
Hari ini di tempat kediaman Dio sedang ramai, karena sedang ada syukuran tiga puluh lima hari Arjuna juga syukuran karena Chika mendapat juara satu di sekolah.
Namun Dio tidak mengundang banyak orang, dia hanya Mengundang orang-orang terdekatnya saja, saudara-saudara dan kerabatnya.
Chika terlihat begitu gembira, pasalnya karena dia mendapatkan juara satu di sekolah dia banyak mendapatkan hadiah mulai dari Papanya, mamanya, Oma dan Opanya, bahkan saudara-saudaranya yang lain memberikan Chika hadiah berupa kado.
Padahal Chika tidak berulang tahun, namun dia mendapatkan banyak hadiah, juga hadiah dari Ken dan Keyla, yang pada hari itu juga datang ke rumah Dio bersama bayi mungil mereka, Kirana.
Aneka hidangan juga sudah tersaji di meja makan besar, juga ada beberapa makanan tambahan yang sengaja dipesan Dio di restoran.
"Mas Dio, aku ke kamar dulu ya, sepertinya Juna haus ingin menyusu, aku susui Juna dulu diatas, lagipula Sejak pagi dia kelihatan lelah!" kata Dinda.
"Biar aku antar ke atas sayang!"
"Tidak usah Mas, masih banyak tamu, kamu temani saja tamu-tamu mengobrol, tidak enak kan kalau yang punya acara malah menghilang, tidak apa-apa aku bisa kok sendirian!" ujar Dinda yang kemudian langsung berjalan menuju ke tangga, ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar, Dinda langsung membaringkan tubuhnya dan menyusui Juna sambil berbaring.
Rasanya tubuhnya begitu lelah setelah dari pagi sudah mulai sibuk dan melayani para tamu, belum lagi Juna yang seperti piala bergilir, yang digendong oleh siapapun yang ingin menggendong nya.
Bayi Juna sudah mulai tertidur karena dia merasa nyaman dengan ruangan yang sepi, tidak seramai di bawah.
Dinda juga sudah mulai memejamkan matanya, karena mengantuk dan lelah dari tadi.
Tok ... Tok ... Tok
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya yang diketuk dari luar, spontan Dinda terkejut dan dengan cepat cepat dia membereskan Pakaiannya yang terbuka, karena habis menyusui Juna.
Setelah itu Dinda melangkah mendekati pintu kamarnya itu untuk membukakannya.
Dinda sedikit terperanjat, saat melihat Bu Lian yang kini sudah berdiri di depan pintu kamarnya itu.
"Bunda?"
__ADS_1
"Dinda, kenapa kamu bawa Juna ke kamar? dibawah semua saudara-saudara menanyakan Juna, kamu malah menyembunyikannya di kamar, kalau Juna capek kan di bawah ada box bayinya, dan sekarang semua tamu ingin melihat Juna, tapi kamu malah membawanya ke atas!" tanya Bu Lian.
"Maaf bunda, di bawah tadi Juna tidak bisa tidur, karena mungkin terlalu berisik, makanya aku membawanya ke atas, sekalian menyusuinya supaya Juna juga bisa tidur tenang!" jawab Dinda.
"Dinda, acara ini itu tidak tiap hari, sesekali tidak apa-apa Juna di bawah, hanya sehari saja, kita harus belajar menghormati tamu tamu, Kalau acara belum selesai ya belum boleh masuk ke kamar dulu dong!" kata Bu Lian yang kemudian segera berlalu meninggalkan Dinda kembali ke bawah.
Dinda berdiri termangu mendengar ucapan Bu Lian, kata-kata yang terkesan lembut namun sangat menusuk, dia sadar, memang acara seperti ini tidak dilakukan tiap hari, acara ini hanya sesekali saja, namun dia juga tidak tega kalau melihat Juna yang menjadi tidak nyaman karena di bawah begitu ramai.
Dinda kemudian kembali masuk kedalam kamarnya dan duduk di tempat tidurnya, Dilema mulai melanda hati Dinda, apakah dia harus kembali turun ke bawah sementara Juna kelihatan tidur nyenyak.
****
Hari sudah menjelang sore, acara syukuran pun sudah selesai, semua saudara-saudara dan tamu-tamu sudah pulang ke tempat mereka masing-masing.
