Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Siap-Siap Ke Papua


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, akhir bulan ini dia mengajak Chika juga Dinda untuk pergi ke Papua menemui keluarga dari mendiang istrinya dulu.


Dulu dia memang tidak terlalu dekat dengan keluarga mendiang istrinya, Ranti. karena sejak di awal pernikahannya Dulu mereka sama-sama tidak didasari oleh rasa cinta dan saling tidak peduli satu dengan yang lain.


Bahkan saat Chika lahir kedalam dunia, dia juga bersikap cuek tidak pernah dia mengunjungi mertuanya ataupun saudara-saudaranya yang lain dari pihak mendiang istrinya itu, begitu pula sebaliknya mereka hanya hidup bersama secara formalitas, hitam Diatas Kertas.


Kini Dio menyadari bahwa keluarga bukanlah pada saat dia bisa memiliki anak namun dia juga harus mengenalkan pada Chika silsilah keluarganya, terutama dari pihak mendiang istrinya yang sampai hari ini pun Chika tidak begitu mengenalnya.


Malam itu itu Dinda dan Dio sedang mengemasi barang dan pakaian mereka kedalam koper mereka, karena besok pagi-pagi sekali mereka sudah terbang ke Papua.


Chika terlihat sangat antusias sekali, karena anak itu selalu menyukai jalan-jalan, baginya jalan-jalan adalah hal yang baru dan sangat menyenangkan.


"Papa, nanti di sana ada kolam renang tidak? Aku sangat ingin sekali berenang lho, aku bosan berenang di rumah terus!" kata Chika sambil sibuk memasukkan kan apa yang dia Ingin masukkan ke dalam koper Mini nya.


"Papa mana tahu di sana ada kolam renang atau tidak, Kalau kamu mau bawa pakaian renang, bawa saja!" sahut Dio.


"Ya sudah Chika boleh bawa baju renang, tapi setelah ini Chika istirahat duluan ya, nanti biar mama dan papa terusin beresin pakaian Chika!" kata Dinda.


Dengan penuh semangat Chika kemudian mengambil pakaian renang kesayangannya, dan langsung memasukkannya ke dalam koper miliknya.


Setelah itu dia langsung berlari kecil menuju ke kamarnya, untuk segera tidur, tidak sabar rasanya besok dia sudah harus terbang naik pesawat.


"Mas, memangnya kau sudah benar-benar tahu alamat keluarganya Mbak Ranti di Papua sana?" tanya Dinda.


"Dulu saat Ranti sakit dan dirawat aku pernah mengantarnya ke Papua, se jangka waktu kami tinggal di sana, meskipun kami tinggal di hotel, tapi paling tidak aku sudah tahu gambaran keluarga Ranti, walaupun Setelah itu kami harus kembali ke Jakarta, karena sepertinya keluarga Ranti tidak terlalu bisa diharapkan untuk merawatnya saat itu!" jawab Dio.


"Aku bisa membayangkan, betapa repotnya mas Dio saat itu, harus mengurus Chika sendirian, juga merawat istri yang sedang sakit!" ucap Dinda.

__ADS_1


"Tapi rasa repot ku dulu, sudah dibayar sekarang, saat ini aku benar-benar menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia ini, memiliki istri yang bisa melayani aku dengan sepenuh jiwa dan raganya!" sahut Dio sambil menatap hangat wajah Dinda, yang masih sibuk membereskan beberapa pakaian nya itu.


Dinda hanya tersenyum mendengar ucapan Dio, meskipun Dinda bukanlah orang yang pertama dalam hidup Dio, namun Dinda merasa bahwa cinta yang diberikan Dio terhadapnya, bukanlah cinta bekas milik orang lain, tapi murni benar-benar dari dasar hati yang paling dalam, begitu tulus dan lembut, bahkan mengubah seluruh kehidupan Dinda.


Tiba-tiba tangan Dio menghentikan tangan Dinda yang masih sibuk melipat pakaian, kemudian menggenggam nya dengan hangat.


Tak Berapa lama kemudian, Dio mulai masuk dan mengecup bibir Dinda beberapa kali dengan penuh kelembutan, hingga perlahan dia membaringkan Dinda diatas tempat tidurnya, mengabaikan beberapa pakaian yang masih berantakan di kamar itu.


Malam itu dengan penuh kelembutan, disertai dengan guyuran air hujan di luar sana yang masih turun dengan begitu lebat nya, mereka memadu cinta dengan penuh gairah dan perasaan menumpahkan segala hasrat yang ada.


****


Sementara pagi itu di tempat kediamannya, keluarga Pak Dirja sedang sarapan bersama di meja makan besar, Pak Dirja sudah keluar dari rumah sakit, namun kesehatannya kini dalam pantauan dokter, karena sekarang Pak Dirja rentan sekali jikalau terlalu lelah atau salah memakan makanan.


Ken sudah terlihat rapi berpakaian formal, dia akan kembali mengelola usahanya yang sempat terbengkalai itu, karena terus-terusan menjaga Keyla selama mereka menikah.


"Usahaku baik-baik saja Ayah, Sekarang aku sedang dalam tahap mengembangkan usaha aku ini, doakan saja semakin maju, sehingga aku bisa menjadi pengusaha hebat seperti Dio!" jawab Ken.


"Jangan bandingkan dirimu dengan Dio Ken, tiap-tiap orang punya kelebihannya masing-masing, asal kau bisa berubah menjadi pribadi yang baik, mencintai Keyla dengan sepenuh hatimu, Ayah sudah bangga padamu!" ucap pak Dirja.


"Iya Ayah, sekarang aku menyadari bahwa ada hal yang bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik, dan itu adalah cinta, mungkin saat ini aku sudah menemukan cinta yang sebenarnya!" jawab Ken.


"Ehm, sudah jangan basa basi, tuh sudah jam tujuh, cepat selesaikan makananmu, atau kau akan terlambat!" potong Keyla.


Ken kemudian dengan cepat menyelesaikan makannya, setelah itu dia bergegas pergi ke arah depan, di mana mobilnya terparkir.


Keyla mengantarnya sampai depan rumahnya itu.

__ADS_1


"Sudah sana kamu masuk mobil, tunggu apa lagi??" tanya Keyla.


"Ciumnya mana??" tanya Ken.


"Tidak ada cium-cium, cepat berangkat sana!" sahut Keyla sambil mendorong Ken masuk ke dalam mobilnya.


"Ya Mbak, gimana sih, suami berangkat cari nafkah masa gak di kasih cium, kan biar semangat!" ujar Ken.


"Modus!"


"Wajar kan Mbak, suami istri gitu lho!"


"Tinggal beberapa bulan lagi!" cetus Keyla.


"Lho, emangnya jadi Mbak kita pisah??" tanya Ken sedikit terkejut.


"Kita kan sudah perjanjian, bayi ini lahir kira bubar!" sahut Keyla.


"Kirain Mbak key sudah buka hati untukku!" keluh Ken.


Akhirnya dengan wajah lesu, Ken mulai mengendarai mobilnya itu keluar dari rumah Pak Dirja menuju ke kantornya.


Sementara Keyla memukul kepalanya sendiri dengan tangannya, menyesal dengan apa yang telah dia ucapkan itu. Padahal Keyla tidak benar-benar mengucapkan itu dari kata hatinya, tapi entah mengapa perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2