
Hari sudah menjelang sore, Dinda masih di sini, terbaring di rumah sakit untuk menantikan kelahiran Sang Buah Hati.
Kini Dinda mulai di pasang induksi, karena pembukaan yang lambat, di tambah dengan air ketuban yang sudah pecah dan terus keluar.
Dio masih duduk di samping Dinda, menemani setiap kesakitannya, sambil terkadang menangis karena tidak tega melihat perjuangan istrinya itu.
Saat ini Dinda baru masuk pembukaan empat, perutnya sudah terasa sakit luar biasa.
"Sayang, kalau kau sakit, teriak saja tidak apa-apa, atau gigit saja tanganku, pukul tubuhku, kau juga boleh menjambak rambutku!" kata Dio.
"Tidak Mas, aku hanya ... hanya ... aduh, butuh Mas Dio di sini!" sahut Dinda sambil meringis menahan sakit.
Dio terus berusaha mengusap dahi Dinda dan menyeka keringat yang membasahi wajahnya.
Rasanya dia begitu khawatir melihat kondisi istrinya seperti itu, selama ini dia tidak pernah melihat ada wajah yang menahan sakit yang kini mulai memucat.
Meskipun Dinda tidak berteriak dan menjerit, seperti Keyla dulu, namun Dinda berusaha untuk menahan rasa sakit itu dengan menggigit bibirnya, tidak ingin orang-orang menghawatirkan kondisinya.
Seorang dokter dan Seorang perawat kemudian masuk ke ruangan itu untuk kembali memeriksakan keadaan Dinda.
Pembukaan sudah sudah hampir sempurna, tapi kenapa belum ada tanda-tanda kalau kepala bayinya keluar, biasanya sudah kelihatan kepalanya.
Dokter kemudian mulai kembali memeriksa dan memantau melalui alat USG dan detak jantung.
"Sus, sepertinya harus segera di lakukan bedah Caesar, panggulnya beneran tidak bisa di lalui bayi, walau sudah di lakukan induksi, bayinya memang sulit untuk keluar!" jelas Dokter.
"Baik Dokter!"
__ADS_1
Suster kemudian langsung mempersiapkan segala sesuatunya, dan Dinda pun segera di pindahkan ke ruang operasi.
Dio hanya bisa pasrah, dia menerima tindakan apapun yang di berikan Dokter, asalkan istri dan anaknya sehat dan selamat.
"Dio, Dinda di operasi?? Kenapa Kenapa dia tidak bisa melahirkan normal seperti wanita-wanita pada umumnya?" tanya Bu Lian pada saat Dio keluar dari ruangan dan berjalan mengikuti Dinda ke ruang operasi.
"Tidak bisa Bunda, mungkin bayinya Dinda terlalu besar, sehingga sulit untuk melalui panggulnya yang sempit, apapun itu, yang penting Ibu dan bayinya selamat, tidak peduli mau normal ataupun caesar!" sahut Dio sambil terus berjalan menuju ke ruang operasi.
"Kalau begitu, kamu tidak akan bisa punya anak lagi dalam waktu dekat dengan Dinda! Orang yang melahirkan operasi itu kan butuh waktu untuk pemulihan, lebih lama dari pada normal!" lanjut Bu Lian yang berjalan di samping Dio diikuti oleh Pak Frans dibelakangnya.
"Sudahlah Bunda! Jangan meributkan hal itu, saat ini kita berdoa saja supaya Dinda bisa melahirkan dengan selamat, apapun caranya!" sergah Pak Frans.
Dinda sudah masuk kedalam ruang operasi dan lampu ruang operasi pun sudah menyala, menandakan kalau Dinda sedang dalam tindakan operasi sesar saat itu.
Dio dan Pak Frans juga Bu Lian menunggu di depan ruang operasi dengan gelisah.
"Bagaimana Dinda? Kenapa dia bisa di operasi mendadak? Bukannya hpl nya masih dua minggu lagi?" tanya Bu Lilis cemas.
"Iya Bu, air ketuban Dinda sudah pecah, jadi ya bayinya memang harus segera dilahirkan!" jawab Dio.
"Panggulnya juga sempit, jadi bayinya tidak bisa keluar dengan normal!" lanjut Bu Lian.
"Dio, sebaiknya kau beristirahat dulu, Tenangkan pikiranmu, dan percayakan saja kepada dokter! karena sudah sejak pagi-pagi kamu kan capek mengurusi Dinda terus!" kata Pak Dirja.
"Iya Ayah, tapi aku merasa tidak lelah, aku mau menunggu sampai Bayiku lahir saja! setelah itu aku baru merasa tenang!" sahut Dio.
Mereka semua yang ada di depan ruang operasi menunggu dengan gelisah, karena sudah 1 jam berlalu, namun operasinya belum selesai, padahal operasi caesar itu hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 jam saja.
__ADS_1
Tak lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara tangisan bayi dari arah ruang operasi, Dio dan kedua orang tuanya serta kedua orang mertuanya saling berpandangan, ada rasa haru dan bahagia yang menyelimuti hati mereka.
Dan tak lama kemudian, seorang dokter dan seorang suster keluar dari ruangan operasi itu, kemudian ruangan operasi itu pun lampunya padam, menandakan kalau operasi sudah selesai.
Dia kemudian langsung berjalan cepat menghampiri dokter yang masih mengenakan pakaian hijau.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya? Apakah mereka dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Dio.
"Selamat ya Pak Dio, bayi anda laki-laki, telah lahir dengan sehat dan sempurna, dia begitu tampan mirip seperti anda!" jawab sang dokter itu.
"Wah syukurlah dokter, Saya tidak sabar ingin melihat bayi saya, Bisakah saya masuk ke dalam?" tanya Dio.
"Silakan Pak Dio, anda sudah bisa menemui istri dan bayi anda, sekarang bayi anda sedang inisiasi menyusui dini bersama dengan suster!" jawab sang dokter itu.
Dengan penuh semangat, Dio masuk ke dalam ruangan itu, Dinda masih nampak berbaring di tempat tidur pasien, masih dalam pengaruh obat bius namun dia berusaha untuk mencoba menyusui bayi yang baru lahir itu, dibantu oleh beberapa orang suster.
Dio kemudian langsung memeluk kepala Dinda dan menciuminya dengan lembut, sambil mengusap kepala bayi yang kini berada di dada Dinda.
"Terima kasih karena kau sudah memberikan aku pangeran yang tampan ini, sebuah dari cinta kita, cinta yang sesungguhnya!"ucap Dio setengah berbisik.
Ada rasa haru yang dia rasakan saat melihat buah hati yang dinantikannya kini sudah ada dia depan matanya, begitu tampan sehat dan sempurna.
Dinda tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengalirkan air matanya dengan penuh rasa haru, akhirnya dia bisa melahirkan bayinya ke dunia ini, walaupun melalui operasi caesar, apapun jalan yang ditempuhnya, Dinda belajar untuk bersyukur.
Bersambung....
****
__ADS_1