
Setelah dari makam Ranti, mendiang istrinya, Dio kemudian segera menuntun Chika kembali masuk ke dalam mobilnya dan mereka pun segera kembali pulang ke rumah.
Karena hari sudah menjelang sore, di perjalanan yang terlihat masih macet karena banjir yang belum surut, membuat Dio dan Chika kembali terjebak macet.
Akhirnya dia mengambil jalan memutar untuk sampai di rumahnya meskipun jalanan itu agak jauh memutar namun Jalan Tikus itu tidak macet.
Sekitar 45 menit perjalanan akhirnya mereka pun sampai ke rumah.
Suster Anna langsung dengan Sigap membantu Chika untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, setelah itu suster Anna mengantarkan Chika ke meja makan, dan menyiapkan makanan untuknya.
Sementara Dio langsung bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya untuk menemui Dinda.
"Non Chika makan yang banyak! Biar sehat dan kuat!" kata suster Anna sambil menuangkan makanan di atas piring makan Chika.
"Iya Sus, tadi aku ke makam Mama dong!" kata Chika.
"Oya??"
"Iya, kangen, tapi kata Papa, Mama sudah enak di sana, sudah ada di surga!" lanjut Chika.
"Non Chika, kalau Mama Non Chika datang lagi dan ingin mengajak Non Chika pergi, Non Chika mau??" tanya Suster Anna.
"Tidak mau Sus, Mamaku kan sudah meninggal! Dia sudah tidak ada!" sahut Chika.
"Kalau misalnya Mama Non Chika belum meninggal bagaimana?" tanya Suster Anna sambil tersenyum.
"Suster bohong!" seru Chika.
Mendengar suara teriakan Chika, Mbak Yuyun yang sedang berada di dapur langsung datang menghampiri Chika yang masih duduk di ruang makan itu, bersama dengan suster Anna.
"Ada apa Non Chika?" tanya Mbak Yuyun.
"Mbak, masa Mamaku di bilang belum meninggal, Suster Anna bohong kan?!" sahut Chika.
"Eh, dia salah paham Mbak, aku kan hanya bercanda saja!" potong Suster Anna cepat.
"Suster, sebaiknya jangan bicara aneh-aneh pada Non Chika, Non Chika itu anak yang pintar Bicaralah sewajarnya!" kata Mbak Yuyun.
__ADS_1
"Iya Mbak!"
"Kalau Pak Dio dan Bu Dinda tahu, mereka juga pasti akan marah kalau suster bercanda keterlaluan seperti itu!" lanjut Mbak Yuyun.
Suster Anna hanya terlihat menunduk diam saja tanpa menjawab lagi, setelah itu itu Mbak Yuyun kembali bergegas menuju ke dapur.
Setelah selesai makan, suster Anna kemudian langsung membawa Chika ke kamarnya untuk beristirahat.
Karena sangat lelah, tak lama kemudian Chika sudah nampak tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
****
Sementara itu, Dio yang kini ada di kamarnya terlihat menyodorkan rujak buah pesanan Dinda, tadi setelah dari makam, Dio menyempatkan mampir ke penjual rujak yang tidak jauh dari makam.
Tanpa menunggu lama, Dinda langsung segera menyantap rujak buah yang Dio bawa itu.
Dinda makan begitu semangat, hingga rujak yang dibawakan Dio habis tak tersisa.
Dio hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Dinda Makan begitu semangatnya.
"Hati-Hati sayang, terlalu banyak makan rujak membuat perutmu sakit!" ucap Dio.
"Kalau kamu ingin makan apapun, jangan sungkan mintalah padaku, aku pasti akan memberikannya padamu!" ucap Dio sambil membersihkan mulut Dinda dari sisa bumbu rujak yang belepotan.
"Mas, aku kok ingin makan puyunghai ya, yang seafood, pingin banget Mas!" kata Dinda tiba-tiba.
"Apa? Kapan?" tanya Dio.
"Sekarang Mas!"
"Sekarang? Sudah makan sepiring rujak belum kenyang?" tanya Dio bingung.
"Tidak tau Mas, tiba-tiba pingin!" jawab Dinda.
"Baiklah, aku keluar sekarang mencari puyunghai yang kamu mau, tunggu sebentar ya!"
Dia mengecup kening Dinda sebelum dia keluar dari kamarnya itu. Dio langsung menuruni tangga, bergegas keluar dari rumahnya, dan kembali naik ke dalam mobilnya untuk mencari restoran seafood, untuk membelikan puyunghai untuk Dinda.
__ADS_1
****
Hari sudah menjelang sore, dan bahkan hampir maghrib, Chika yang sejak tadi tertidur, kini mulai mengerjapkan matanya.
Dia terkejut dan langsung bangun dari tidurnya, dan duduk mundur sampai bersandar pada dipan tempat tidurnya itu, saat melihat di dalam kamarnya ada sosok yang sangat ia kenal.
"Ma-Mama!" seru Chika sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
"Chika ....ikut Mama yuk!" ajak wanita yang menyerupai Mamanya Chika itu.
"Tidak! Mamaku sudah meninggal!" tolak Chika sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini Mama sayang, ayo ikut Mama, Bukankah kau sangat merindukan Mama! Ayolah sayang!" wanita itu mengulurkan tangannya.
Chika lalu berdiri dan bersandar di tembok kamarnya itu, berusaha menghindari tangan wanita yang kini ada di dalam kamarnya itu.
"Bohong! Kamu bukan Mamaku! Mamaku sudah meninggal!" teriak Chika sambil menepiskan tangan wanita itu.
"Chika, katanya kamu kangen Mama, ayo sini ikut Mama, kita pergi dari rumah ini, Chika akan bahagia bersama Mama!" kata wanita itu.
"Tidak! Aku tidak mau!" sengit Chika.
Tiba-tiba wanita itu langsung menyergap Chika dan memeluknya dengan erat.
Chika meronta-ronta hendak melepaskan diri dari wanita yang memang mirip dan sangat mirip dengan mamanya itu.
Namun tenaga Chika tidak cukup kuat untuk terlepas dari pelukan wanita itu.
Wanita itu tersenyum menyeringai kearah Chika pada saat wajah mereka berdekatan, Chika menyadari bahwa itu bukanlah mamanya.
Braaak!!
Tiba-tiba pintu kamar Chika dibuka paksa dari luar.
Pak Dirja datang bersama dengan Bu Lilis, yang ada di belakangnya, menatap tajam kearah wanita yang kini sedang memeluk Chika dengan erat.
Wanita itu terkejut kemudian, dia membalikkan badannya dan memeluk Chika dari belakang.
__ADS_1
Bersambung ...
****