Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Harapan Dinda


__ADS_3

Dio membaringkan Dinda di tempat tidurnya, setelah selesai dari rumah sakit.


Setelah menyelimutinya, Dio kemudian menaruh obat-obatan Dinda di laci samping tempat tidurnya itu.


Setelah itu dia mulai ikut berbaring di samping Dinda.


"Mas ..."


"Ya sayang?"


"Kamu pasti capek ya ngurusin aku!" ucap Dinda.


"Siapa bilang? Aku senang kok melakukannya!" sahut Dio.


"Kamu menikah bukan mendapat kepuasan, malah harus mengurus orang sakit, maafkan aku ya Mas!"


"Ssst, kamu ini bicara apa sih? Siapa bilang kamu sakit? Kamu sehat, pikiran harus positif, Oke sayang?" ucap Dio sambil mengelus rambut Dinda.


"Tapi tetap saja Mas, aku merasa gagal menjadi istri yang bisa membahagiakanmu, menjadi Ibu juga belum berhasil!" ungkap Dinda dengan air mata yang mulai mengambang di pelupuk matanya.


"Sudahlah sayang, lebih baik sekarang kamu istirahat dulu ya, besok aku akan panggil suster untuk membantu merawatmu, terutama saat aku sedang ke kantor, saat aku tidak di rumah!" kata Dio.


"Suster?"


"Ya, Mbak Yuyun kan sudah ada tugas memasak dan mengurus Chika, aku ingin suster khusus yang mengurusmu, kalau aku di rumah, aku yang akan merawatmu!" ucap Dio.


"Kenapa begitu merepotkan? apakah aku sakit separah itu sampai harus seperti orang jompo yang tidak berdaya?" tanya Dinda.


"Bukan begitu maksudku, aku tidak mau kalau kejadian yang kemarin itu ..."


"Sudah cukup Mas, aku mengerti maksudmu, sekarang aku mau istirahat!" Dinda kemudian membalikan tubuhnya membelakangi Dio sambil memeluk gulingnya.


"Sayang, maafkan kalau ucapanku menyinggung perasaanmu, aku hanya ingin memberikan yang terbaik padamu, hanya itu!" ucap Dio.


"Sudahlah Mas, terserah apa yang ingin kamu lakukan!"


"Dinda ..."


"Aku mau tidur Mas!" potong Dinda cepat.


"Baiklah, tidurlah sayang ..." Ucap Dio yang kemudian mengecup punggung Dinda dari belakang.


Dio menarik nafas panjang, dia hanya ingin memberikan Dinda fasilitas yang terbaik, namun Dio tidak menyangka kalau respon Dinda jadi seperti ini, Dinda jadi merasa seolah-olah Dia adalah seorang Pesakitan yang butuh di kasihani.


Tok ... Tok ... Tok


Tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari luar, Dio langsung melompat dari tempat tidur, takut Dinda akan terganggu.


Dio langsung membuka pintu kamarnya itu, Chika nampak sudah berdiri di depan pintu kamar.


"Chika? Ada apa Nak?" tanya Dio.


"Papa di panggil kakek Dirja!" jawab Chika.


"Oya? Sebentar ya, Chika duluan saja, nanti Papa susul!"

__ADS_1


"Mama mana?" tanya Chika.


"Mama lagi istirahat sayang, jangan di ganggu dulu ya!" sahut Dio.


Chika mengangguk sambil berjalan mendahului Dio meninggalkan tempat itu.


Dio masuk sebentar, dilihatnya Dinda sudah tertidur memejamkan matanya.


setelah itu Dio menutup pintunya dan keluar dari kamarnya menuju ke bawah.


Pak Dirja dan Bu Lilis nampak sedang duduk berbincang di ruang keluarga.


Dio langsung duduk bergabung dengan mereka.


"Bagaiamana Dinda?" tanya Bu Lilis.


"Dinda baru tidur istirahat Bu!" jawab Dio.


"Ibu takut Nak, Dinda kelihatan depresi dan putus asa karena kondisinya itu!" lanjut Bu Lilis.


"Aku sudah berusaha untuk menghiburnya Bu, juga memberikannya semangat, supaya dia bisa segera pulih!" ucap Dio.


"Pokoknya, kamu harus yakinkan dia kalau banyak orang yang sayang dan perduli padanya, jadi dia tidak merasa menderita sendirian!" tambah Pak Dirja.


"Iya Ayah!"


