
Pagi itu Dinda sudah bangun dari tidurnya, dia cepat-cepat mandi dan berpakaian karena dia akan ke sekolah untuk mengajar.
Sebentar lagi Dio dan Chika pasti datang untuk menjemputnya ke sekolah.
Asti masih nampak tertidur di tempat tidurnya itu, mereka mengobrol hingga hampir tengah malam, hingga tak terasa mereka tidur begitu larut.
"Asti, As! Bangun! Aku aku sudah mau berangkat nih!" seru Dinda sambil mengguncangkan tubuh sahabatnya itu.
"Hoaaam, Aaaah, kau mengganggu tidurku saja, aku masih ngantuk tau! Tempat tidurnya empuk pake banget, jadi betah tidur lama-lama!" sungut Asti.
"Bangun dulu! Sebentar lagi Pak Dio dan Chika akan datang kemari untuk menjemputku!" ujar Dinda.
Asti langsung Melompat bangun dari tidurnya.
"Whatt?! Tapi tidak apa-apa kan kalau aku menginap di sini?" tanya Asti.
"Ya tidak apa-apa sih, cuma ya kali kamu masih tidur jam segini, orang-orang udah pada siap-siap berangkat kerja!" sahut Dinda.
"Ya aku kan jadi agen asuransi Din, tahu sendiri jam kerja aku tidak tetap!" ujar Asti sambil kembali merebahkan tubuhnya dengan malas di tempat tidur itu.
"Ya sudah deh terserah! Aku jalan dulu ya, aku akan tunggu mereka di lobby saja! Nanti kalau keluar kuncinya di titip di lobby bawah saja ya!" kata Dinda yang langsung buru-buru akan keluar karena waktu sudah menunjukkan kan Hampir pukul 7 pagi.
"Okee, siaaap!!"
Baru saja Dinda keluar dari apartemennya itu, dan berjalan beberapa langkah, dari ujung koridor nampak Dio dan Chika yang sudah datang menghampiri nya.
"Wah Bu Dinda sudah siap! Ayo let's go Bu!" seru Chika bersemangat.
"Let's go sayang!" balas Dinda sambil langsung menggandeng Chika kembali turun ke bawah menuju ke parkiran.
Mereka kemudian mulai naik kedalam mobil yang terparkir di basement apartemen itu.
Dio langsung mengemudikan mobilnya keluar dari apartemen menuju ke sekolah.
"Pak Dio, sepertinya besok-besok aku berangkat dan pulang sekolah sendiri saja deh, sayang motorku Sudah lama tidak dipakai! Nanti rusak lagi!" ujar Dinda.
"Tidak apa-apa! Hitung-hitung latihan!" sahut Dio.
"Latihan apa??"
"Latihan jadi istri dan Ibu rumah tangga yang baik!"
Dinda langsung terdiam mendengar jawaban dari Dio, ada yang berbunga-bunga di relung hatinya yang terdalam.
"Papa! kalau mau godain Bu Dinda jangan di depan aku dong! Kan Bu Dinda nya jadi malu tuh, lihat saja mukanya jadi merah!" cetus Chika sambil menunjuk wajah Dinda yang bersemu merah.
__ADS_1
"Ah, Chika bisa saja deh!" sahut Dinda sambil mencubit gemas pipi Chika.
"Papa malah senang buat Bu Dinda jadi malu, karena dengan wajah yang merah membuat Bu Dinda semakin cantik!" ucap Dio. Dinda semakin keki dan salah tingkah.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Dio sudah sampai di parkiran sekolah.
Mereka kemudian turun dari mobil dan Dio mengantar Dinda dan Chika sampai di gerbang lobby.
"Dah Papa! I Love you!" seru Chika yang langsung berlari ke atas menuju ke kelasnya.
Dinda yang segera akan beranjak ke ruang guru, langsung di tarik tangannya oleh Dio.
"Lho kok main ngeluyur aja, cium dulu tanganku!" ujar Dio.
"Cium tangan? Memangnya pak Dio itu orang tuaku? Pakai cium tangan segala!" sahut Dinda.
"Sebagai istri yang baik, kalau pergi ke manapun wajib mencium tangan suaminya, bukan hanya tangan, tapi pipi, kening, juga bibir!" ucap Dio.
