
Pagi ini Keyla nampak menyusui bayinya yang baru dilahirkan itu. Seorang bayi perempuan yang lucu dan mungil.
Sementara Ken nampak tertidur kelelahan di sofa, yang ada di ruangan perawatan itu, menunggu istri melahirkan membuat Ken juga terlihat sangat lelah.
"Bayinya cantik sekali, sama seperti mamanya!" ucap Bu Lilis.
"Terima kasih Bu!" kata Keyla
"Tadi Dinda telepon, Katanya sebentar lagi dia dan suaminya akan sampai disini, dia sangat ingin melihat bayimu!" kata Bu Lilis.
"Iya Bu, Dinda bisa belajar dari pengalaman aku kemarin!" ucap Keyla.
Selesai menyusui bayinya itu, kemudian Keyla kembali beristirahat, sementara Bu Lilis menggendong bayinya Keyla.
Pak Dirja yang sedang duduk di sofa kemudian menghampiri Bu Lilis yang sedang menggendong bayinya Keyla itu.
"Wah cucuku cantik sekali! Tapi kalian belum memberinya nama?" tanya Pak Dirja.
"Nanti tunggu Ken bangun Ayah, biar dia yang memberi nama pada bayinya itu, karena dia sangat ingin memberi nama pada bayi kami!" sahut Keyla.
"Keyla, Kalian kan sudah jadi orang tua, Ken itu meskipun usianya masih muda bahkan lebih muda darimu, alangkah baiknya kau jangan memanggilnya nama saja, kamu bisa belajar menghormati suamimu dengan panggilan yang lain misalnya papa Ken atau Siapa lah terserah, asal jangan panggil nama, tidak enak kalau anakmu nanti mendengarnya!" ucap pak Dirja.
"Iya Ayah!" sahut Keyla singkat.
Bayi mungil itu nampak tertidur dalam pangkuan Bu Lilis, kemudian perlahan Bu Lilis meletakkan bayi itu di kotak kaca yang ada disebelah Keyla supaya lebih nyaman.
"Keyla, Ayah mau ke kantin dulu ya, mau membeli makanan untukmu juga Ken, Kalian pasti sangat lapar kan!" kata Pak Dirja.
Keyla menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Setelah itu Pak Dirja langsung menuntun tangan Bu Lilis keluar dari ruangan itu, menuju ke kantin rumah sakit, karena mereka hendak membeli beberapa bungkus makanan.
__ADS_1
Ken yang sejak tadi tertidur di sofa ruangan itu, kemudian perlahan mulai kembali terbangun, setelah dia terbangun dia langsung berjalan mendekati Keyla dan duduk di sisi tempat tidurnya, sambil memandangi bayinya yang kini ada di dalam box kaca itu.
"Lucu sekali bayi ini, dia begitu mungil bersih dan polos, tidak seperti papanya yang banyak sekali menyimpan dosa di masa lalunya!" guman Ken.
"Tidak penting masa lalu seperti apa, yang penting adalah masa depan!" ucap Keyla.
"Sayang, sekarang bayi kita sudah lahir, Apakah kau masih tetap menggugat surat perjanjian kita, setelah bayi ini lahir kita akan berpisah?" tanya Ken sambil menatap wajah Keyla itu.
"Tidak! Aku tidak ingin Bayiku ini memiliki keluarga yang tidak lengkap, hanya karena keegoisan orang ketuanya! Aku membatalkan surat perjanjian itu!" jawab keyla.
"Benarkah? Benarkah kau tidak jadi berpisah denganku seperti apa yang kita sepakati dulu?" tanya Ken dengan mata berbinar.
"Memangnya kau tidak dengar? Aku bilang tidak ya tidak, Kamu ini bagaimana sih Pap?" sungut keyla.
"Pap??"
Ken kemudian memeluk Keyla dengan erat, rasanya dia begitu terharu sekali melihat perubahan sikap istrinya.
Keyla tidak lagi seegois dan sejutek dulu, Apalagi setelah melahirkan, Keyla terlihat semakin dewasa dan menjadi keibuan.
*****
Siang ini di jam besuk, kamar perawatan Keyla terlihat agak ramai, Dinda dan Dio sudah datang bersama dengan Chika juga Bu Lian dan Pak Frans.
Mereka menjenguk bayi mungil Keyla yang baru lahir itu. Pak Dirja dan Bu Lilis juga kelihatan begitu gembira, karena mereka kini memiliki cucu mungil yang dinantikan, dan sebentar lagi mereka juga akan mendapatkan cucu dari Dinda dan Dio.
"Ayolah Ken, Siapa nama bayi mu itu, supaya kami semua bisa tahu dan kamu harus segera mengumumkannya, jangan dipendam saja!" tanya Pak Dirja.
"Aku memberi nama bayi ku ini Kirana, yang diambil dari bahasa Jepang Kirei Yang artinya wanita yang cantik, Aku ingin dia selalu menjadi putri kami yang cantik, yang terus memancarkan sinarnya pada setiap orang yang melihatnya!" jawab Ken.
__ADS_1
"Wah, Kirana, namanya cantik sekali!" kata Dinda Sambil mencoba menggendong Kirana yang saat itu sedang digendong oleh Bu Lilis.
"Sayang, kalau kamu mau latihan menggendong bayi, aku izin kan kamu sering main ke rumah Ayah Dirja, jadi setelah bayi kita lahir nanti, kamu akan terbiasa menggendong bayi!" ucap Dio.
"Iya Mas!" sahut Dinda.
Dinda kemudian meletakkan bayi itu di pangkuan Keyla, karena sepertinya bayi itu menangis dan sangat ingin menyusu pada ibunya.
Setelah itu mereka berjalan ke arah sofa yang ada di sudut ruangan itu, untuk duduk dan mengobrol, sementara Keyla di temani oleh bu Lilis dan bu Lian menyusui bayinya.
Dinda duduk di sofa sambil mengelus perutnya yang kini terlihat membuncit, beberapa bulan lagi dia juga akan segera menyusul kakaknya itu melahirkan.
Dan dia tidak sabar rasanya, ingin menjadi seorang ibu yang seutuhnya.
"Dinda, calon bayimu nanti laki-laki kan, Ayah senang kini punya sepasang cucu!" kata Pak Dirja.
"Iya Ayah, kata Dokter saat usg, bayi kami 99 persen laki-laki!" jawab Dinda.
"Akhirnya Chika punya adik juga, sekarang, dia hampir tiap hari selalu menanyakan kapan adiknya akan lahir!" timpal Pak Frans.
Chika yang ikut dengan mereka nampak sedang memandangi bayi mungil Keyla yang ada di box kaca itu, dia kelihatan senang sekali melihat bayi Kirana itu.
"Dedek bayi, sebentar lagi aku juga akan punya dedek bayi, kita main sama-sama nanti ya, tapi tunggu dedek ganteng aku lahir dulu!" kata Chika.
"Chika, sini sayang, jangan terlalu dekat dan pegang-pegang dedek Kirana seperti itu, kasihan dia masih kecil!" kata Dinda yang melangkah mendekati Chika yang masih terlihat asyik memandangi dan bermain dengan bayi Kirana.
Bersambung ...
****
__ADS_1