
Perlahan Dio mengambil ponselnya, saat menatap layar ponselnya itu, ada foto Pak Frans, Ayahnya yang menelponnya.
Buru-buru Dio mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Ayah!"
"Dio, besok pagi-pagi Ayah sudah sampai di Jakarta, Ayah ingin menyaksikan kau menikah!" kata Pak Frans.
"Iya Ayah, lalu bagaimana dengan Bunda?" tanya Dio.
"Besok Ayah berangkat bersama Bunda, Ayah sudah bicara dari hati ke hati dengan Bunda, walaupun Bunda kelihatan belum ikhlas, tapi sepertinya dia pasrah dengan keputusanmu!" jawab Pak Frans.
"Syukurlah Ayah, aku senang mendengarnya, semoga Bunda benar-benar ikhlas dan merestuiku untuk menikah dengan Dinda!" ucap Dio.
"Iya Nak, Ayah juga berharap begitu, sekalian Ayah ingin menjenguk Pak Dirja, Ayah dengar dia di rawat di rumah sakit!"
"Iya Ayah, Om Dirja memang di rawat di rumah sakit, besok aku tunggu Ayah dan Bunda, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan pada kalian!" kata Dio.
"Baiklah Dio, sampaikan salam Ayah untuk calon istri dan mertuamu, jaga kesehatanmu!" ucap Pak Frans sebelum menutup panggilan teleponnya.
Dio kemudian kembali duduk di sofa, bergabung dengan Dinda dan Bu Lilis yang terlihat masih mengobrol.
"Nak Dio, sebaiknya kau pulang saja ke rumahmu, persiapkan dirimu untuk pernikahanmu besok, kau jangan anggap enteng, kesehatan itu yang utama!" ucap Bu Lilis.
"Iya Bu, aku juga berharap Dinda beristirahat dan jangan memikirkan masalah lain selain pernikahan kami!" ujar Dio.
"Ya, Ibu pastikan Dinda akan beristirahat, karena besok adalah hari yang melelahkan untuk kalian!" sahut Bu Lilis.
Kemudian Bu Lilis berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar.
"Dinda, aku pulang ya sayang, pokoknya aku mohon ponselmu selalu aktif, nanti setelah aku sampai rumah, aku akan video call denganmu!" ucap Dio sambil menggenggam tangan Dinda.
"Mas Dio, aku khawatir dengan kondisi Ayahku, bagaimana keadaannya?" gumam Dinda.
"Kau tenang saja Dinda, fokus pada pernikahan kita besok, setelah kita menikah nanti, baru kita selesaikan urusan keluargamu!" ucap Dio.
"Tapi Mas ..."
"Sssst, sini mendekatlah!" Dio menarik wajah Dinda mendekat ke arahnya.
Kini wajah Dinda ada dalam rangkuman kedua tangan Dio.
Perlahan Dio mendekat dan mengecup lembut bibir Dinda.
"Saat kau menjadi istriku nanti, aku akan mengecup bibirmu di pagi, siang dan malam hari, I Love you!" bisik Dio.
__ADS_1
Air mata Dinda kembali menetes dari pelupuk matanya.
"Trimakasih Mas!"
"Simpan air mata ini untuk besok, jangan kau tumpahkan sekarang, aku pulang ya!" kata Dio sambil menghapus air mata Dinda dengan kedua tangannya.
Dinda menganggukan kepalanya.
Dio lalu keluar dari apartemen itu untuk kembali pulang ke rumahnya.
Setelah Dio pergi, Dinda kemudian masuk ke dalam kamarnya, dia terkejut saat melihat Bu Lilis Ibunya berdiri dengan sudah berganti pakaian.
"Ibu? Ibu mau kemana?" tanya Dinda.
"Ibu mau ke rumah sakit, menemui Ayahmu!" jawab Bu Lilis.
"Jangan Bu, di sana ada Mbak Keyla, Aku tidak ingin Ibu di sakiti lagi!" sergah Dinda.
"Tidak Dinda! Kau istirahat saja di sini, besok adalah hari pernikahanmu, ada yang mau Ibu sampaikan pada ayahmu, kau tenang saja!" Bu Lilis segera melangkah menuju ke pintu depan.
"Ibu! Kau serius akan pergi?" tanya Dinda dengan wajah cemas.
"Nak, ini Ibu sudah bawa ponsel, Ibu juga sudah memesan taksi di bawah, seperti yang kau ajarkan dulu, kau jangan khawatir!" jawab Bu Lilis.
