
Hari ini adalah jadwal Dinda kontrol ke rumah sakit, setelah mengantar Chika ke sekolah, Dio langsung mengantar Dinda ke rumah sakit.
Luka pasca operasi di perut Dinda memang sudah nampak mengering, tapi terkadang rasa nyerinya masih terasa di dalam.
Apalagi jika Dinda melakukan pekerjaan yang sedikit berat, jadi dia tidak bisa mengangkat sesuatu yang berat.
Dio yang memahami itu itu tidak pernah membiarkan Dinda melakukan segala sesuatu sendiri, dia pasti akan dengan sigap membantu semua pekerjaan Dinda, Bahkan dalam hal yang paling ringan sekalipun.
Dio memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit yang luas itu, setelah itu dia menggandeng tangan Dinda masuk kedalam menuju ke ruang praktek dokter Aryo.
Setelah sampai di ruang yang praktek dokter Aryo, mereka pun langsung segera masuk karena memang tidak ada pasien yang mengantri di pagi hari ini.
Dokter Aryo langsung memeriksa bagian perut Dinda bagian luar, dan bagian dalam dengan menggunakan alat. Setelah itu mereka kembali duduk di praktek dokter Aryo.
"Bagaimana kondisi istri saya sekarang Dokter?" tanya Dio.
"Keadaan bu Dinda pada umumnya baik-baik saja, namun di bagian dalam perutnya masih rawan, terutama pada guncangan-guncangan tertentu, dijaga saja agar Bu Dinda tidak melakukan pekerjaan yang berat!" jelas Dokter Aryo.
"Iya Dokter, saya akan menjaga istri saya dengan sebaik-baiknya! " ucap Dio.
"Bagus Pak Dio, memang seharusnya seperti itu sebagai seorang suami, Oke kalau begitu saya akan berikan vitamin dan dan tambahan obat! " kata Dokter Aryo sambil menulis resep obat di dalam secarik kertas.
"Trimakasih Dokter!"
Setelah berkonsultasi dengan Dokter Aryo, mereka kemudian keluar dari ruang praktek Dokter Aryo dan berjalan menuju ke apotek untuk menebus resep obat.
Pada saat mereka melewati ruangan Dokter Dicky, mereka berpapasan dengan Jessica yang baru saja keluar dari ruangan itu sambil menggendong anaknya.
Dio dan Dinda menghentikan langkahnya.
"Hei, kebetulan sekali hari ini kita bertemu di sini, aku pikir selamanya kita tidak akan berjumpa lagi!" kata Jessica.
"Bagaimana keadaan Dio kecil Mbak? Dia ada perkembangan apa?" tanya Dinda sambil menatap balita yang ada dalam gendongan Jessica.
"Belum ada kemajuan yang berarti, Dokter Dicky merekomendasikan Dio untuk berobat ke Malaysia, mungkin di sana Dio akan bisa berubah jadi lebih baik!" jawab Jessica.
"Oya? Jadi kalian akan ke Malaysia??" tanya Dinda lagi.
"Iya, besok pagi aku sudah berangkat ke Malaysia, di sana ada Dokter ahli teman Dokter Dicky, dan aku sudah di berikan alamatnya, lebih cepat lebih baik!" jawab Jessica.
__ADS_1
"Jadi, kalian tidak akan datang ke sini lagi untuk terapi Dio, kenapa begitu cepat?" gumam Dinda.
Sejak tadi Dio hanya diam saja tanpa memberikan komentar apapun.
"Mungkin setelah ini, kita tidak akan bertemu lagi, ku doakan kamu cepat segera pulih Dinda, dan bisa memberikan anak untuk Dio!" ucap Jessica.
"Trimakasih Mbak, aku juga mendoakan Dio mu juga bisa cepat bicara, tidak ada hal yang mustahil di dunia ini!" balas Dinda.
"Amin, kalau begitu aku duluan ya, taksi yang aku pesan sudah menunggu di depan!" pamit Jessica.
Jessica lalu menyalami Dinda dan Dio. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Mas, kamu tidak mengatakan apapun pada Mbak Jessi?" tanya Dinda.
"Apalagi yang mau aku katakan? Semuanya sudah selesai kan, dia sudah pergi, dan mungkin memang itu yang terbaik!" jawab Dio.
