Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Tamparan Untuk Ken


__ADS_3

Dinda menatap sejenak suaminya yang kini tertidur itu, ingin sekali dia mengajak serta suaminya itu, namun Dinda ingat janjinya pada Keyla, untuk merahasiakan kondisinya saat ini.


Dinda kemudian mulai berpakaian dan keluar dari kamarnya.


Mbak Yuyun nampak sibuk di dapur, menyiapkan masakan untuk makan malam nanti.


"Mbak, si Ujang ada di mana?" tanya Dinda.


"Paling juga ada di garasi, lagi cuci mobil, Bu Dinda mau kemana? Kok buru-buru kelihatannya?" Mbak Yuyun menghentikan aktifitas masuknya sejenak.


"Aku ada urusan sebentar di luar Mbak, rencananya mau minta tolong Ujang mengantar!" sahut Dinda.


Kemudian Dinda melangkah keluar dari rumahnya, Ujang nampak sedang mengelap mobil sambil bersiul-siul.


"Jang, tolong antarkan aku ke cafe depan rumah sakit Berlian bisa?" tanya Dinda.


"Oh, bisa Bu, siap!" jawab Ujang.


"Sekarang Jang, ayo berangkat!" ajak Dinda yang memang terburu-buru itu.


"Bu Dinda sendirian saja? Pak Dio tidak ikut?" tanya Ujang.


"Pak Dio sedang tidur, ayolah Jang, aku tidak bisa lama-lama!" desak Dinda.


Akhirnya Ujang langsung menaruh begitu saja sabun dan lap, dia langsung masuk dan menyalakan mobil itu.


Tanpa menunggu lagi Dinda langsung masuk ke dalam mobil, dan Ujang langsung melajukannya keluar dari rumah itu.


Mobil itu akhirnya terparkir di parkiran sebuah Cafe, di depan sebuah rumah sakit yang paling dekat dari rumah.


Dinda langsung turun dari mobil, sementara Ujang menunggu di parkiran.


Dinda terus berjalan masuk ke dalam cafe yang lumayan ramai itu, Ken sudah duduk menunggunya di sebuah meja yang terletak di sudut ruangan.


Dinda langsung datang menghampiri Ken, Ken tersenyum melihat kedatangan Dinda.


"Aku shock lho, saat kamu telepon dan meminta kita bertemu, ini ke ajaib!" kata Ken sambil berdiri.


Plaaakkk!!!


Tiba-tiba Dinda menampar pipi Ken dengan keras, Ken terkejut dan meringis sambil memegangi pipinya yang merah di tampar Dinda.


Beberapa pengunjung nampak memperhatikan kejadian itu.


"Hei! Kenapa datang-datang kau menamparku??" tanya Ken.


"Dasar kamu bajingan Ken! Laki-laki brengsek!! Binatang kamu!!" maki Dinda.

__ADS_1


"Apa-apaan kamu Din! Datang-datang langsung menampar dan memaki orang seenaknya!" seru Ken.


"Ken, apa yang kamu lakukan pada Mbak Keyla?? Aku tau dari dulu kamu bajingan, sering mempermainkan wanita seenaknya, termasuk aku pernah kamu permainkan! Untungnya aku masih bisa menjaga kehormatanku!" sengit Dinda.


"Apa maksudmu??" tanya Ken.


"Kamu tau Ken, saat ini Mbak Keyla hamil, dan itu semua karena ulahmu! Kau memanfaatkan dia saat dia tak berdaya! Dasar laki-laki biadab!!" sengit Dinda.


"Apa? Mbak Keyla hamil? Benarkah?" tanya Ken dengan mimik wajah yang serius.


"Ya, dia hamil dan saat ini dia begitu depresi, dia tidak ingin orang lain mengetahui tentang kehamilan nya, tapi aku sudah terlanjur tau, dan aku mohon, kamu bertanggung jawab sama Mbak Keyla Ken!" lanjut Dinda.


Ken tiba-tiba terdiam, ada raut wajah penyesalan dan kesedihan yang terpancar dari wajahnya.


"Kamu harus menikahi Mbak Keyla Ken, hentikan petualangan pada banyak wanita, sudah saatnya kamu bertobat dan berubah!" ujar Dinda.


"Aku ... aku sangat ingin menikahi Mbak Keyla, tapi ... Ayahnya tidak menyukaiku, aku bukan menantu yang di idamkannya!" gumam Ken.


