
Dinda sedikit terkesiap melihat Dio yang terlihat posesif terhadapnya, sampai dia memasang aplikasi untuk mengikuti gerak geriknya melalui ponsel.
Padahal mereka belum menikah, Dio sudah bersikap seolah-olah Dinda hanyalah miliknya seorang.
Hal itu membuat Dinda menjadi risih, walau bagaimana pun, dia juga punya privasi.
"Mas Dio, bisa hapus aplikasi itu sekarang dari ponselmu?" tanya Dinda sambil menatap ke arah Dio yang terlihat masih marah itu.
"Tidak! Untuk apa aku hapus aplikasi ini? Supaya kau bisa bebas bertemu dengan siapapun?" sahut Dio.
"Ya Tuhan Mas Dio, masa kau begitu tidak percaya padaku?? Kalau begitu buat apa kita menikah? Kalau hanya hidup untuk di curigai!" cetus Dinda.
Karena kesal Dinda langsung membalikan tubuhnya dan beranjak menuju motornya yang terparkir.
Dio yang mulanya cuek langsung berdiri dan mengejar Dinda.
"Din! Tega amat, baru datang langsung pergi lagi!" seru Dio.
"Biarin!"
Dinda mulai kembali mengenakan helmnya.
Dio kemudian menarik tangan Dinda,
"Din, please ..."
"Lho, Mas Dio bukannya masih marah padaku ya gara-gara aku ngobrol sama Mr. Sam?" tanya Dinda.
"Udahan marahnya!" sahut Dio.
"Terus? Masih mau pakai aplikasi itu? Supaya puas memata-matai aku??"
Dio terdiam, sesungguhnya dia tidak benar-benar marah, dia hanya cemburu.
"Kenapa diam? Belum apa-apa kau sudah mengekangku! Lepaskan tanganmu! Aku mau pulang!" lanjut Dinda yang berusaha menarik tangannya dari genggaman Dio.
"Bu Dinda!"
Tiba-tiba Chika muncul dan memanggil Dinda.
"Kenapa mau pergi lagi? Baru juga Bu Dinda datang!" tanya Chika.
"Tuh, benar kata Chika, baru juga datang masa mau pergi, memangnya tidak kangen sama kita?" lanjut Dio.
__ADS_1
"Pokoknya Bu Dinda di sini saja, tidak boleh pergi!" cetus Chika.
Dinda jadi dilema, anak dan Bapak ini memang selalu membuatnya tak berkutik.
"Ayo Bu Dinda, temani Papa makan, dia belum makan lho dari siang, nanti pingsan lho!" kata Chika.
"Tuh dengar!" celetuk Dio.
Dinda tak bisa berkata apapun selain melepas helmnya kembali.
Dengan riang dan penuh semangat, Chika menarik tangan Dinda kembali masuk ke dalam rumahnya.
Mbak Yuyun nampak sedang menata meja makan, aroma masakan tercium nikmat di penciuman mereka.
"Ayo ayo, makanan sudah siap nih, sayang lho, Mbak Yuyun masak banyak hari ini!" kata Mbak Yuyun.
Mereka kemudian duduk mengelilingi meja makan besar itu.
Dengan cepat Dio mengambilkan piring makan untuk Dinda lalu menuangkan makanan yang ada di meja makan itu ke atas piring Dinda.
Dinda menyipitkan matanya, padahal Dio baru marah gara-gara Mr. Sam yang mengobrol dengan Dinda, tapi kini perlakuannya berubah drastis.
"Papa, aku juga di ambilkan dong, masa Bu Dinda doang!" celetuk Chika.
Mereka kemudian mulai menikmati santap sore bersama.
Tiba-tiba Dio mengeluarkan ponselnya, seperti hendak menelepon seseorang.
Setelah menelepon, Dio menoleh ke arah Dinda yang masih asyik menyantap makanannya.
"Sayang, sore ini kita ke butik ya, sudah ada gaun terbaru yang di siapkan untukmu!" kata Dio.
"Gaun?"
"Ya, gaun pengantin!" sahut Dio.
"Yeeeaaaay!! Bu Dinda mau jadi pengantin! Pasti cantik nih, nanti aku jadi pengiringnya ya!" seru Chika bersemangat.
Dinda diam saja tanpa komentar, ternyata Dio sudah mempersiapkan sampai se detail itu.
"Nanti kau pilih gaun mana yang kau suka sayang, semuanya limited edition!" lanjut Dio.
"Hmm, boleh saja, tapi aplikasinya di hapus dulu ya Mas!" kata Dinda.
__ADS_1
"Lho kok jadi aplikasi lagi ngomongnya?!"
"Pokoknya hapus, atau aku tidak mau ikut denganmu ke butik!" ancam Dinda.
"Oke, oke, aku hapus ya, nih lihat aku sudah hapus aplikasinya!" sahut Dio yang langsung menunjukan ponselnya yang sedang menghapus aplikasi pelacak ponsel itu.
****
Sementara itu, Di tempat kediaman Pak Dirja, Ken nampak duduk sehabis mengantarkan Keyla pulang ke rumahnya.
Wanita itu terlihat sangat depresi, ada raut kekecewaan dan keputusan apaan yang terpancar dari wajahnya.
Pak Dirja nampak duduk sedih di ruang tamu itu, sejak pulang ke rumah, Keyla hanya diam saja, tanpa bicara sepatah katapun.
"Ken, apa yang harus Om lakukan supaya bisa membuat Keyla kembali bersemangat?" tanya Pak Dirja frustasi.
"Aku tidak tau Om, tapi aku punya kenalan, dia seorang psikiater yang bekerja di rumah sakit sepupuku, Bang Dicky, coba saja Keyla di bawa ke sana, supaya Keyla kembali semangat untuk hidup!" jawab Ken.
"Psikiater?"
"Iya Om, apa yang di alami Mbak Keyla, berhubungan dengan kejiwaannya, siapa tau Mbak Keyla bisa berubah!" sahut Ken.
"Ken, bisa mengantar Om dan Keyla ke sana?" tanya Pak Dirja.
"Tentu saja Om, aku juga ingin sekali melihat Mbak Keyla seperti dulu, penuh semangat dan antusias!" sahut Ken.
"Kita jalan sekarang bagaimana Ken?"
"Oke, tidak masalah, ayo Om!" Ken segera beranjak dari tempatnya.
Sementara Pak Dirja mulai membimbing Keyla dan menuntunnya berjalan ke arah mobilnya yang di parkir di depan.
Keyla nampak menuruti saja, namun pandangan matanya terlihat begitu kosong dan hampa.
"Itu mobilnya kenapa Om? Kok lecet ya, seperti habis di tabrak orang!" tanya Ken.
"Iya Ken, tadi ada seorang wanita muda yang menabrak mobil ini dari belakang, tapi Om tau dia tidak sengaja! Sudahlah, ayo kita berangkat!" ajak Pak dirja yang langsung naik ke dalam mobilnya.
Sementara Ken membantu Keyla untuk naik ke dalam mobil, setelah itu dia juga menyusulnya.
Bersambung ...
*****
__ADS_1