Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Jadi Perbincangan


__ADS_3

Mobil Dio terparkir dengan sempurna di parkiran sekolah itu. Dia kemudian keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Chika dan Dinda.


"Papa berangkat ke kantor dulu ya sayang!" ucap Dio sambil mengecup kening Chika.


"Oke deh! Nanti siang aku pulang sama siapa?" tanya Chika.


"Nanti siang Papa akan jemput Chika dan ibu guru cantik!" jawab Dio.


"Papa serius??"


"Iya dong sayang, nanti Papa sekalian mau ajak kalian makan siang bareng di luar!" jawab Dio.


"Yeeeaaaay!!" Chika bersorak senang.


Kemudian anak itu langsung berlari dan naik menuju ke kelasnya, wajahnya terlihat riang dan gembira.


"Ehm, Dinda, aku berangkat ke kantor ya!" pamit Dio.


"Iya Pak!" sahut Dinda.


"Hanya Iya?"


"Iya!"


"Masa calon suami kerja ke kantor tidak di beri support apa-apa!" ujar Dio.


"Support? Oh, semangat kerjanya ya Pak!" kata Dinda.


"Bukan support yang itu, yang lain!" cetus Dio.


"Apa lagi?" tanya Dinda bingung.


Dio kemudian mengetuk kedua pipinya dengan telunjuknya.


"Pak Dio lagi sakit gigi?" tanya Dinda tak mengerti.


"Oh my God Dinda, sepolos itukah dirimu? Tidakkah kau ingin mencium ku agar aku semangat bekerja??" tanya Dio gemas.


Dinda mulai paham apa yang Dio maksudkan.


"Oh, jadi Pak Dio minta di cium? Tapi saya malu Pak! Nanti ada melihat!" ujar Dinda.


Dio mulai gusar dan tidak sabar.

__ADS_1


"Cepat lakukan sekarang! Atau aku akan terlambat meeting pagi ini!" ucap Dio setengah memaksa.


Dengan cepat Dinda kemudian langsung mencium kedua pipi Dio, kemudian langsung berjalan cepat ke arah lobby.


Dia hendak ke ruangan guru untuk mempersiapkan bahan pelajaran.


"Bu Dinda!" panggil Bu Dita dari arah belakang. Dinda menghentikan langkahnya.


"Ya?"


"Sepertinya semakin hari, Bu Dinda semakin dekat saja dengan papanya Chika, apa Bu Dinda tidak tahu, kalau Bu Dinda itu sedang menjadi bahan perbincangan di kalangan guru dan orang tua murid?" tanya Bu Dita.


Dinda diam saja tidak tahu harus menjawab apa, dia mengakui belakangan ini dia memang menjadi pembicaraan dikalangan Guru dan orang tua murid, terkait kedekatannya dengan Dio, Papanya Chika.


"Maaf Bu Dita, Kalau tidak ada hal yang penting lainnya, Saya mau ke ruang guru, persiapan mengajar!" ujar Dinda.


Dinda kemudian mulai kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruang guru.


"Bu Dinda, jujur saja sebenarnya kau ada hubungan apa dengan Papanya Chika? Apakah kalian punya hubungan spesial?" tanya Bu Dita sambil berjalan mengejar Dinda dari belakang.


"Mau spesial atau tidak, itu urusan privasi saya dong Bu, kenapa Bu Dita kelihatan kepo sekali?" tanya Dinda balik, dia kemudian menoleh ke arah Bu Dita.


Kini gantian Bu Dita yang terdiam, mendengar pertanyaan Dinda.


Dinda sedikit terhenyak mendengar ucapan dari Bu Dita.


Dinda memang cenderung tertutup dalam pergaulan, apalagi Dirinya belum lama mengajar di sekolah ini.


Diantara semua teman-teman sesama guru, hanya Bu Dita dan Bu Ribka yang sering mengobrol dan dekat dengannya.


Tapi Dinda sebenarnya juga takut, jika dia harus jujur menceritakan semuanya pada mereka.


Kemudian Bu Dita merangkul bahu Dinda.


"Kita di sini bukan orang lain Bu Dinda, kita semua peduli pada Bu Dinda, kita juga tidak rela Kalau Bu Dinda selalu menjadi bahan gunjingan orang-orang di luar sana!" ucap Bu Dita.


"Terima kasih Bu Dita, sebenarnya, saya memang ada hubungan lebih dengan papanya Chika, tapi saya takut kalau saya mengakui itu, karena saya masih baru di sekolah ini!" jawab Dinda.


"Seharusnya Bu Dinda bangga lho bisa mendapatkan hatinya Papanya Chika! Tahu tidak, dulu sebelum Bu Dinda pindah ke SD, Papanya Chika itu selalu menjadi incaran para guru dan orang tua murid, tapi karena papanya Chika itu selalu bersikap dingin dan cuek, tidak ada satupun yang dia tanggapi!" jelas Bu Dita.


"Benarkah?"


"Iya, makanya saat mereka melihat kedekatan Bu Dinda dengan Pak Dio, banyak netizen yang iri, Bu Dinda harus hati-hati!" lanjut Bu Dita.

__ADS_1


"Trimakasih Bu Dita!" Dinda kemudian langsung memeluk Bu Dita.


****


Teng ... Teng ... Teng


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Dinda melangkah keluar dari ruang kelasnya, dia hendak langsung menuju lobby, karena Dio sudah menunggunya sedari tadi.


"Bu Dinda, let's go!" panggil Chika yang sudah berlari mendahului nya.


Sesampainya di lobby, Dinda sedikit tertegun saat melihat Dio yang sedang di kerumuni oleh Ibu-ibu muda orang tua murid, untuk minta foto bareng.


Melihat Dinda, Dio dengan cepat melambaikan tangannya.


"Maaf Ibu-ibu, saya duluan ya! Ada urusan penting dengan Ibu guru cantik ini!" kata Dio saat Dinda berjalan mendekatinya.


Kemudian Dio segera menarik tangan Dinda dan Chika keluar dari lobby, dan berjalan cepat menuju ke parkiran.


"Kenapa tadi banyak Ibu-ibu yang mengerumunimu??" tanya Dinda.


"Mereka hanya minta foto, kau tahu, sejak dulu aku jadi idola mereka, karena aku Ini duda kaya, ganteng lagi, makanya aku selalu terlambat menjemput Chika, ini yang menjadi alasannya!" jawab Dio sambil membuka pintu mobilnya.


Dinda dan Chika kemudian masuk ke dalam mobil itu.


Dio mulai mengendarai mobilnya keluar dari sekolah itu, kemudian mencari sebuah restoran untuk mereka makan siang bersama.


"Tadi Bu Dita bilang, sejak aku dekat denganmu, aku menjadi bahan perbincangan di sekolah! Dan itu membuatku sangat tidak nyaman!" ungkap Dinda.


"Iya sayang, aku mengerti!" sahut Dio.


"Ciyeeee, Papa sudah panggil sayang nih sama Bu Dinda!" goda Chika tiba-tiba.


"Hush Chika! Memangnya tidak boleh? Kan Papa memang sayang sama Bu Dinda!" ujar Dio.


"Asyiik!! Aku bakal punya Mama baru deh! Uhuuuuyy!" seru Chika senang.


Dinda nampak tersipu malu.


"Dinda, secepatnya aku ingin kita segera menikah, aku akan meminta restu pada Ayah dan Bundaku!" ucap Dio.


"Pak, kenapa harus secepat ini? Saya belum siap!" tukas Dinda yang tidak menyangka kalau Dio akan seserius itu terhadapnya.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2