Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Menyimpan Dalam Hati


__ADS_3

Walaupun Dinda sedikit heran dengan pernyataan Mbak Yuyun yang mengatakan kalau di rumah ini hanya ada satu akses pintu gerbang, namun Dinda tidak menanyakan nya lebih lanjut lagi.


Dia tidak ingin Mbak Yuyun bingung dan curiga, kalau Dinda menanyakan hal lebih lanjut, Dinda menyimpan semuanya itu di dalam hatinya.


"Bu Dinda kenapa?" tanya Mbak Yuyun bingung.


"Eh, tidak apa-apa Bi, Ibu mana?"


"Tadi sih Bu Lilis ada di kamarnya, mungkin sekarang masih ada!"


"Baiklah Mbak, aku mau ngobrol dulu sama Ibu!" kata Dinda yang langsung berlalu meninggalkan tempat itu.


Dinda langsung menuju ke kamar Ibunya, pintu kamar tidak di tutup dengan rapat, Ibunya nampak duduk di depan meja rias sambil memegang sebuah benda.


"Ibu ..."


"Masuk Din, sini!" kata Bu Lilis.


"Ibu sedang apa?"


"Din, bagus tidak? Ini cincin pemberian dari Ayahmu!" kata Bu Lilis sambil menyodorkan kotak kecil berwarna merah beludru pada Dinda.


"Bagus Bu, ini cincin tunangan Ibu?" tanya Dinda.


"Iya Din, tapi Ayahmu katanya mau langsung menikahi Ibu saja, maklum kami sudah tua Din, malu kalau besar-besaran!" jawab Bu Lilis.


"Terserah Ibu dan Ayah saja, aku hanya bisa mendukung kalian, yang penting kalian bahagia!" ucap Dinda.


"Din, Ayahmu rencana akan menikahi Ibu akhir pekan ini, kamu tidak keberatan kan?" tanya Bu Lilis.


"Tentu saja tidak Bu, lebih cepat lebih baik!" jawab Dinda.


"Trimakasih ya Nak, kalau bukan dukungan kalian, mungkin Ibu tidak bisa bersatu dengan Ayahmu!" ucap Bu Lilis.


"Iya Bu, Aku senang akhirnya Ibu dan Ayah bisa bersatu dan bahagia, kalau begitu, aku kembali ke kamar ya Bu, mau istirahat sebentar!"


"Silahkan Nak, istirahatlah, bukankah kau memang harus istirahat!"


Dinda tersenyum, kemudian dia segera beranjak dari kamar Ibunya itu.


Dinda perlahan menaiki tangga dan langsung menuju ke kamar nya.


Dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sambil mengambil ponselnya yang sedari tadi ada di atas tempat tidurnya.


Banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari Dio.


Dinda kemudian mulai membalas untuk menelepon balik Dio. Tak lama, telepon pun di angkat.


"Halo sayang!"

__ADS_1


"Mas, tadi telepon? Ada apa?"


"Sayang, hari ini aku kedatangan tamu dari luar negri, kemungkinan tidak bisa pulang siang seperti biasa, tapi aku sudah bilang Ujang untuk menjemput Chika sekolah!" kata Dio.


"Oh, begitu ya Mas, baiklah!"


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Dio.


"Tidak Mas, pekerjaan kan lebih utama!"


"Tapi bagi aku, kamu prioritas utama!" ucap Dio.


"Mas ..."


"Ya? Ada apa sayang?"


Dinda terdiam sesaat, dia ingin sekali menanyakan soal keganjilan yang dia temukan mengenai pintu di belakang taman, yang di tutupi tanaman menjalar itu, namun dia mengurungkan niatnya.


Dinda tidak ingin Dio jadi kepikiran dan tidak tenang bekerja, makanya dia memilih untuk menyimpannya dulu di dalam hatinya.


"Dinda, kamu kenapa?"


"Eh, tidak apa-apa Mas, sudah deh Mas, Mas Dio lanjut kerja saja, aku juga mau istirahat!" kata Dinda.


"Oke, nanti siang Mas telepon lagi ya!" ucap Dio yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya itu.


Dinda menghela nafas panjang, dia berusaha untuk tetap berpikir positif, mungkin semua yang dia lihat bukan suatu hal yang buruk.


****


Sudah hampir jam satu siang, Dinda sudah menunggu Chika pulang sekolah di teras depan rumahnya.


