Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Ada Yang Cemburu


__ADS_3

Ting ... Tong


Terdengar suara bel dari depan pintu apartemen yang Dinda tempati.


Dinda yang baru mandi dan berpakaian langsung buru-buru membukakan pintu apartemen itu.


Dio sudah berdiri di depan pintu apartemen itu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Halo sayang! Sang kekasih datang kok tidak di suruh masuk, malah diam dengan tampang jutek begitu!" ujar Dio.


"Masuk! Apartemen ini juga punya mu Pak, apa hak aku untuk melarangmu masuk!" sahut Dinda yang terlebih dahulu masuk dan duduk di sofa, Dio menyusulnya dari belakang.


"Ada apa sih? kok judes amat sore ini, jangan bilang kau sedang datang bulan lagi!" tanya Dio.


"Pak Dio mau ngapain ke sini??" tanya Dinda.


"Lho, kok begitu sih tanya nya, ya wajarlah, aku datang mengunjungi calon istriku, mau ajak dinner di luar!" jawab Dio.


"Aku males keluar Pak, aku mau disini saja!" kata Dinda.


"Lho kenapa??"


"Kalau Pak Dio mau, Pak Dio ajak saja yang lain!" sahut Dinda.


"Untuk apa aku mengajak yang lain? Aku hanya ingin mengajakmu! Apa itu salah?"


"Bohong! Pak Dio bisa kan mengajak yang lain? Siapapun Pak Dio bisa ajak sesuka hati, kenapa harus mengajakku kalau di luar sana sudah ada yang siap untuk diajak!" cetus Dinda.


"Hei Dinda, ada apa denganmu? Sejak siang sepulang dari sekolah tadi, sikapmu begitu aneh! Tiba-tiba kau berubah menjadi cuek dan dingin begini, ada apa sih?" tanya Dio sambil memegang kedua bahu Dinda dengan tangannya.


Dinda diam saja tanpa menjawab lagi pertanyaan dari Dio, yang semakin bingung terhadap sikap Dinda yang tiba-tiba saja berubah.


Dio berusaha untuk memeluk Dinda, berharap agar hati Dinda meluluh, namun tangan Dinda menepiskan pelukan Dio.


"Siapa Keyla?" tanya Dinda tiba-tiba.


"Keyla? kau tahu Keyla dari mana?" tanya Dio balik.


"Tidak penting aku tahu dari mana! Bukankah kemarin Kau asyik berjalan-jalan ke pantai bersama dia?" sahut Dinda.


Dio nampak berpikir sesuatu, dia mengerutkan keningnya.


"Ini pasti Chika yang cerita!" ujar Dio.


"Tidak usah salahkan Chika! Benar kan kau asyik jalan-jalan ke pantai dengan Keyla? Siapa dia? Calon istrimu yang lain?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Dinda, dengar dulu sayang, kau jangan salah paham!"


"Jadi benar kan? Kau asyik jalan-jalan dengan Keyla mu itu! Dasar buaya!!" cetus Dinda sambil melemparkan Dio dengan bantal yang ada di sofa.


Kemudian Dinda langsung beranjak ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya. Kesal.


Dio lalu segera menyusul Dinda dan mengelus punggung Dinda lembut.


"Boleh aku berbicara sekarang? Sudah puas cemburunya??" tanya Dio.


"Siapa yang cemburu?? Ge er!!"


"Tuh buktinya! Marah-marah tidak jelas!"


"Siapa juga yang marah?"


"Dengar sayang, Keyla itu adalah anak teman Ayahku, untuk menghargai permintaan Bunda, aku memang mengajak Keyla jalan kemarin itu!"


"Tuh kan ngaku!"


"Dengar dulu, ini belum selesai, aku sengaja mengajak Chika, karena memang aku tidak mau terlalu serius mengobrol dengannya, kau boleh tanya Chika, apa aku pernah jalan dekat dengan Keyla, aku selalu jaga jarak tau!" jelas Dio.


"Tapi, tetap saja kan kau jalan-jalan dengan si keyla itu, Chika mana memperhatikan kau melakukan apa saja!" sahut Dinda.


"Ya Tuhan Dinda, masa iya kau tidak percaya padaku?? Aku ini calon suamimu lho!"


"Aku harus menjelaskan bagaimana lagi?? Oke, untuk membuktikan keseriusan ku, minggu depan aku akan melamarmu!" tegas Dio.


