
Siang ini hujan begitu lebat, petir menggelegar memekakan telinga, suaranya bergemuruh silih-berganti.
Hujan yang seolah ditumpahkan langsung dari langit, disertai angin yang cukup kencang, yang menerpa pohon pohon dan dedaunan yang ada di di taman sekitar rumah Dio.
Dinda masih menatap derasnya air hujan dari dalam kamarnya, tatapannya lurus ke depan melihat angin yang bertiup, menerbangkan dedaunan dan hujan yang begitu derasnya.
Dinda kemudian mulai menyalakan televisi yang ada di kamarnya itu, baru saja dia membuka televisi, sudah ada berita tentang banjir di Jakarta.
Banjir yang yang cukup parah karena curah hujan yang cukup lebat hari ini, menyebabkan banyak ruas ruas jalan ditutup, dan kemacetan terjadi.
Karena khawatir, Dinda kemudian mulai mengambil ponselnya untuk menelepon Dio, karena siang ini bertepatan dengan Chika pulang sekolah.
Dinda khawatir kalau dia kena macet dan terlambat untuk menjemput Chika, apalagi dengan kasus yang pernah menimpa Chika, Dinda harus bertindak cepat.
"Halo, sayang?"
"Mas, kamu di mana? Terjebak banjir tidak? Ini jam Chika pulang sekolah Mas!" kata Dinda.
"Aku masih di jalan Din, macet ya parah sekali, tapi aku sudah menelepon Pak Roni agar menjaga Chika sampai aku datang!" jawab Dio.
"Oh, jadi Mas Dio sudah telepon Pak Roni? Baguslah kalau begitu, dari tadi aku khawatir kalau Chika terlambat dijemput, akan ada hal yang seperti dulu lagi!" ucap Dinda.
"Kamu tenang saja sayang, jangan terlalu memikirkan Chika, pokoknya aku pasti akan pulang bersama dengan Chika, istirahat saja di rumah, jaga calon bayi kita!" kata Dio sambil memutuskan panggilan teleponnya.
Dinda menarik nafas lega, setidaknya dia tenang sedikit, karena dia sudah bertanggung jawab dan sudah berinisiatif untuk menelepon Pak Roni, untuk menjaga Chika.
Setelah itu, dia kemudian Turun ke bawah untuk membantu menyiapkan makan siang.
Mbak Yuyun dan Bu Lilis nampak sibuk menata meja makan, dan menaruh beberapa masakan yang telah matang.
"Wah, sudah siap semua, mana Suster Anna?" tanya Dinda.
"Tidak tau Bu, sejak pagi tadi dia belum balik, katanya mau kerumah saudaranya!" sahut Mbak Yuyun.
"Kerumah saudara?"
"Iya, pamitnya sih cuma sebentar, tapi sampai hujan besar begini dia belum juga muncul!" lanjut Mbak Yuyun.
"Aduh!"
__ADS_1
Tiba-tiba Dinda memegangi kepalanya dan langsung duduk di bangku yang ada di dekatnya.
"Ada apa Dinda?" tanya Bu Lilis khawatir. Dia langsung duduk di samping Dinda sambil memegangi bahunya.
"Tiba-tiba Kepalaku pusing Bu, perutku juga agak mual, mungkin karena mencium aroma makanan ini ya!" jawab Dinda.
"Ya namanya juga orang sedang hamil muda, Ya seperti itulah nak, tapi walau bagaimana, kamu harus makan yang banyak untuk asupan nutrisi calon bayi mu itu!" kata Bu Lilis.
"Iya Bu, cuma aku agak pusing saja, aku duduk di sofa ruang keluarga deh bu, supaya tidak terlalu mencium aroma makanan ini!" ujar Dinda yang langsung berdiri dan beranjak meninggalkan ruang makan.
Kemudian dia segera menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga.
Hujan masih turun dengan amat lebat, Dinda melihat ke arah TV yang ada di ruang keluarga itu, berita banjir sudah mulai memenuhi channel TV, Jakarta kini sedang dikepung banjir karena hujan yang lebat dan lama itu.
*****
Sementara itu, Bu Lilis nampak sedang berjalan mengelilingi rumah, sambil mengamati sendal-sendal yang dia temui, guna mencari tau jejak kaki yang sering melintasi taman belakang yang sudah di foto oleh Pak Dirja.
