama jauh darimu!" bisik Dio.


"Sudah Pak jangan peluk-peluk, malu di lihat orang!" tukas Dinda yang langsung menguraikan pelukan Dio.


"Bodo amat dengan orang lain! Paling juga mereka iri melihat kita!" sahut Dio yang kembali memeluk Dinda.


"Jangan Pak, nanti kita viral, tau sendiri sekarang jaman digital!" ujar Dinda.


"Memangnya kau tidak kangen padaku apa??" tanya Dio.


"Sedikit!"


"Ah, kau benar-benar curang! Sudah membuat aku tak bisa tidur siang malam!" ujar Dio sambil menggandeng tangan Dinda berjalan menuju parkiran mobil.


"Chika tidak di ajak Pak?" tanya Dinda.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil itu.


"Sengaja aku tidak mengajaknya, dari pada dia mengganggu kita!" sahut Dio.


"Ya, dengan ulah usil dan konyol nya itu, lagi pula hari ini aku hanya ingin berdua denganmu!" ungkap Dio.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di apartemen, Dio langsung membawakan tas Dinda dan menuntunnya masuk ke dalam apartemennya itu.


Setelah sampai di apartemennya, Dinda menghempaskan tubuhnya di sofa yang empuk itu, tubuhnya lumayan pegal setelah dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta.


"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Dio sambil membuatkan minuman dingin untuk Dinda.


"Ibu sehat, dia menitipkan salam untukmu!" sahut Dinda.


"Kenapa kau tidak membawa ibumu ke sini? kau tau tidak, Kemarin ayahku menelepon dari Singapura, dia merestui hubungan kita, dan secepatnya aku akan melamarmu!" ucap Dio sambil menggenggam tangan Dinda dan mengecupnya dengan lembut.


"Benarkah?"


"kau tidak percaya? Apa perlu aku menelpon Ayahku sekarang juga untuk membuktikannya?" tanya Dio.


Dinda langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan Pak, Baiklah, aku percaya!" ujar Dinda.


"Nah begitu dong! Mulai sekarang kau adalah calon istriku, Cintailah aku dengan sepenuh hatimu!" ucap Dio sambil menatap wajah Dinda dengan hangat dan lembut.

__ADS_1


Dinda diam saja tidak menjawab ucapan Dio, seperti biasanya lidahnya akan terasa kelu dan kaku setiap kali Dio mengatakan kata-kata cinta padanya.


"Sebentar lagi Chika akan berulang tahun, dan pada saat itulah aku akan melamarmu, Chika pasti senang karena aku sudah memberikan hadiah yang dia inginkan selama ini!" lanjut Dio.


"Lalu bagaimana dengan Bundamu?" tanya Dinda.


"Kau jangan khawatir, urusan Bunda biar Ayah yang mengurusnya, Ayah bilang, urusanku hanyalah melamar mu, itu saja!" jawab Dio.


Ada yang menghangat di dalam hati Dinda, Dinda merasa begitu nyaman dan bahagia berada dekat Dio, Dio sanggup memberikan Dinda Sebuah harapan dan impian tentang masa depan.


Setelah impian dan harapannya dulu pernah hancur pada saat Ken melukai hatinya dan meninggalkannya.


Namun semuanya kini telah tergantikan oleh ketulusan cinta seorang Dio, duda beranak satu yang saat ini ini sangat memikat hati Dinda.


"Kenapa kau diam saja sejak tadi? Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu padaku??" tanya Dio.


"Aku tidak tau harus berkata apa lagi Pak!" sahut Dinda.


"Hmm, Pak lagi, memangnya aku persis seperti bapak-bapak begitu ya?" Dio mulai cemberut.


"Yah namanya juga duda, mana ada yang muda, wajarlah kalau di panggil bapak!" cetus Dinda.


"Panggil aku yang lain, asal jangan Pak Pak! Aku sudah bilang kalau aku bukan Bapakmu!" sungut Dio.


"Lalu aku harus memanggil apa dong?" tanya Dinda.


"Panggil Mas Dio saja!" sahut Dio.


Dinda tertawa sambil menutup mulutnya.


"Pengen banget ya di panggil itu?"


"Iya, rasanya lebih mesra saja, apalagi ada kata sayang di belakangnya!"


"Hmm, Mas Dio!"


"Iya sayang!"


"Mas Dio, Mas duda!"


"Hush! jangan sebut-sebut duda lagi, sebentar lagi aku bukan duda!" protes Dio.


Dinda tersenyum dan kemudian langsung mengecup pipi Dio dengan lembut.


"Alamak!! Calon istriku sudah mulai agresif!!" seru Dio kegirangan.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2