
Malam ini Dinda masih setia menjaga Dio di rumah sakit, apalagi setelah Pak Frans, Ayah Dio, menitipkan Dio pada Dinda.
Ini karena Dinda tidak membawa baju ganti, Dio kemudian menyuruh Mbak Yuyun membawakan beberapa baju baru untuk Dinda, yang penting Dinda tidak beranjak dari ruangan ini.
"Mas, masa aku tidak boleh pulang ke apartemen sebentar? aku kan mau mandi dan istirahat Badanku capek, apalagi setelah aku merawatmu aku harus mengajar lagi lagi!" kata Dinda.
"Kan tadi Mbak Yuyun sudah antar bajunya, lagipula kau kan sudah mandi dan segar, please Din ... jangan tinggalkan aku sendiri disini!" rengek Dio persis seperti anak kecil.
Ceklek!
Tiba-tiba seorang perawat dan seorang Dokter masuk ke ruangan Dio.
Dio tersenyum, saat melihat siapa dokter yang datang mengunjunginya itu.
"Wah, Suatu kehormatan Dokter Dicky berkenan datang mengunjungiku!" ucap Dio.
Dokter Dicky tersenyum, kemudian dia melangkah mendekati Dio dan berdiri di sampingnya.
"Bagaimana keadaanmu Dio? aku juga baru mendengar kalau kau dirawat di sini, kalau kau memang butuh apapun, kau jangan sungkan menghubungiku ya!" ucap dokter Dicky.
"Tidak dokter, kau sudah terlalu banyak menaburkan kebaikan padaku, aku bisa dirawat di rumah sakit ini pun, aku sudah sangat bersyukur, Mana mungkin aku mau mengganggumu!" Kata Dio.
Dokter Dicky nampak tertawa lepas, dari pancaran wajahnya, dokter ini kelihatan begitu simpatik dan baik hati, entah mengapa setiap orang yang melihatnya terasa sejuk dan damai.
"Dio, Sepertinya kau sudah saatnya melepaskan status duda mu itu, Lihatlah, ada wanita yang setia menunggumu!" kata dokter Dicky sambil menoleh kearah Dinda yang duduk di samping Dio.
"Tenang saja dokter, nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, kupastikan tidak lama lagi akan ada undangan yang meluncur ke rumahmu!" sahut Dio.
Dinda hanya menunduk dan tersenyum malu mendengar ucapan Dio yang begitu percaya diri itu.
"Kalau begitu, aku akan menyuruh seluruh Dokter dan perawat di Rumah Sakit ini, untuk cepat menyembuhkan mu! Sudah saatnya kau bahagia Dio!" ucap Dokter Dicky sambil mengelus bahu Dio dengan lembut, sentuhan seorang sahabat yang tulus dan penuh kasih.
"Terima kasih Dokter, Kau adalah orang pertama yang akan mendapat undanganku!" sahut Dio.
"Baiklah, sepertinya kau harus istirahat karena hari sudah malam, kalau begitu aku pamit dulu ya, Dinda, Jaga Dio mu baik-baik, awas jangan sampai dicolek orang!" ucap Dicky sambil tersenyum.
Kemudian dokter Dicky segera beranjak dari tempat itu dan keluar dari ruang perawatan Dio.
Setelah dokter Dicky pergi, Dinda kemudian mulai menyelimuti Dio. karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam.
"Luar biasa dokter Dicky! Beruntung sekali Mbak Fitri menjadi istrinya, pasti dia sangat bahagia sekali!" ucap Dinda.
__ADS_1
"Hey, kau jangan terlalu dalam mengagumi dokter Dicky! Nanti aku akan cemburu!" sungut Dio.
"Ehm, mana mungkin lah Mas, aku kan hanya sebatas simpati saja, aku sangat menghormati dia, karena saat aku di sakiti Ken, Dokter Dicky dan istrinya datang dan meminta maaf pada keluargaku, mereka sangat baik!" ungkap Dinda.
"Asal kau tau Dinda, dulu mendiang istriku juga sangat mencintai dia!" ucap Dio.