Semua sendal dan sepatu di rumah ini sudah dicocokkan oleh Bu Lilis, tapi tidak ada satupun yang jejaknya sama dengan yang dia lihat di taman belakang itu, polanya berbeda.
Ada satu lagi yang belum Bu Lilis lihat, itu adalah sendal milik suster Anna, karena suster Anna pergi sejak tadi pagi.
Ternyata suster Anna datang sambil membawa payung, karena kehujanan.
kemudian dia segera melangkah masuk, dan meletakkan sendalnya di luar rumah, karena becek dan basah.
Buru-buru Bu Lilis berjalan ke arah depan, menghampiri suster Anna yang baru datang itu.
"Dari mana saja Sus? Orang pergi Kok dari pagi sampai siang baru pulang!" tanya Bu Lilis.
"Saya baru pulang dari rumah saudara Bu, anaknya sakit!" jawab Suster Anna.
"Hmm, apa kamu sudah pamit sama majikan??" tanya Bu Lilis.
"Saya sudah pamit sama Mbak Yuyun!" sahut Suster Anna.
"Tapi Yuyun itu bukan majikanmu! Dinda dan Dio itu majikanmu!" tegas Bu Lilis.
"Iya Bu saya tau, tapi tadi pagi saya buru-buru, hanya bisa ketemu dengan Mbak Yuyun!"
__ADS_1
"Hmm, alasan! Sudah sana masuk, lakukan pekerjaanmu, siapkan pakaian dan makanan untuk Chika, sebentar lagi cucu ku pulang sekolah!" kata Bu Lilis.
Suster Anna hanya menganggukan kepalanya, setelah itu dia langsung masuk kedalam tanpa menoleh lagi.
Bu Lilis tersenyum, lalu dia mendekat ke arah sendal Suster Anna yang ada di luar teras rumah itu, lalu dengan seksama mengamatinya.
Bolak balik mengamati, namun pola di bawah sendal itu juga berbeda dengan jejak yang ada di taman belakang rumah ini.
Bu Lilis terlihat bingung, semua penghuni rumah ini tidak ada yang memiliki sendal yang sama dengan jejak yang mereka lihat waktu itu.
Dengan sedikit kecewa, Bu Lilis akhirnya kembali masuk ke dalam rumah itu.
dari arah dapur Mbak Yun nampak tergopoh-gopoh datang menemui Bu Lilis yang baru masuk itu.
"Yuyun Kamu ngapain lari-lari, kayak melihat hantu saja!" kata Bu Lilis.
"Ini bu, saya baru nemu ini di meja dapur, ini punya siapa sih Bu, Terus ini apa apa?" tanya Mbak Yuyun sambil menyodorkan kan satu bungkus seperti teh tapi itu bukan teh.
Bu Lilis nampak mengamati bungkusan itu kemudian dia mengambilnya dari tangan Mbak Yuyun.
"Yuyun, biar aku bawa bungkusan ini, kamu jangan bilang-bilang sama Dio dan Dinda mengenai ini ya!" kata Bu Lilis.
Mbak Yuyun nampak menganggukkan kepalanya, kemudian dia kembali berjalan kearah dapur.
Bu Lilis dengan cepat masuk ke dalam kamarnya, menemui Pak Dirja yang sedang duduk sambil membaca buku.
"Mas, tadi si Yuyun baru saja memberikan ini, katanya dia menemukan di meja dapur, ini bungkusan apa ya Mas?" tanya Bu Lilis sambil menyodorkan bungkusan itu kearah Pak Dirja suaminya.
Pak Dirja lalu mengambil bungkusan itu dan mengamatinya dengan seksama, keningnya nampak berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Setelah beberapa saat lamanya Pak Dirja mengamat-amati bungkusan itu, tiba-tiba matanya sedikit membulat, saat dia membaca apa yang tertera di balik bungkusan itu.
"Lis, kau tahu tidak ini apa? Ini sejenis racun yang mematikan!" kata Pak Dirja setengah berbisik.
Sontak Bu Lilis terkejut dan langsung membulatkan matanya.
Bersambung ....
****
__ADS_1