"Tapi Bu ..."
Dinda diam, kalau Ibunya sudah seperti itu, artinya dia sangat serius.
Akhirnya Bu Lilis keluar dari apartemen itu, menuju ke bawah dan langsung naik taksi menuju ke rumah sakit.
****
Bu Lilis terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sampai dia berhenti di depan sebuah ruangan, yang sudah di beritahu sebelumnya oleh Dinda.
Perlahan Bu Lilis masuk ke dalam ruangan itu.
Keyla dan Ken yang sedang menunggui Pak Dirja, nampak terkejut melihat kedatangan Bu Lilis yang tiba-tiba itu.
"Mau apa kah datang ke sini?? Apa keperluanmu? Apakah Dinda yang menyuruhmu datang?" tanya Keyla ketus.
Pak Dirja yang mendengar suara berisik langsung membuka matanya, sedikit terkejut melihat kehadiran Bu Lilis yang berdiri menatapnya, namun dia berusaha menyembunyikannya.
"Ken! Tolong bawa Keyla keluar dari sini! Ajak dia jalan-jalan supaya tentang pikirannya!" kata Pak Dirja sambil menatap ke arah Ken.
"Baik Om!" sahut Ken.
__ADS_1
"Ayah? Kau mengusirku? Siapa dia Yah? Apa Ayah mengenal dia? Ada urusan apa dia datang kesini??" cecar Keyla.
"Key, Ayah mohon, kau keluar dulu bersama Ken, Ayah ada urusan penting!" seru Pak Dirja.
Tidak ingin membuat Ayahnya kumat lagi, Keyla langsung keluar dari ruangan di susul oleh Ken.
Bu Lilis kemudian maju mendekati Pak Dirja yang masih berbaring.
"Apa kabar pak? Aku tidak pernah menyangka kita akan bertemu lagi di jaman ini!" ucap Bu Lilis.
"Lis, maafkan aku, Maafkan Aku Lis!" ucap Pak Dirja lirih.
"Sudahlah Pak, masa lalu biarlah jadi masa lalu, besok Dinda anakku akan menikah!"
"Dia anakku juga!" sahut Pak Dirja.
"Sudah terlambat mengakuinya anak, bahkan sebentar lagi dia akan menjadi istri orang!" cetus Bu Lilis.
"Lis, selama ini aku mencarimu dan anak kita, tapi kau menghilang begitu saja!" ucap Pak Dirja.
"Sudahlah Pak! Aku sudah bilang jangan ungkit masa lalu, aku ke sini hanya mau bilang, jangan lagi kau mengganggu hidup anakku, cukup sudah dia tau siapa Ayah kandungnya yang sebenarnya, lagi pula kau juga mempunyai seorang putri kan, kita urus saja putri kita masing-masing!" ungkap Bu Lilis.
"Tidak! Kalau Dinda anakku, aku harus mengakuinya!" tukas Pak Dirja.
"Pikir pakai otakmu Pak! Anakmu Keyla sangat membenci Dinda, apa jadinya kalau dia tau kalau Dinda itu adik tirinya?" seru Bu Lilis.
"Apakah Keyla tidak mengenalmu? Bukankah dulu kau yang mengasuhnya?" tanya Pak Dirja.
Bu Lilis tertawa mendengar ucapan Pak Dirja.
"Saat itu Keyla baru berusia lima tahun, mana mungkin dia ingat padaku? Lagi pula aku sudah terlanjur di campakkan oleh istrimu!" sahut Bu Lilis.
"Istriku sudah lama meninggal!" cetus Pak Dirja.
Bu Lilis terdiam seketika.
"Aku turut prihatin dan berdukacita!" ucap Bu Lilis.
"Sejak istriku meninggal, aku tidak pernah berpikir untuk menikah lagi, aku hanya memikirkanmu dan anak kita yang kau bawa pergi itu, dan ternyata takdir telah menuntun mu datang sendiri padaku!" kata Pak Dirja.
Bu Lilis diam saja tanpa memberikan jawaban apapun, namun di lubuk hatinya yang terdalam, dia sangat lega, tidak ada lagi beban rahasia dalam hidupnya.
"Lis, masihkah ada kesempatan kita bisa bersama, mewujudkan keinginan kita yang mustahil dulu itu?" tanya Pak Dirja tiba-tiba.
Bu Lilis terperangah mendengar ucapan dari Pak Dirja, mantan majikannya dulu yang pernah berselingkuh dengannya.
__ADS_1
Bersambung ...
****