"Oya?"
"Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, tapi karena Perjodohan orang tuaku dan orang tua istriku, mereka terpaksa harus berpisah, Ah, kalau ingat itu aku, jadi sedih!" ungkap Dio.
"Kau percaya tidak Mas, kalau jodoh itu bertemu dengan cara yang unik, setauku, dulu Dokter Dicky dan Mbak Fitri juga bertemu dengan cara unik, saat Mbak Fitri mau bunuh diri!"
"Ya, aku juga tau itu!"
"Mungkin semua yang terjadi itu takdir Mas, kalau kau dulu tidak menikah dengan istrimu, tidak akan ada Chika, dan kalau tidak ada Chika, kita tidak mungkin bertemu!" ucap Dinda.
Dio menatap hangat wajah Dinda, kemudian menggenggam erat tangannya.
"Dan saat aku menemukanmu, hatiku sudah berlabuh di sini!" ucap Dio sambil menunjuk dada Dinda.
"Hmm, mulai kumat gombal nya, sudah Mas, istirahat ya, sudah malam!" tukas Dinda.
"Cium dulu!" Dio menunjuk kedua pipinya.
Dinda lalu beringsut ke sofa, setelah Dio sudah dalam posisi nyaman.
"Din, di sini dulu, elus-elus rambutnya sampai aku tidur, setelah itu, baru kau tidur di sofa!" panggil Dio.
"Ya ampun Mas, kok ya kayak anak kecil di elus-elus segala!" sungut Dinda.
"Ayolah please ... tidak mau jauh dari kamu!" lanjut Dio.
Akhirnya Dinda kembali beranjak dari tempatnya dan duduk di samping Dio.
Dinda mulai mengelus-ngelus rambut Dio, hingga mata Dio mulai terpejam.
Saat Dio akan benar-benar tertidur, tiba-tiba ponsel Dio bergetar. Dio kembali membuka matanya.
Ada yang menelepon Dio namun dengan nomor tak di kenal.
"Ada yang telepon Mas!" kata Dinda.
__ADS_1
"Angkat saja Din!" sahut Dio.
"Masa aku yang angkat, ponsel itu kan privasi kamu Mas, kau saja yang Angkat ya!" tukas Dinda sambil menyodorkan ponselnya ke arah Dio.
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak mau angkat!" cetus Dio.
"Lho kok gitu?"
"Kamu itu calon istri aku Din, siapapun yang berhubungan denganku juga harus berhubungan denganmu, kau paham? Angkat sekarang teleponnya!" titah Dio.
Akhirnya dengan terpaksa Dinda mengusap layar ponsel milik Dio itu, hatinya berdebar, tidak pernah dia mengangkat ponsel milik orang lain.
"Halo ..."
"Halo, Hei, aku mau bicara dengan Pak Dio, kamu siapa berani angkat-angkat telepon Pak Dio?!" tanya seorang wanita dari sebrang, tapi itu bukan suara Keyla.
"Maaf, ini siapa ya?" tanya Dinda.
"Yang seharusnya tanya itu aku, kamu siapa? Kok berani pegang ponsel Pak Dio, siapapun tidak pernah ada yang berani melakukan itu!" cetus wanita itu.
"Oke, aku Dinda, gurunya Chika!" sahut Dinda.
"Oh, hanya guru Chika, berani benar mengambil ponsel Pak Dio, kau bisa di tuntut nanti!" kata wanita itu.
"Ada pesan apa untuk pak Dio?" tanya Dinda.
"Kau dengar, aku ini Brenda, sekertaris Pak Dio, aku ada perlu dengan dia terkait proyek besar yang sedang di tangani itu, kau paham?"
"Oke, nanti aku akan sampaikan!" kata Dinda.
"Oke!"
Tak lama terdengar suara ponsel di matikan.
Dinda menarik nafas panjang.
"Kenapa kau tidak jujur saja Dinda, kalau kau calon istriku??" tanya dio tiba-tiba.
Dinda terkejut karena di pikirnya Dio sudah tertidur.
Bersambung ....
__ADS_1
***.