"Mas, aku lihat dari matanya, Dia menyimpan sesuatu padamu, entah perasaan atau apa, tapi mata seorang wanita tidak akan bisa bohong, walaupun mulut berkata tidak!" ucap Dinda.
"Sayang, di antara aku dan Dia tidak pernah terjadi hubungan apapun, jadi tidak ada alasan untuk mengakhiri, karena memang tidak pernah di mulai, sudahlah, lupakan masa lalu, kita rajut mimpi kita untuk masa depan, aku, kamu dan anak-anak kita nanti!" kata Dio yang langsung menggandeng tangan Dinda melanjutkan langkah mereka.
****
Sementara di tempat kediaman Pak Dirja, Keyla nampak mengguncang tubuh Ken yang tertidur di sofa sambil melemparkannya dengan bantal.
Ken yang kaget langsung bangun dan mengucek kedua matanya.
"Ah, kamu mengganggu tidurku saja!" sungut Ken.
"Kau lihat Ayah, sudah setua itu masih melayani klien ke luar, kau ini masih muda tapi malas!" cetus Keyla.
"Ayah kan pengacara, aku pengusaha, aku bisa pantau kok usahaku di laptop, kamu ini kuno sekali!" sahut Ken.
"Pokoknya kamu harus kerja di luar Ken, aku muak melihatmu tiap hari tidur-tiduran saja di rumah!" kata Keyla.
"Ya aku kan di rumah untuk menjaga istri!"
"Alasan!"
"Dari pada aku di luar, banyak godaan, teman-temanku banyak yang mengajakku kembali ke klub, tapi aku menolak, teman-teman wanita banyak yang ingin bertemu denganku, aku juga menolak, ini semua demi kamu Mbak!" ungkap Ken.
__ADS_1
"Halah, sudah sana, lebih baik kamu mandi, dari pagi belum mandi, bau tau, setelah itu makan, di meja sudah ada makanan!" ujar Keyla langsung langsung kembali berjalan menuju ke bawah.
Pak Dirja nampak baru masuk ke dalam rumah, dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa sambil melepaskan sepatutnya
"Ayah sudah pulang? Kalau Ayah lapar di meja sudah ada makanan Ayah, tadi aku masak sama Bi Titi!" kata Keyla.
"Masak? Benarkah kamu masak Nak?" tanya Pak Dirja tak percaya.
"Ayah tidak percaya? Mentang-mentang aku tidak pernah masak, Ayah pikir aku tidak bisa!" sungut Keyla.
"Siapa bilang? Ayo temani Ayah makan siang, Ayah ingin mencicipi masakanmu, mana suamimu?" kata Pak Dirja sambil beranjak ke meja makan.
Keyla berjalan di belakangnya Pak Dirja, dan mereka kini sudah duduk di ruang makan, bersiap akan makan siang.
"Si bocah malas itu baru mandi Ayah!" cetus Keyla.
"Bocah malas??"
"Yah, siapa lagi yang tinggal di rumah ini kalau bukan si pemalas itu!" sahut Keyla.
"Jangan mengatakan hal yang negatif pada suamimu Nak, dia bukan malas, tapi dia hanya ingin menjagamu di rumah, kau beruntung dong, suami selalu siap antar jaga!" kata Pak Dirja.
"Halah, yang ada aku makin muak melihatnya setiap hari di depan mataku, sudahlah Ayah, kita makan duluan saja!" sahut Keyla.
"Keyla ..."
"Ada apa Ayah?"
"Ada yang mau Ayah bicarakan padamu, apakah kau berkenan mendengarnya?" ucap Pak Dirja.
"Bicara saja Ayah, kapan aku tidak mendengarkan Ayah?" sahut Keyla.
"Keyla, apakah kamu merestui Ayah jika Ayah memiliki istri lagi?" tanya Pak Dirja.
"Ayah ingin menikah? Tapi dengan siapa Ayah? Jangan bilang Ayah akan menikah dengan Ibunya Dinda!" ujar Keyla.
"Nak, Ayah tidak punya calon lain selain Ibunya Dinda!" sahut Pak Dirja.
Keyla tiba-tiba menghentikan aktifitas makannya. Di saat yang bersamaan, Ken nampak turun dari tangga dan berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
Bersambung ....
****