
Dinda membereskan beberapa Pakaiannya yang ada di apartemen milik Dio, kemudian dia memasukkannya ke dalam tasnya.
Dinda memutuskan untuk menjauh sejenak dari kehidupan Dio dan Chika. Dinda ingin menenangkan diri, pulang ke kampung halamannya di Bandung, bertemu dengan ibu tercintanya.
Setelah semuanya beres, Dinda kemudian mengambil ponselnya, dia mulai menelepon Pak Roni meminta izin cuti beberapa hari dari sekolah.
"Halo!"
"Selamat sore Pak Roni, saya ingin mengajukan cuti beberapa hari, karena sedang ada urusan di Bandung!" ujar Dinda.
"Maaf Bu Dinda, seharusnya Bu Dinda mengajukan cuti dari jauh-jauh hari! Tidak bisa dadakan begini!" sahut Pak Roni.
"Tapi Pak, saya hanya ingin beberapa hari saja, nanti saya akan minta tolong Bu Dita untuk menghandle kelas satu yang saya pegang, lagi pula Bu Dita jam kosongnya masih banyak!" kata Dinda.
"Ya sudahlah, terserah Bu Dinda saja! Asal jangan lebih dari tiga hari! Bu Dinda boleh mengirimkan pengajuan cuti melalui email ya, nanti saya kirimkan lewat pesan singkat!" sahut Pak Roni.
"Terima kasih Pak Roni! Saya akan segera mengirimkan email untuk pengajuan cuti nya Pak!" ujar Dinda sebelum menutup panggilan teleponnya.
Setelah menelpon Pak Roni, Dinda kemudian bersiap keluar dari apartemen itu, berniat akan menuju ke stasiun.
Baru saja Dinda membuka pintu apartemen itu, Dio sudah berdiri di hadapannya.
"Pak Dio?"
"Dinda, kau mau kemana??" tanya Dio.
"Tolong Pak, biarkan saya pergi, saya butuh ketenangan, please!" ucap Dinda sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Tapi kau mau kemana? Dinda, tolong kau jangan terlalu mendengarkan ucapan Keyla, percayalah itu tidak berarti apapun bagiku!" tukas Dio.
"Ya, mungkin bagi Pak Dio itu tidak berarti, tapi bagi saya itu sangat berarti! Kita belum melangkah, tapi di depan kita sudah terlihat begitu banyak rintangan, saya takut Pak, lebih baik saya mundur, daripada saya maju tapi saya tahu di depan tidak ada harapan!" ungkap Dinda.
"Siapa bilang tidak ada harapan? Kau jangan kembali mematahkan hatiku Dinda, selama ini hatiku tertutup dengan wanita manapun, namun saat aku kembali membuka hatiku, kau malah pergi menjauhiku!" ucap Dio tatapan matanya terlihat begitu sendu.
"Saya mohon pak, berikan saya waktu beberapa hari ini untuk menenangkan diri! please... " mohon Dinda.
"Chika akan mencarimu!"
"Asal Pak Dio selalu ada untuknya, dan tidak lagi pergi ke klub malam, saya rasa Chika akan baik-baik saja!"
"Oke, tapi katakan padaku, kemana kau akan pergi??" tanya Dio.
"Saya akan pulang kampung beberapa hari ini, selama waktu ini, Pak Dio bisa berpikir bagaimana langkah selanjutnya, saya hanya butuh untuk menenangkan diri sejenak!" jawab Dinda.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu!"
"Jangan Pak, saya mohon biarkan saya pergi sendiri, Chika pasti akan mencari Pak Dio, sampaikan salamku untuknya, permisi!"
Dinda dengan cepat melangkahkan kakinya berlari meninggalkan Dio yang masih berdiri terpaku menatap nya.
"Dinda!!"
Dinda terus berjalan cepat tanpa menoleh lagi, meskipun dia sangat jelas mendengar teriakan Dio yang memanggilnya.
