
Dio memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik besar yang menyediakan berbagai pesanan gaun pengantin.
Setelah itu dia turun dari mobilnya, dan menuntun Dinda berjalan masuk ke butik itu.
"Selamat sore Pak Dio, pesanan anda sudah Ready dan siap untuk di coba, silahkan!" sapa seorang penjaga butik dengan ramah.
"Oke!"
"Mas Dio, kok dia sudah kenal kamu sih?" tanya Dinda berbisik.
"Tentu saja, semua butik di Jakarta pasti kenal aku, karena mereka memakai jasa interior dari perusahaanku, juga semua furniture yang mereka punya itu pesan di perusahaanku!" jawab Dio.
"Mas Dio hebat juga!"
"Calon suami siapa dulu!" sahut Dio.
Beberapa gaun sudah terpasang di hadapan Dinda, semuanya bagus dan cantik, sangat elegan.
Dinda terpana melihat pemandangan di hadapannya, ini rasanya seperti mimpi.
Dulu Dinda juga pernah fitting baju pengantin bersama dengan Ken, namun semua impiannya memakai gaun yang cantik hilang seketika, Ken membatalkan pernikahannya secara sepihak.
Sakitnya masih terasa sampai sekarang, namun kini Dio merubah segalanya, ada Harapan dan impian baru yang diberikan Dio pada Dinda, membuat Dinda kembali bermimpi menjadi Ratu yang cantik untuk calon mempelainya.
"Dinda, di antara semua gaun yang telah aku pesan ini, kau lebih suka yang mana?" tanya Dio sedikit membuyarkan lamunan Dinda.
"Eh, semuanya bagus-bagus Mas, kau pilih saja salah satu, yang manapun aku suka!" sahut Dinda.
"Aku mau kau yang memilihnya sayang, sengaja aku pesan lebih dari satu, dengan semua model terbaru, supaya kau senang!" kata Dio.
"Kau terlalu boros! Aku hanya memakai satu gaun saja, itu sudah cukup, kenapa kau pesan tiga?" tanya Dinda.
"Itu semua tidak ada artinya, di bandingkan kau telah memberikan hatimu untukku, Oke, gaun itu semua milikmu, kau boleh pakai bergantian!" ujar Dio.
"Mas, kau mau menikah atau pameran gaun sih??" tanya Dinda gusar.
"Sudahlah sayang, seharusnya kau senang calon suamimu ini memberikan yang terbaik Untukmu, sekarang, aku minta kau cobalah gaun itu!" jawab Dio.
"Sekarang??"
"Ya iya lah, masa tahun depan! Mbak! Bantu calon istriku untuk mencoba gaunnya!" titah Dio.
__ADS_1
Seorang karyawan butik lalu mulai membantu Dinda mencoba gaun pengantin itu.
Dengan tidak sabar, Dio duduk menunggu di depan sebuah ruangan ganti, dia tidak sabar melihat Dinda mengenakan gaun pengantin.
Tak lama kemudian, Dinda keluar dari ruangan itu sudah dengan mengenakan gaun pengantin pilihan Dio.
Dio terkesiap, tertegun, terpana dan terperangah melihat kecantikan calon istrinya saat mengenakan gaun itu.
Tanpa di sadari nya, matanya berkaca-kaca penuh dengan rasa haru.
"Dinda... Benarkah kau Dindaku?" tanya Dio dengan suara sedikit bergetar.
Dinda tersenyum melihat Dio yang terbengong-bengong menatapnya.
"Bagus tidak Mas?" tanya Dinda.
"Untuk apa kau bertanya begitu? Orang buta pun akan bilang bagus saat melihatmu bagai bidadari begini!" jawab Dio.
"Sejak kapan kau berubah jadi pujangga begini Mas, sudah ah, aku mau ganti lagi!" cetus Dinda.
"Eh, jangan! Belum puas aku memandangmu sayang!" cegah Dio.
"Mas Dio, untuk foto prewedingnya, besok ya, jam 12 siang sudah ke sini! Semua spot yang Mas Dio mau sudah kami siapkan!" Kata tante Ara, sang pemilik butik itu.
"Wah, calon Pak Dio cantik sekali, sangat cocok memakai gaun ini, apakah gaun yang ini yang akan di pilih?" tanya Tante Ara.
"Semua yang saya pesan waktu itu, akan di ambil semua Tante, saya akan bayar semuanya!" jawab Dio.
"Semua? Wow, bahagia sekali ya punya suami Mas Dio, royal dan penuh cinta!" puji Tante Ara.
"Ah, Tante bisa saja!"
Dinda kemudian kembali ke ruang ganti, mengganti pakaiannya kembali.
"Bagaimana Mbak Dinda? Gaunnya sudah pas kan? Mas Dio tau saja ukuran calon istrinya!" tanya Tante Ara.
"Sudah pas kok Tante!" jawab Dinda.
Setelah mereka fitting baju pengantin, mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke rumah.
Hari sudah benar-benar malam saat mereka keluar dari butik itu.
__ADS_1
"Sayang, aku langsung mengantarmu ke apartemen ya, Ibumu pasti mengkhawatirkan mu!" ucap Dio.
"Iya Mas! Tapi motorku bagaimana?"
"Motor tak usah kau pikirkan, Besok aku jemput kok, lagian kau kan punya nomor ponsel Ujang, aku sudah bilang kalau dia bertanggung jawab untuk mengantarmu dan Ibumu!" kata Dio.
"Tapi ..."
"Tidak usah membantah lagi, belajar nurut sama suami!" potong Dio cepat.
"Baik mas!"
Akhirnya Dinda menuruti semua keinginan Dio, demi mencegah perdebatan.
*****
Sementara itu, Bu Lilis diam-diam pergi meninggalkan apartemen saat Dinda pergi ke rumah Dio.
Bu Lilis bermaksud pergi mencari alamat mantan majikannya dulu, dengan berbekal ingatannya.
Namun, alamat rumah majikannya yang dulu sudah berubah menjadi gedung pencakar langit.
Bu Lilis menjadi bingung, apalagi sudah lama sekali dia tidak pernah berjalan-jalan di kota Jakarta, kecuali ke tempat kos Dinda dulu.
Tiba-tiba Bu Lilis lupa jalan pulang ke apartemen, dia merogoh ponselnya di kantong bajunya, ternyata dia tidak bawa ponsel, ponselnya ketinggalan di apartemen.
"Maaf Mas, mau tanya, jalan ke apartemen lewat mana ya?" tanya Bu Lilis pada seorang tukang ojek berseragam hijau.
"Aparten apa Bu?" tanya tukang ojek itu.
"Aduh, yang mana ya? Saya lupa Mas!" ujar Bu Lilis.
"Ya ampun Bu, malam-malam begini susah cari alamat, apalagi di Jakarta, coba saja tanya polisi Bu!" jawab tukang ojek itu.
"Aduh, gimana ya, kok Ibu bisa lupa, di mana polisi Mas?" tanya Bu Lilis makin bingung.
"Sini Bu, saya antar ya ke kantor polisi, biar aman!" tawar Tukang ojek itu.
Bu Lilis menganggukan kepalanya. Kemudian dia naik ojek menuju ke kantor polisi terdekat.
Bersambung ...
__ADS_1
****