Namun Chika belum pulang juga, padahal biasanya jam segini Chika sudah pulang.


Bu Lilis di ajak keluar oleh Pak Dirja sejak jam 10 tadi.


"Tunggu di dalam saja Bu Dinda, sudah gelap Bu, mau hujan sebentar lagi, anginnya juga kencang!" kata Mbak Yuyun.


"Kok Chika belum pulang ya Mbak, tadi beneran kan si Ujang sudah jemput?" tanya Dinda.


"Sudah kok Bu, Mbak lihat sendiri si Ujang jalan tadi untuk jemput Non Chika!" jawab Mbak Yuyun.


"Tapi kok belum sampai ya!"


"Mungkin macet Bu, namanya juga di Jakarta!" kata Mbak Yuyun.


"Iya juga sih Mbak, Mudah-mudahan sebentar lagi Chika pulang deh, makan siang sudah siap kan Mbak?" tanya Dinda.


"Sudah Bu, tadi saya sudah menatanya juga di meja makan, jadi nanti bisa langsung saja, semuanya sudah siap kok!" jawab Mbak Yuyun.

__ADS_1


"Ya sudah Mbak kalau begitu Mbak Yuyun boleh kembali melanjutkan pekerjaannya, biarkan aku disini menunggu Chika sampai pulang sekolah!" kata Dinda.


Mbak Yuyun menganggukan kepalanya, setelah itu dia kembali beranjak masuk ke dalam rumah, untuk melanjutkan pekerjaannya di belakang.


Sekarang sudah hampir jam 2 siang, Namun Chika belum juga pulang sekolah, Dinda semakin bertambah cemas, dia langsung merogoh ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Ujang, namun beberapa kali menelepon Ujang tak kunjung mengangkat panggilan teleponnya.


Akhirnya mau tidak mau, Dinda menelepon Pak Roni kepala sekolah.


"Halo selamat siang!"


"Selamat siang Pak Roni, ini Bu Dinda, apakah anak-anak sudah pulang semua? Apakah Pak Roni tau Chika sudah pulang atau belum?" tanya Dinda beruntun.


"Maaf Bu, setau saya, hari ini anak-anak sudah pulang semuanya, tadi guru piket datang melaporkan!" kata Pak Kepsek.


"Oh, tapi Chika belum sampai di rumah Pak, ini sudah mau jam dua lho!" kata chika.


"Wah, kalau itu saya tidak tau Bu, coba telepon saja Bu Dita, yang sekarang jadi wali kelasnya!" usul Pak Roni.


"Baik Pak Trimakasih!" ucap Dinda sebelum menutup teleponnya.


Dengan sedikit ragu Dinda kemudian mulai merogoh ponselnya untuk menelepon Bu Dita wali kelasnya Chika, namun tiba-tiba dia mengurungkan niatnya.


Entah kenapa dia tidak ingin menelepon dengan Bu Dita, karena sejak belakangan ini hubungan mereka kurang baik.


Tring ... Tring ...


Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Pak Dirja. Buru-buru Dinda mengangkatnya.


"Halo Ayah!"


"Nak, Ayah pinjam ibumu zuku sampai sore ya, kami mau foto-foto, kamu jangan mencari Ibumu dulu!" kata Pak Dirja.


"Ayah, Chika belum pulang sekolah sejak siang tadi, sampai mau sore begini, aku khawatir Ayah!" kata Dinda.


"Apa?? Chika belum pulang?"


"Iya Ayah!"


"Baiklah, kau tenang saja, biar aku dan ibu yang akan mencari Chika!" usul Pak Dirja.


"Baiklah Ayah, aku tunggu!" kata Dinda akhirnya sebelum menutup layar ponselnya itu.


Hari ini begitu aneh, entah mengapa Dinda seperti merasakan ada sesuatu yang tersembunyi di rumah ini, yang tidak nampak dari luar, namun itu benar-benar ada dan nyata.


Namun Dinda berusaha untuk berpikir positif, bahwa aura yang ada di rumah ini memang baik.


Dinda mengelus dadanya, berusaha untuk bersabar dan tenang dalam menghadapi segala sesuatu yang terjadi yang mungkin tidak akan pernah diduga sebelumnya.


Bersambung ...

__ADS_1


******


__ADS_2