Dinda buru-buru masuk ke dalam lift yang sudah terbuka dihadapannya, turun ke bawah kemudian mulai berjalan ke arah jalan raya.
Dinda mengusap air matanya yang sempat jatuh di pipinya.
Sebenarnya hatinya sangat berat untuk meninggalkan Dio begitu saja, Entah mengapa hati Dinda selalu melekat pada Dio dan Chika.
Tapi semakin Dinda tak bisa melepaskannya, Dinda semakin merasa tersiksa, karena Dinda sadar, di depan sana akan banyak rintangan yang menghalangi cintanya terhadap Dio.
****
Malam ini hujan begitu lebat, angin bertiup dengan sangat kencang, disertai dengan suara petir yang menggelegar.
Dio masih duduk terpekur di teras depan rumahnya itu, sambil memandang turunnya hujan yang tercurah dari langit, seolah ingin menumpahkan segala yang ada ada.
Ada rasa rindu yang meliputi ruang hatinya, rasa rindu yang selama ini tidak pernah dia rasakan, bahkan terhadap mendiang istrinya sekalipun.
"Papa!"
Chika tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
Dio menoleh, dan langsung mengangkat Chika dalam pangkuannya, di peluk dan di ciuminya anak semata wayangnya itu.
"Papa lagi sedih ya?" tanya Chika.
"Hmm, menurut Chika bagaimana?"
"Padahal kita baru senang-senang ya Pa, bisa berenang bareng, eh, gara-gara tante kunti jadi ambyar deh!" ungkap Chika.
"Tante kunti??"
"Iya, tante Keyla maksudnya, habis dia kayak kuntilanak sih, suka nakutin orang dan bikin orang takut!" sahut Chika.
Dio tertawa sambil mencium gemas pipi Chika.
__ADS_1
"Chika selalu buat Papa tertawa saja!" ujar Dio sambil terus menciumi wajah putrinya itu.
"Papa jangan cium-cium, geli aku kena jenggotnya Papa! Kalau Bu Dinda sih senang di cium Papa!" cetus Chika sambil menggaruk pipinya yang gatal habis di cium Dio.
"Kok Chika tau kalau Bu Dinda senang?"
"Kan aku pernah ngintip, waktu Papa cium Bu Dinda, Bu Dinda senyum-senyum, itu kan artinya senang!"
"Nakal ya suka ngintip-ngintip! Tar bintitan lho!"
"Kan sedikit doang ngintipnya! Habis itu aku tutup mata deh!" sahut Chika.
"Chika, Papa lagi kangen nih sama Bu Dinda, gimana dong ..."
Dio malah curhat sama Chika, Chika nampak berpikir, seperti orang dewasa yang berpikir, ekspresinya sungguh menggemaskan.
"Telepon?"
"Ponselnya Bu Dinda tidak aktif Chika!"
"Kalau begitu, Papa teriak aja sama air hujan, supaya dia bisa menyampaikan rindu Papa buat Bu Dinda!" usul Chika.
"Hmm, boleh juga!"
"Oke, do it now Papa!"
Dio kemudian berdiri dan berlari ke tengah hujan yang masih lebat itu. Walau sudah dewasa tapi menuruti usul Chika yang terlihat konyol.
"Dinda!! I Miss you so much!!" teriak Dio.
Chika juga berlari ke tengah hujan, mengikuti Papanya itu, mereka berpelukan dan menari di tengah hujan di bawah cahaya lampu taman yang temaram.
Sejenak Dio bisa melupakan perasaan rindu yang melandanya itu.
Tiba-tiba Mbak Yuyun keluar dari dalam rumah, dia tertegun sejenak melihat Dio dan Chika berputar-putar dan menari di tengah hujan lebat di taman depan rumahnya itu.
"Pak Dio! Ada telepon dari Singapura!!" teriak Mbak Yuyun.
Dio dan Chika kemudian menghentikan aktifitas mereka.
Bersambung...
****
__ADS_1