
Dio dan Chika masih duduk di ruang tamu rumah orangtua almarhumah istrinya itu.
Dio tidak bisa lagi lagi mengatakan apapun, karena memang dulu Dio memang bersalah, sebagai seorang menantu, dia tidak mengunjungi mertuanya dan bersilaturahmi dengan keluarga mendiang istrinya itu.
Kini dia harus menerima buah dari apa yang telah diperbuatnya di masa lalu, satu-satunya Putri yang dia sangat sayangi Chika, kini menjadi rebutan di keluarga almarhumah istrinya itu.
"Mas Dio, sekarang Mbak Ratih sudah mendekam di penjara, karena perbuatannya, kami juga tidak menyangka kalau dia akan berbuat senekat itu, sekarang kami mohon Bolehkah Chika tinggal bersama kami beberapa saat lamanya?" tanya Rani tiba-tiba membuyarkan lamunan Dio.
Dio sedikit tersentak mendengar pertanyaan dari adik bungsu almarhumah istrinya itu, dia sama sekali tidak menyangka bahwa kedatangannya ke sini bersama dengan Chika justru seperti buah simalakama.
Apakah mungkin dia akan meninggalkan Chika bersama orang yang yang Chika sendiri tidak terbiasa hidup bersama dengan mereka? Namun di sisi lain, Mereka sepertinya sangat mengharapkan Chika bisa tinggal bersama-sama dengan mereka, walaupun hanya beberapa waktu lamanya.
"Kami tahu ini sangatlah sulit bagi Mas Dio, apalagi selama ini Mas Dio sudah begitu berjerih lelah merawat Chika, bahkan sejak dia masih kecil, tapi saat ini Ibu hanya ingin ada bersama dengan cucunya, dekat bersama dengan cucunya, selama sisa-sisa hidupnya itu!" lanjut Rani.
"Maaf, maksud kedatangan aku dan Chika kesini adalah untuk memenuhi janjiku mengunjungi keluarga mendiang istriku, Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan Chika tinggal di sini, anak ini tidak terbiasa hidup bersama dengan kalian, aku mohon kalian Pahamilah ini!" ucap Dio.
"Uhuuk! Uhuuk!"
Tiba-tiba ibunya Rani terbatuk-batuk, Rani buru-buru menghampiri Ibunya dan sedikit menepuk pundaknya untuk menenangkannya.
Seorang wanita paruh baya yang adalah pelayan di rumah itu, berjalan mendekati ibunya Rani, kemudian memberikan segelas air putih dan obat yang langsung diminumkannya pada ibunya Rani itu.
Tidak terasa hari sudah menjelang sore, matahari nampak berwarna kemerahan dan mulai turun ke ufuk Barat.
__ADS_1
Dio harus segera kembali pulang ke hotel, karena Dinda pasti sudah menunggunya di sana.
"Maaf Rani, sepertinya aku dan Chika harus pamit, Karena istriku saat ini sedang menunggu di hotel, Dia sedang hamil muda makanya dia tidak ikut kami untuk menempuh perjalanan ke sini!" Kata Dio.
"Kenapa kalian buru-buru? perjalanan dari sini ke pusat kota itu membutuhkan waktu yang cukup lama, kalian akan sampai malam nanti, apalagi perjalanan kalian melewati Padang yang sangat gelap, lebih baik kalian menginap saja di sini barang 1 hari, besok pagi lagi baru kalian bisa pulang kembali ke kota!" ujar Rani.
Dio kemudian mengeluarkan satu amplop berwarna coklat, lalu diletakkannya di atas meja ruang tamu itu.
"Maaf mungkin ini jumlahnya tidak seberapa, tapi ini adalah pemberian ku yang tulus untuk keluarga ini!" ucap Dio.
Dio kemudian mulai berdiri dari duduknya dan menuntun tangan Chika berjalan keluar dari rumah itu.
Semakin lama berada di dalam rumah itu, semakin membuat Dio merasa tidak nyaman, entah mengapa seperti ada hawa negatif dalam rumah itu, yang dia sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan pikirannya sendiri.
Chika kemudian mulai naik ke dalam mobilnya, dan dia pun mulai menyalakan mesin mobilnya itu.
Dari arah pintu rumah besar itu, Rani nampak berdiri sambil menatap kearah mereka.
Mobil Dio berhasil di nyalakan, tapi pada saat dia melajukannya ada sesuatu yang mengganjal yang dirasakan tidak enak, sepertinya ban mobil mereka kempes.
Dio kemudian mulai kembali menepikan mobilnya itu dan turun melihat kondisi Ban mobilnya.
Dio membulatkan matanya saat melihat Ban mobilnya itu kempes, Padahal tadi waktu dia memarkirkan Mobilnya di sini, kondisinya baik-baik saja, tapi entah mengapa kini ban mobil Dio kempes, bukan hanya satu tapi ada dua yang kempes.
__ADS_1
"Ah sial! Kenapa ban mobil ini bisa kempes tiba-tiba sih? Aku harus cari bengkel kemana sore-sore begini, mana sudah magrib!" sumut Dio.
"Ban mobilnya kempes ya Pa? Terus kita bagaimana dong pulangnya? Mama pasti sudah menunggu kita Pa, apalagi dari tadi kita telepon tidak ada sinyal terus, Mama pasti cemas tuh!" tanya Chika dari jendela mobil yang terbuka itu.
"Kamu tenang saja Chika, papa akan mencari bengkel terdekat!" kata Dio berusaha menenangkan anaknya itu.
Rani yang sejak tadi berdiri di depan pintu rumah besarnya itu, kemudian berjalan ke arah mereka.
"Ban mobilnya kempes ya Mas? di daerah sini bengkel sangat jauh sekali, apalagi sudah mau malam begini, apalagi daerah ini cukup jauh dari perkotaan, kalau pun ada bengkel, pastinya sudah tutup, lebih baik kalian menginap saja di sini, besok pagi baru Ban mobilnya diperbaiki kembali!" Kata Rani.
Dio mendengus kesal, dia benar-benar merasa dijebak, Memang daerah sini terlihat Pemukiman yang jarang sekali penduduknya, dan sepertinya memang tidak ada bengkel mobil di daerah sini, daerah sini termasuk daerah pedesaan.
"Bagaimana Mas Dio?" tanya Rani sambil tersenyum.
"Oke, tapi beritahu aku bagaimana caranya aku bisa mendapatkan sinyal yang baik untuk menelpon istriku?!" tanya Dio.
"Itu hal yang mudah, nanti aku akan beritahu, sekarang lebih baik kalian masuk dan beristirahatlah, ada satu kamar yang sudah kami persiapkan untuk kalian, kalian memang sudah ditakdirkan untuk menginap di sini malam ini!" jawab Rani sambil tersenyum kembali.
Dio sedikit bergidik, ada satu hal yang misterius dibalik senyum Rani, yang entah bagaimana cara menjabarkan nya.
Tetapi Dio tidak punya pilihan yang lain, dia tidak mungkin terus berjalan dengan mobilnya dalam keadaan ban yang kempes, mau tidak mau dia dan Chika memang harus menginap malam ini di rumah itu.
Bersambung ....
__ADS_1
*****