
Sang Dokter wanita itu tersenyum saat melihat ke arah layar USG.
"Wah, ini ada kantong kehamilan, jadi Bu Dinda benar-benar hamil, selamat ya Bu, Pak!" ucap Dokter itu.
Dio dan Dinda terkesiap mendengar ucapan Dokter, mereka tersenyum dan saling berpandangan.
"Benarkah Dok? Saya beneran hamil??" tanya Dinda dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Bu, ini Ibu beneran hamil, ini ada kantong kehamilan, dan ada titik hitam, itu adalah janin, dan janin ini akan terus berkembang menjadi bayi!" jawab Dokter.
Ada rasa bahagia yang membuncah di atas diri Dio dan Dinda, setelah mereka mengetahui kalau Dinda benar-benar hamil, ini merupakan satu kabar yang sangat membahagiakan bagi mereka berdua.
Setelah sekian lamanya mereka menantikan sang buah hati hadir dalam hidup mereka, kini harapan mereka menjadi kenyataan, Dinda sungguh-sungguh hamil benih dari Dio, buah dari cinta kasih mereka yang tulus dan murni.
"Untuk di awal kehamilan, janin masih sangat kecil, jadi butuh perhatian ekstra dan sangat rentan sekali dengan risiko, sebaiknya kurangi kegiatan yang berat dan banyak banyaklah membaca artikel mengenai seputar kehamilan!" jelas Dokter itu membuyarkan Lamunan Dio dan Dinda.
"Baik dokter, Terima kasih, kami sangat bahagia atas kehamilan istri saya ini, semoga semuanya diberikan kelancaran sampai menjelang kelahiran!" ucap Dio.
Kemudian setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan, Mereka pun segera melangkah keluar dari rumah sakit menuju ke parkiran, dimana mobil mereka terparkir.
Dinda yang tak dapat menyembunyikan senyuman kebahagiaannya, akhirnya dia bisa juga memberikan Dio seorang bayi mungil yang diimpikan yang selama ini.
"Pokoknya mulai sekarang, kau jangan lagi mengajar di sekolah, fokus aja pada bayi kita, kalau butuh apa-apa Kamu bisa minta tolong pada Mbak Yuyun, ataupun suster Anna, Aku tidak mau kamu capek!" ucap Dio saat perjalanan pulang ke rumah mereka.
"Iya Mas, besok aku akan mengajukan surat pengunduran diri, supaya resmi, aku tidak enak juga lama vakum dari sekolah!" jawab Dinda.
"Iya sayang, besok aku akan mengantarmu!" sahut Dio.
Sebelum mereka sampai di rumah Mereka, Dio menyempatkan mampir ke sebuah minimarket di pinggir jalan itu, untuk membeli keperluan Dinda seperti buah-buahan juga susu kehamilan.
Setelah semua kebutuhan dibeli, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah mereka.
__ADS_1
Seperti biasa, Mbak Yuyun tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka, dan membantu dia membawakan belanjaan yang lumayan banyak itu.
"Wah belanjaannya banyak sekali Pak, lho kok ini banyak sekali susu hamil? Siapa yang hamil Pak?" tanya Mbak Yuyun bingung.
"Siapa lagi? Memangnya kau pikir di sini ada orang lain lagi? Yang hamil ya istriku lah!" sahut Dio dengan pedenya.
"Apa? Bu Dinda hamil Pak??" tanya Mbak Yuyun tambah bingung.
"Kenapa? Tidak percaya?"
"Percaya kok Pak! Selamat ya bu Dinda, akhirnya di rumah ini akan ada bayi, Pasti sangat ramai dan seru sekali, dan mampu kita pasti senang sekali!" sahut Mbak Yuyun yang masuk sambil membawa beberapa belanjaan itu.
Suster Anna nampak baru selesai membantu Mbak Yuyun menyetrika baju di ruang laundry.
"Suster, ini tolong susun di lemari dapur atas, susu hamil punya Bu Dinda!" kata Mbak Yuyun.
"Bu Dinda hamil??" tanya Suster Anna sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, kenapa kamu heran begitu? Wajar kan Bu Dinda hamil, kan ada suaminya, kalau kamu yang hamil aku batu heran!" celetuk Mbak Yuyun.
*****
Malam ini dalam rangka merayakan kegembiraan hatinya karena Dinda telah hamil, Dio memesan makanan mewah di restoran bintang 5 dan dikirim ke rumahnya.
Jadi malam ini semua penghuni rumah makan enak di rumah Dio. Dio juga mengundang Pak Dirja, Bu Lilis, Keyla juga Ken, sehingga akan ada jamuan kecil-kecilan malam ini di rumah Dio.
Wajah Pak Dirja dan Bu Lilis yang baru datang saat itu juga terlihat sangat gembira, akhirnya mereka akan mempunyai calon cucu dari Dinda dan Dio.
Ken dan Keyla juga datang ke rumah Dio, mereka memenuhi undangan Dio untuk makan malam bersama di rumahnya.
Aneka hidangan yang lezat lezat sudah tersaji diatas meja makan besar itu, hidangan itu berasal dari salah satu hotel bintang lima yang mewah yang makanannya paling enak di Jakarta.
__ADS_1
Mbak Yuyun dan Suster Anna juga sibuk menata meja makan dibantu oleh Bu Lilis.
"Dio, Apakah kau sudah memberitahu kabar bahagia ini pada kedua orang tuamu?" tanya Pak Dirja.
"Belum Ayah, nanti setelah ini aku pasti akan telepon mereka, mereka pasti akan sangat senang sekali!" jawab Dio.
Mereka semua Kemudian mulai menikmati santap malam bersama, Keyla terlihat sangat antusias makan, tak henti-hentinya dia makan berkali-kali, seolah-olah dia merasa sangat lapar.
"Sayang, jangan banyak-banyak makannya, malu!" kata Ken sambil menyenggol pinggang Keyla.
"Apaan sih, aku makan banyak juga tidak sendirian kali, nih anakmu makannya banyak, bawaannya laper terus!" cetus Keyla sambil melanjutkan makannya.
"Timbangan sudah naik 15 kilo, hati-hati dong sayang!" tukas Ken.
"Iya iya, bawel!" sungut Keyla.
Sementara Pak Dirja nampak menyuapi Bu Lilis dengan mesra, Bu Lilis juga nampak terlihat malu-malu di suapi oleh Pak Dirja.
Dio dan Dinda hanya senyum-senyum melihat tingkah orang tua mereka yang bak anak Abg itu.
"Idiiih! Nenek dan Kakek pacaran!" celetuk Chika
"Hush Chika, tidak boleh bicara seperti itu!" sergah Dinda.
"Maaf!"
Kembali Chika melanjutkan makannya, namun pada saat Chika menoleh ke arah taman samping, dengan pintu yang terbuka lebar dari arah ruang makan, matanya kembali membulat.
"Mama!!" pekik Chika.
Semua orang yang ada di ruangan itu sontak menoleh ke arah taman samping.
__ADS_1
Bersambung....
****