"Dio, Ayah pamit ingin mengajak Ibu keluar!" lanjut Pak Dirja.


"Mau kemana Ayah?"


"Baiklah Ayah, hati-hati ya!" ucap Dio.


Kemudian Pak Dirja langsung menggandeng tangan Bu Lilis keluar dari rumah itu.


Dio hanya memandang kedua mertuanya itu sambil senyum-senyum sendiri.


"Papa, di rumah jadi sepi deh, Mama tidur, Kakek dan Nenek pergi, tinggal aku sama Papa!" keluh Chika yang sejak tadi diam saja.


"Lalu Chika mau apa sekarang?" tanya Dio.


"Ya aku bete lah Pa, hari gini diam saja di rumah, aku mau main lah, mau jalan-jalan, makan es krim, berenang!" ungkap Chika.


"Sayang, tapi kan Mama lagi sakit, nanti ya kalau Mama sudah sembuh!" kata Dio.


"Tapi kapan Mama sembuhnya? Kok lama banget?" tanya Chika.


"Ya Chika harus sabar dong, sebentar lagi juga Mama sembuh, nanti kalau Mama sudah sembuh, Papa janji akan ajak Chika dan Mama jalan-jalan!" jawab Dio sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


"Janji lho ya!" dengan cepat Chika menautkan jari kelingking mungil di kelingking Dio.


"Siap Tuan putri!" Dio langsung mengecup kening Chika.


"Aku senang deh Pa, sejak ada Mama, Papa jadi makin baik dan sayang sama aku, tidak seperti dulu yang suka mabuk dan galak!" ungkap Chika.


Dio langsung memeluk Putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Iya Nak, makanya sekarang saat Mama sakit, kita juga harus sayang dan dukung Mama ya, biar Mama senang dan cepat sembuh!" ucap Dio.


"Iya Pa!"


Ting ... Tong ...


Terdengar suara bel rumah berbunyi, sebelum Mbak Yuyun datang untuk membukakan pintu, seorang wanita sudah masuk sambil membawa beberapa berkas di tangannya.


"Selamat sore Pak Dio, maaf saya nyelonong, ini banyak sekali yang harus Bapak pelajari dan tanda tangani, belakangan ini Bapak selalu off ke kantor!" kata wanita itu yang tak lain adalah Brenda, sekretaris Dio.


"Kenapa kau tidak bilang kalau mau datang ke rumah! Kan aku sudah bilang, kalau mau datang info dulu!" sungut Dio.


"Ah, kelamaan pak!" sahut Brenda.


"Besok-besok jangan seperti ini lagi ya, aku ini boss mu, seharusnya kamu info kalau mau kerumah mengantar berkas!" lanjut Dio.


"Siap deh Pak!"


"Hai Tante, main yuk sama aku!" ajak Chika.


"Duh, kamu sudah besar ya sekarang, sorry, Tante sibuk, tidak ada waktu untuk menemanimu bermain!" sahut Brenda.


"Tante payah!" sungut Chika.


"Brenda, berikan berkasnya padaku!"


Brenda lalu menyodorkan tumpukan berkas yang ada di tangannya itu ke arah Dio.


"Sekarang kau boleh kembali!" kata Dio.


"Lho, saya kan harus membawa kembali berkas ini Pak!" sergah Brenda.


"Nanti biar aku suruh si Ujang yang mengantarnya!" sahut Dio.


"Wah, ini berkas penting lho Pak, nanti kalau hilang bagaimana? Siapa yang tanggung jawab!" sergah Brenda.


"Kau ini cerewet sekali, sudah sana pulang, biar Ujang yang mengantarnya, semakin lama kau di sini Kepalaku makin pusing!" ujar Dio.


Dengan cemberut Brenda kemudian membalikan punggungnya dan pergi meninggalkan Dio dan Chika.


"Yah, kok Tante Brenda pulang sih, kan aku mau ngerjain dia dulu sebelum pulang!" kata Chika.


"Dari pada Chika bete tidak ada kerjaan, mending temani Mama di kamar, siapa tau Mama sudah bangun, Papa masih mau mengerjakan ini!" kata Dio sambil menunjuk tumpukan berkas di atas meja.


"Oke deh Pa!" sahut Chika langsung berlari naik ke atas menuju ke kamar Dio dan Dinda.


Chika langsung membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk dulu.


"Mama?"


Chika menghentikan langkahnya saat di lihatnya Dinda sudah berdiri di hadapannya sambil menatap matanya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2