Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Kedatangan Pak Frans


__ADS_3

Pagi-pagi Dinda mengerjapkan matanya, rupanya dia tertidur di samping Dio dengan posisi duduk, dengan tangan yang masih berada dalam genggaman tangan Dio.


Sementara Keyla masih nampak tertidur di sofa pojok ruangan itu.


Perlahan Dinda menarik tangannya, Dio lalu membuka matanya saat ada gerakan pada tangannya itu.


"Mau kemana? Jangan tinggalkan aku!" lirih Dio.


"Aku harus kembali Mas, mau siap-siap mengajar di sekolah!" jawab Dinda.


"Kau tega meninggalkan aku? Aku sedang butuh kamu lho saat ini!" ucap Dio.


"Mas...aku harus pergi, kau tau sudah beberapa hari aku cuti dari sekolah, murid-murid ku sangat membutuhkan aku Mas!" sergah Dinda.


"Aku juga sangat membutuhkanmu Din!" balas Dio.


"Tapi ..."


"Biarkan saja Dinda pergi Dio, kan ada aku, lagi pula aku selalu punya waktu untukmu!" ujar Keyla yang tiba-tiba bangun itu.


"Sorry Key, tapi Dinda yang aku butuhkan!" sahut Dio.


Ceklek!


Pintu ruangan perawatan Dio di buka dari luar, Pak Frans dan seorang perawat masuk ke ruangan itu.


Dinda langsung menarik tangannya dan jaga jarak dengan Dio.


"Dio! Kenapa kau bisa seperti ini?? Chika! Cucu Opa kenapa bisa seperti ini, ayo katakan pada ayah!" seru Pak Frans sambil memeluk Chika dan duduk di sebelahnya.


"Ini hanya kecelakaan ayah! Ayah jangan terlalu khawatir, walaupun seluruh tubuhku sakit, tapi saat ini aku masih selamat!" sahut Dio.


"Jam 3 subuh Pak Dirja tiba-tiba menelpon ayah, mengabarkan bahwa kau dan Chika kecelakaan, ayah langsung memesan tiket paling pagi!" kata Pak Frans.


"Bunda tidak ikut?" tanya Dio.


"Sengaja Ayah tidak memberitahu Bundamu, takut dia akan menjadi shock dan malah bahaya!" sahut Pak Frans.


Pak Frans lalu menoleh kearah Keyla yang masih duduk di sofa.


"Keyla, Terima kasih ya kau sudah menolong Dio, kata Pak Dirja, sejak masuk rumah sakit kau selalu menungguinya dan menemaninya!" ucap Frans.


"Sama-sama Om, saya senang Kok bisa membantu dan menjaga Dio di sini!" kata Keyla.


Dinda yang merasa tidak enak lalu langsung menyambar tasnya hendak pergi untuk pulang dan bersiap mengajar ke sekolah.


"Dinda, kau mau kemana?" tanya Pak Frans yang langsung menoleh ke arah Dinda.

__ADS_1


"Mau pulang Om, persiapan mengajar di sekolah!" sahut Dinda.


"Lho, katanya calon istri, masa calon suaminya sakit malah di tinggal begitu saja, kau di sini saja temani Dio, sekolah kan punya guru cadangan!" ujar Pak Frans.


Dinda tertegun mendengar ucapan Pak Frans, dia tidak menyangka kalau sikap Pak Frans akan begitu hangat padanya.


"Tuh kan Din, dengar sendiri apa kata Ayah!" ujar Dio.


"Tapi ..."


"Sudah, kau di sini temani Dio, hari ini Aku mau membawa pulang cucuku, Keyla, kau ikut Om pulang ya, kau kan juga butuh istirahat!" kata Pak Frans.


"Tapi Om, aku kan banyak waktu Om, dan aku juga tidak merasa lelah kok, Dinda saja tuh yang pulang, dia kan punya kewajiban!" cetus Keyla.


"Iya Om tahu, tapi kau pulang dulu, kan kau juga bisa ke sini lagi nanti bersama dengan ayahmu! kasihan Ayah mu sendirian key!" ujar Pak Frans.


Keyla tidak menjawab lagi, mau tidak mau dia memang harus menuruti keinginan Pak Frans.


Akhirnya dengan ijin Dokter, Pak Frans membawa Chika pulang ke rumahnya, karena Chika sudah diizinkan pulang, sebab lukanya tidak parah masih bisa di rawat di rumah.


