
Bel pulang sekolah sudah terdengar, suara gemuruh sorak sorai anak-anak terdengar sampai ke lantai atas.
Dinda menutup layar laptop yang ada di meja ruangan barunya itu. Kemudian dia membereskan meja kerjanya itu dan mengambil tasnya.
Setelah itu dia keluar dari ruanganya itu, dan langsung menuruni tangga menuju ke lobby bawah.
Chika masih belum masuk sekolah, karena masih terdapat beberapa luka di tubuhnya, setelah kecelakaan yang menimpanya waktu itu.
Dinda kemudian duduk menunggu sebentar, sebelum dia pulang ke apartemennya, dia membawa motornya sendiri dan dia sudah katakan pada Dio kalau sementara ini dia jangan mengantar jemputnya, biar Dinda saja naik motor pulang balik dari sekolah ke apartemen.
Saat Dinda membuka ponselnya, ada banyak sekali pesan singkat dan panggilan tidak terjawab dari Dio.
Dinda memang sengaja tidak membunyikan suara di ponselnya itu, supaya dia bisa tetap fokus bekerja di ruangannya.
Apalagi sekarang dia sudah dipercaya oleh Pak Roni untuk menjadi konselor Sekolah, di mana dia harus banyak-banyak membuat angket untuk murid dan membuat perencanaan perkembangan sekolah ini.
Dinda kemudian mulai menelepon Dio karena dia akan marah kalau Dinda tidak membalas panggilannya atau pesan singkatnya.
"Halo Dinda, kau ini kemana saja? Masa aku telepon tidak di angkat-angkat? Hampir saja aku datang ke sekolah tadi, kau membuat aku cemas saja! Lain kali aku tidak ingin begini ya!" cerocos Dio.
"Hmm, sudah ngomelnya?" tanya Dinda.
"Belum, nanti sore aku akan datang ke apartemen, aku ingin mengajakmu makan malam di luar!" sahut Dio.
"Mas Dio, kita kan baru bertemu kemarin, bisa tidak sih kita puasa bertemu dulu beberapa hari, lagi pula kan di apartemen ada ibu Mas, aku tidak enak lah kalau tinggalin dia begitu saja!" ucap Dinda.
"Kita ajak Ibu sekalian Din!"
"Bagaimana kalau besok saja Mas ketemunya? Aku juga sudah janjian sama Ibu sore ini mau cari Ayah di alamat lamanya!" kata Dinda.
"Aku ikut Din, nanti aku bantu juga carinya!"
"Please Mas, kasih kesempatan aku untuk bersama Ibuku dulu, sebentar lagi kan aku juga jadi istrimu, sabar dulu dong!" ungkap Dinda.
"Baiklah, padahal aku ini sangat kangen, di kantor tadi seharian aku mikirin kamu, membayangkan kalau kamu sudah jadi istriku, dengan bangga akan ku perkenalkan dengan semua kolega dan rekan bisnisku!" ucap Dio.
"Oke Mas, sudah dulu ya, aku mau pulang, Oya, tadi di sekolah, semua guru sudah tau tentang pernikahan kita minggu depan, gara-gara kau membuat postingan undangan begitu cepat, aku sampai malu dan tidak bisa berkutik!"
"Malu? Apa kau tidak bangga menjadi calon istriku??"
"Bukan begitu Mas, tapi kau tau sendiri, tidak semua orang suka dengan pernikahan kita!" ucap Dinda.
__ADS_1
"Jangan terlalu memikirkan pendapat orang, yang penting kita bahagia sayang!"
"Ya sudah deh, aku pulang duluan ya Mas!"
"Iya sayang, I Love you!" bisik Dio.
"Love you too!"
Setelah selesai menelpon Dio, Dinda kemudian kembali memasukkan ponselnya itu kedalam tasnya.
Kemudian dia beranjak dari tempatnya menuju ke parkiran motor.
Setelah sampai di parkiran, Dinda sedikit terkejut karena melihat ban motornya yang kempes, sepertinya ban motornya itu bocor sejak tadi, Dinda tidak menyadarinya.
Dengan terpaksa Dinda harus mendorong motornya itu sampai ke bengkel, yang letaknya lumayan jauh dari sekolah tempatnya mengajar itu.
Tin ...Tin ... Tin
Dinda menoleh saat ada sebuah motor yang mengklaksonnya.
Ketika helm si pengendara motor itu di buka, ternyata itu adalah Mr. Sam, guru bahasa Inggris teman sesama guru.
"Kenapa Bu Dinda? Bannya bocor?" tanya Mr. Sam.
"Sebentar Bu, jangan dorong sampai bengkel, kasihan Bu Dinda kejauhan, Bu Dinda tunggu sini saja, biar saya yang panggilkan tukang tambal bannya ke sini!" tawar Mr. Sam.
"Jangan Mr, biar saja saya jalan sebentar ke bengkel!" tukas Dinda.
"Tidak apa-apa Bu, tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana!"
Mr. Sam kemudian melajukan motornya cepat ke arah bengkel, dan tak lama kemudian dia sudah kembali dengan seorang tukang tambal ban.
"Tolong perbaiki ban motor Ibu ini mas, pastikan Jangan sampai bocor lagi!" kata Mr. Sam.
"Siap Pak!" sahut si tukang tambal ban.
Orang itu menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera memperbaiki motor Dinda yang terparkir di tepi jalan raya itu.
Sambil menunggu motornya selesai, Dinda duduk di halte ditemani oleh Mr. Sam yang juga ikut menunggunya.
"Seharusnya Mr. Sam pulang saja duluan, Paling sebentar juga sudah selesai!" kata Dinda.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bu, santai saja!" sahut Mr. Sam.
"Ya sudah terserah deh!"
"Bu Dinda!"
"Ya Mr?"
"Nanti setelah Bu Dinda menikah, apakah Bu Dinda masih akan mengajar di sekolah ini?" tanya Mr. Sam.
"Saya tidak tau Mr, kalau suami mengijinkan ya saya akan tetap mengajar, tapi kalau tidak ya apa boleh buat!" jawab Dinda.
"Padahal sayang lho Bu, Bu Dinda kan guru favorit di sekolah ini!"
"Yah mau bagaimana lagi Mr, istri kan harus taat sama suaminya!" sahut Dinda.
"Beruntung sekali Pak Duda bisa mendapatkan hati Bu Dinda!" ucap Mr. Sam.
"Mr. Sam bisa saja, mungkin itu yang di namakan jodoh, saya juga tidak menyangka, bahwa setelah saya gagal menikah dulu, Tuhan kasih saya yang jauh lebih baik!" ungkap Dinda.
Tiba-tiba ponsel Dinda berdering, lagi-lagi Dio yang menelponnya.
Kemudian Dinda segera mengusap layar ponselnya itu, atau Dio akan mengamuk.
"Halo Mas!"
"Dinda, pantas saja kau menolak ajakanku, ternyata kau malah asyik ngobrol dengan laki-laki lain!" cetus Dio.
"Hah??! Mas Dio kok tau??"
"Selamat Din, kau sukses membuat aku sangat cemburu!"
Tak lama kemudian panggilan teleponnya di matikan oleh Dio.
Wajah Dinda langsung pucat, dia bingung dari mana Dio tau kalau Dinda saat ini sedang mengobrol dengan Mr. Sam.
Bersambung....
****
Author minta maaf ya, kalau belakangan ini banyak typo, karena authornya ngantuk sangat, dan lemes hehe, butuh refreshing.
__ADS_1
Yuk dukung Author biar lebih semangat lagi ...
Trimakasih...