"Pokoknya kau harus datang dan segera melamar Mbak Keyla, soal Ayah, aku akan bicara padanya dari hati ke hati, aku tidak mau, Mbak keyla semakin hancur!" seru Dinda yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Ken seorang diri.


Dinda sedikit puas, paling tidak dia sudah menumpahkan uneg-unegnya, dan dia berharap Ken akan bisa bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Kita pulang sekarang Bu?" tanya Ujang mengejutkan Dinda.


"Eh, iya Jang, kita langsung pulang ya!" sahut Dinda yang segera masuk ke dalam mobil itu.


Baru saja Dinda turun dari mobil, Dio sudah berdiri menunggunya di depan rumah.


Matanya menatap tajam ke arah Dinda.


"Eh, Mas Dio sudah bangun?" tanya Dinda sambil mencoba tersenyum dan mendekati Dio.


"Dari mana kamu Din?" tanya Dio dengan nada suara datar.


"Aku? Dari cafe Mas, mendadak ingin sekali minum kopi!" jawab Dinda.


"Cafe? Kenapa tidak mengajakku? Kan aku bisa menemanimu kemanapun, kenapa malah jalan sama Ujang?" tanya Dio.


"Mas, tadi kamu tidur nyenyak sekali, mana tega aku bangunin kamu, aku janji lain kali akan memintamu untuk mengantarku kemanapun, tapi jangan marah ya, please!" ucap Dinda sambil membelai pipi Dio.


Ujang yang baru saja memarkirkan mobilnya melangkah mendekati Dio dan Dinda.


"Tadi kalian beneran ke Cafe Jang?" tanya Dio.


"Iya Pak!" sahut Ujang.


"Kamu tidak menemani istriku minum kopi di cafe kan?"

__ADS_1


"Tidak Pak, Bu Dinda masuk ke cafe sendirian, saya tunggu di parkiran!" jawab Ujang.


"Hmm, baguslah, awas saja kalau kamu berani menemani istriku!" ujar Dio.


"Saya mana berani Pak!" sahut Ujang.


Dio tersenyum, kemudian menggandeng tangan Dinda masuk ke dalam rumahnya.


"Sudah tidak marah lagi kan Mas?" tanya Dinda.


"Iya sayang, tapi lain kali aku tidak mau kamu pergi tanpa memberitahu aku ya!"


"Iya Mas, aku janji, ini adalah yang pertama dan terakhir!" ucap Dinda.


Aroma hidangan makan malam tercium nikmat.


Pak Frans dan Bu Lian nampak sudah siap menyantap makan malam mereka, padahal waktu baru menunjukkan pukul enam sore.


Chika juga terlihat duduk di antara mereka.


"Papa! Mama! Ayo makan, ini enak lho!! Ada Gulai Ayam dan rendang!" seru Chika.


Dio dan Dinda kemudian langsung duduk bergabung untuk makan malam bersama.


"Dinda, itu masih ada sayur tauge yang tadi siang, kamu habiskan ya, Dio juga, biar kalian makin subur!" kata Bu Lian.


"Iya bunda!" sahut Keduanya.


"Besok pagi, rencana Ayah dan Bunda mau kembali ke Singapura, lagi pula kesehatan Bunda kan sudah membaik!" kata Pak Frans.


"Kenapa Ayah dan Bunda tidak tinggal di sini saja, rumah ini akan sepi kalau kalian pergi!" ucap Dio.


"Ini kan rumahmu Nak, makanya kau buatlah seramai mungkin, Ayah di tunggu rekan bisnis Ayah di sana, sekalian melihat rumah Ayah yang sudah lama di tinggal!" jelas Pak Frans.


"Baiklah, tapi Berjanjilah Ayah dan Bunda akan sering-sering datang ke sini!" kata Dio yang mulai menyantap makanannya.


"Dinda, ini ada Dokter bagus, kamu dan Dio datanglah ke Dokter ini, untuk memeriksakan kondisi kesuburan kalian!" kata Bu Lian sambil menyodorkan secara kartu nama ke arah Dinda.


"Bunda apaan sih, segala sesuatu kan ada prosesnya Bun, masa baru hitungan bulan sudah periksa ke Dokter segala!" sungut Dio.


"Lebih cepat di periksa lebih baik, mana tau kalian ada masalah dan bisa segera di cari jalan keluarnya!" jawab Bu Lian.


Dinda dan Dio hanya bisa saling berpandangan tanpa bicara lagi.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2