Kini di ruangan itu hanya tinggal Dio dan Dinda, Dinda sudah pasrah karena hari ini lagi-lagi dia tidak mengajar di sekolah, namun sebenarnya dalam hatinya dia sangat gelisah, dia tidak enak pada Pak Roni juga rekan-rekan guru yang lain.


Ceklek!


Seorang suster masuk ke dalam ruangan itu untuk mengantarkan makanan untuk Dio.


Setelah meletakkan nampan makanan Itu diatas nakas, Suster itu pun Kembali keluar dari ruangan itu.


"Din, itu sudah ada makanan lho di atas meja, tidak ada inisiatif untuk menyuapiku apa?" tanya Dio.


"Mas Dio sudah lapar?"


"Eh, pakai tanya lagi, ya iyalah, dari tadi aku tungguin kamu suapin aku, Aku tidak sabar ingin merasakan disuapin sama calon istri!" ucap Dio.


Akhirnya Dinda mengambil makanan yang ada di nampan itu, dan kemudian mulai menyuapi Dio.


Dio terlihat sangat menikmati disuapi oleh Dinda, satu mangkok bubur itu langsung habis seketika.


"Terima kasih ya Sayang, nanti setelah aku benar-benar sembuh, aku pasti akan datang melamarmu, aku tidak mau menunda lagi, aku sudah tidak taham!" Kata Dio.


"Tidak tahan apa??"


"Tidak tahan melepas masa duda ku, dan menjadikanmu permaisuri di rumahku!"


"Gombal!"


"Tapi suka kan? Tuh kelihatan mukanya merah, ngaku saja jangan malu!"

__ADS_1


Plak!


Dinda menepuk paha Dio, Dio meringis menahan sakit.


"Aaww! Sakit sayang, kau tidak tau kakiku ini masih di perban!" seru Dio dengan wajah meringis menahan sakit.


"Ups, maaf Mas, kelepasan, habis Mas Dio bercanda terus sih!" ucap Dinda sambil mengelus paha Dio.


"Siapa yang bercanda, kamu di rayu begitu saja langsung salah tingkah!" sahut Dio.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt


Tiba-tiba ponsel Dinda bergetar, Dinda langsung mengambil ponselnya yang sejak tadi ada di dalam tasnya itu.


Rupanya Pak Roni yang menelepon, Dinda jadi sedikit berdebar, takut Pak Roni akan marah dan mengamuk padanya, karena hari ini dia absen dari sekolah.


"Halo, Selamat Pagi!"


"Halo Bu Dinda, kau tau ini hari apa? Seharusnya ini adalah jadwal kau masuk ke sekolah, kenapa kau tidak datang?" tanya Pak Roni.


"Maaf Pak, saya ... saya ..."


Tiba-tiba Dio langsung mengambil ponsel Dinda.


"Halo Pak Roni, ini saya Dio, Saya baru saja mengalami kecelakaan, bersama dengan Chika, dan saat ini Dinda calon istri saya, sedang merawat saya, tolong perpanjang cutinya!" kata Dio.


"Ba-baik Pak Dio, tenang saja, banyak guru pengganti kok di sekolah!" jawab Pak Roni.


Dio kemudian mematikan panggilan teleponnya.


"Mas Dio apa-apaan sih? Bikin malu saja!" salat Dinda.


"Malu apa seneng? Kapan lagi bisa dekat-dekat balon suami, hitung-hitung latihan jadi ibu rumah tangga!" goda Dio.


"Badan di perban kayak mumi, masih saja pintar bicara!"


"Yang sakit kan badannya, bukan mulutnya!" sahut Dio.


"Ngomong-ngomong kok Pak Roni langsung berubah gitu sih? Padahal waktu ngomong sama aku, dia galak banget!" tanya Dinda.


"Memangnya kau tidak tau? Kalau calon suamimu ini adalah donatur terbesar di sekolah itu, jadi apa sih keinginanku yang tidak mereka turuti?" jawab Dio.


Dinda menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan memahami, pantas saja selama ini, saat Chika berulah, sekolah seolah mentoleransi, ternyata Dio adalah orang yang sangat berpengaruh di sekolah itu.


Bersambung...


****

__ADS_1


__ADS_2