Dinda terhenyak seketika, dia tidak menyangka reaksi Dio akan seperti itu.


"Apa? Melamar?"


"Iya, aku akan melamarmu, aku akan datang pada Ibumu dan memintamu secara baik-baik, sebelum itu aku akan minta izin dahulu pada kedua orang tuaku! Apa aku terlihat kurang serius dihadapanmu?!" tanya Dio sambil kembali menatap wajah Dinda.


"Bukan begitu Pak, aku hanya ..."


"Aku tau kau cemburu, kau mengaku atau tidak, jelas terlihat kau memang cemburu! Dan aku senang karena ternyata calon istriku benar-benar sayang padaku!" ucap Dio.


Dinda jadi salah tingkah sendiri, dia tidak menyangka kalau kecemburuan nya itu, justru membuat Dio semakin tidak bisa jauh darinya.


Dio menangkup wajah Dinda dengan kedua tangannya, menatapnya dalam wajahnya, kemudian mengecup lembut bibirnya, rasanya begitu manis dan hangat.


"Aku ijin pulang lebih cepat sayang, malam ini aku akan bicara pada orang tuaku, soal rencanaku untuk datang melamarmu!" ucap Dio.


"Pak Dio serius??"

__ADS_1


"Kapan aku pernah bercanda??"


"Tapi Pak, kenapa harus secepat ini??" tanya Dinda.


"Supaya kau tidak cemburu lagi! Sudahlah, lebih cepat lebih baik, tapi sebelum aku pulang, berikan aku ciuman hangat yang seperti tadi!" jawab Dio.


"Aku tidak..."


Belum selesai Dinda berbicara, Dio sudah terlebih dahulu mengecup dan menciumi bibir Dinda dengan lembut dan dalam, semakin dalam hingga Dinda benar-benar mabuk kebayang.


Dio hampir tidak bisa mengendalikan dirinya, rasanya tubuhnya sudah bergetar dan tegang tingkat tinggi, namun dengan perlahan Dio melepaskan pelukan dan ciumannya itu.


"Maaflan aku sayang, belum waktunya, hampir saja aku kebablasan!" ucap Dio dengan nafasnya yang masih terengah-engah.


Setelah membereskan kemejanya yang sedikit berantakan, Dio kemudian pamit kembali pulang ke rumah, karena ada hal yang ingin dia bicarakan dengan kedua orangtuanya.


****


Pak Frans dan Bu Lian, juga Chika terlihat sedang menikmati makan malam di meja makan.


Dio yang baru sampai di rumah, kemudian langsung bergabung dengan mereka di meja makan itu.


"Kau sudah pulang Dio? Ayo makanlah!" kata Bu Lian.


"Iya Bunda!"


"Bagaimana bisnismu Dio? Ayah lihat kau semakin lancar saja, Ayah juga mendengar kalau kau punya beberapa Proyek besar dengan investor luar negeri!" tanya Pak Frans.


"Iya Ayah, makanya beberapa hari ini aku agak sibuk, karena mengatur jadwal dengan beberapa investor, doakan saja usahaku ini semakin berkembang!" jawab Dio.


"Ayah bangga padamu Dio, dulu kau sempat terpuruk, Kau sempat bangkrut, dan kau sempat depresi! Namun dengan cepat kau bisa membalikkan keadaan, sekarang kau terlihat sangat sukses dan kaya raya!" Ucap Pak Frans sambil menepuk lembut bahu Dio yang duduk di sebelahnya.


"Terima Kasih Ayah, ada hal yang ingin aku sampaikan pada ayah dan bunda!" kata Dio.


"Katakanlah, apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Bu Lian tak sabar.


"Ayah dan bunda tau kan, saat ini aku sudah dewasa, bahkan sudah memiliki seorang anak, aku berencana akan melamar seorang wanita yang akan menjadi pendamping hidupku kelak!" jawab Dio.


"Siapa wanita itu? Apakah dia Keyla? kau sudah cocok dengannya pada saat jalan-jalan kemarin?" tanya Bu Lian.


"Bukan Bunda, wanita itu adalah Dinda, guru di sekolah Chika!" jawab Dio.


Bu Lian nampak terkejut, Pak Frans juga terlihat sedikit kaget, mereka berdua saling berpandangan.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2