Pak Dirja dan Bu Lilis juga sudah pulang ke rumah mereka, ken dan Keyla juga sudah pulang bersama dengan Pak Dirja.
Chika terlihat sangat antusias membuka kado yang bertumpuk di ruang keluarga itu. Wajahnya begitu senang dan gembira, karena mendapat begitu banyak hadiah.
"Wah Kakak Chika banyak sekali hadiahnya!" seru Dinda saat dia duduk di ruang keluarga, memperhatikan Chika yang sedang membuka satu persatu hadiahnya itu.
"Makanya mulai sekarang Chika bukan hanya menjadi anak baik, tapi jadi anak pintar nanti Chika akan selalu banyak dapat hadiah, terutama hadiah kasih sayang dari Papa dan Mama, dari adik dan juga saudara-saudara yang lain, juga kasih sayang dari teman-teman, itu yang tidak ternilai!" ucap Dio bijak.
"Tumben Papa ngomongnya bener!" celetuk Chika.
"Eh, kok Chika Begitu ngomongnya, memangnya biasanya Papa ngomong gak bener?" tukas Chika.
"Dulu kan Papa suka ngomong galak sama aku, waktu masih jomblo!" sahut Chika.
"Hush! Chika nih buka kartu saja, lupakan dulu, sekarang Papa kan sudah tidak jomblo lagi!" sergah Dio.
"Iya iya maaf!" Chika kembali melanjutkan aktifitas membuka kado.
Sejak para tamu dan saudara pulang, dan rumah menjadi sepi, Bu Lian tidak nampak, dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan sampai sekarang tidak keluar lagi.
__ADS_1
Sementara Pak Frans nampak masih mengobrol dengan salah satu koleganya yang masih ada di rumah itu.
Dinda dan Dio yang sedang memangku Juna masih terlihat menemani Chika di ruang keluarga itu.
Tiba-tiba Mbak Yuyun datang menghampiri Dio dan Dinda yang masih duduk di ruang keluarga itu, wajahnya kelihatan tegang.
"Pak Dio, Nyonya Pak! Nyonya pingsan di kamarnya Pak! Saya sudah berusaha membangunkan dia, tapi dia tidak bangun, ternyata dia pingsan Pak!" seru Mbak Yuyun.
"Apa??"
Tanpa bertanya dan menunggu lagi, Dio langsung bergegas dengan cepat berjalan ke kamar Bu Lian dan langsung membuka pintunya.
Bu Lian nampak berbaring di tempat tidurnya dengan terlentang, seperti orang yang sedang tertidur, namun wajahnya kelihatan pucat.
Dinda sambil menggendong Juna menyusul di belakangnya, dan dia juga terlihat terkejut saat melihat Bu Lian yang tiba-tiba pingsan di kamarnya itu.
"Bunda, Apa yang terjadi padamu Bunda! Mbak Yuyun Tolong panggilkan Ayah, kita harus membawa Bunda ke rumah sakit sekarang juga!" seru Dio panik.
Mbak Yuyun menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera berjalan ke ruang tamu di mana Pak Frans masih terlihat asyik mengobrol dengan salah satu koleganya.
Setelah itu Mbak Yuyun memberitahukan kepada Pak Frans mengenai keadaan Bu Lian, pak Frans yang sedikit kaget kemudian spontan langsung berjalan kearah kamar, sementara koleganya itu langsung pamit pulang.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini? Siapa yang terakhir melihat Bunda?" tanya Pak Frans cemas.
"Sudahlah Ayah, kita tidak punya banyak waktu lagi, lebih baik sekarang bantu aku untuk mengangkat Bunda ke mobil, kita ke rumah sakit sekarang, karena detak jantung Bunda kelihatannya lemah!" ujar Dio.
Tanpa bicara lagi Pak Frans kemudian langsung mengangkat Bu Lian dibantu oleh Dio.
Mereka kemudian membawa Bu Lian masuk ke mobil untuk membawa rumah sakit.
"Dinda, titip anak-anak! Aku dan ayah ke rumah sakit, jaga diri kalian baik-baik! "ucap Dio sebelum dia melajukan mobilnya keluar dari rumahnya menuju ke rumah sakit.
Bersambung..
__ADS_1
*****
Besok episode terakhir ya guys ... jangan lupa dukungannya selalu 😊😊