"Pak Dio apaan sih?! Aku kan belum jadi istrimu!" protes Dinda.
"Yah kan latihan jadi istri! Ayo!" sahut Dio.
"Tidak mau! Lagipula ini sekolah, apa Pak Dio mau semua orang tambah membicarakan aku dan menggosipkan aku?" tanya Dinda.
"Siapa yang berani menggosipkan mu? kau Ini calon istriku, jadi tidak akan ada yang berani menggosipkan mu!" sahut Dio.
"Ayo cepat lakukan sekarang! atau kau akan terlambat naik ke atas!" ujar Dio.
Dinda tidak ada pilihan, Apalagi setelah dia melirik jam hanya tinggal tersisa waktu 2 menit bel sekolah akan berbunyi.
Kemudian Dinda langsung mengecup tangan Dio kemudian beralih ke kening, pipi, dan bibir Dio, dengan menahan rasa malu.
Setelah itu tanpa menoleh lagi tidak segera berjalan naik ke atas menuju ke ruang guru.
"Ehem, makin hari makin romantis saja!" goda Bu Dita yang kini berjalan beriringan dengan Dinda.
"Bu Dita bisa saja!"
"Bu Dinda sudah mulai agresif nih kelihatannya, kapan nih undangan meluncur??"
"Undangan??"
"Iya, undangan pernikahan! Kalian pasti akan menikah kan? Apalagi Chika sudah membuat pengumuman di mading!" kata Bu Dita.
"Apa?? Pengumuman di mading?" Dinda menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah Bu Dita.
__ADS_1
"Bu Dinda tidak tahu ya? Kemarin itu Chika membuat pengumuman besar-besaran, lalu dia minta Pak Roni untuk menempelkannya di mading lihat saja sendiri sana!" jelas Bu Dita sambil menunjuk kearah Mading yang ada tidak jauh dari tempat Mereka berdiri.
Tanpa menunggu lagi Dinda langsung berjalan kearah Mading yang terpampang besar di dinding itu.
Di sana ada sebuah poster dengan tulisan tangan Chika yang berbunyi, 'Bu Dinda is my New Mom, and wife of my Dad!'
****
Pada jam istirahat, Dinda memanggil Chika untuk duduk di hadapannya, hendak menanyakan maksud tulisan yang kita buat di mading sekolah itu.
"Chika, kok Chika bisa tulis poster itu di mading sekolah?" tanya Dinda.
"Karena aku mau buat pengumuman, supaya semua orang tahu kalau Bu Dinda itu itu bakal jadi mamaku!" jawab Chika.
"Ya tapi kan bukan berarti harus menulis poster besar-besar seperti itu juga kali, Bu Dinda kan jadi malu!" ucap Dinda.
"Maaf deh Bu!" ucap Chika menunduk.
Dinda langsung berdiri dan memeluk Chika.
"Bu Dinda tidak marah kok, tapi kan Bu Dinda belum jadi istrinya Papa Chika, masa sudah di buat pengumuman!" kata Dinda sambil mengusap rambut Chika.
"Tapi Bu Dinda mau kan sama Papa?" tanya Chika.
"Ehm, mau tidak ya ..."
"Kan Papa baik Bu!"
"Iya deh, Bu Dinda mau sama Papa Chika, tapi Chika diam-diam saja, jangan bilang-bilang Papa juga!" tukas Dinda.
"Bu Dinda gengsi ya?"
"Bukan, ah, sudahlah Chika, sekarang kau boleh bermain dengan teman-temanmu!" sergah Dinda.
"Malas Ah Bu, aku kan capek kebanyakan jalan!" sahut Chika.
"Kebanyakan jalan?"
"Kemarin Papa dan Tante Keyla jalan-jalan ke pantai, payah, tante Keyla tidak mau menggendong ku! Padahal aku minta gendong!" sungut Chika.
"Tante Keyla siapa??"
"Tante Keyla teman Papa, kemarin kan dia datang bawa kue buat Papa!" jawab Chika polos.
Tiba-tiba Dinda terdiam.
__ADS_1
Bersambung ...
***