Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Makan siang Bersama


__ADS_3

Dio memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran Mall besar yang ada di Jakarta.


Tadinya mereka hanya akan makan siang di sebuah restoran, tapi Chika merengek ingin bermain di wahana permainan yang ada di mall, makanya Dio berubah haluan dan tidak jadi makan di restoran.


"Pokoknya Chika harus makan dulu yang banyak, setelah itu baru Papa ijinkan Chika bermain sepuasnya!" kata Dio sambil menuntun tangan Chika di tangan kirinya sementara tangan kanannya menggandeng Dinda.


"Iya deh Pa! Tapi nanti aku juga dibelikan es krim ya!" sahut Chika.


"Boleh saja, Asal kau jangan makan terlalu banyak! Nanti gigimu bisa rontok!" ujar Dio.


Mereka kemudian berjalan menuju ke sebuah restoran seafood yang ada di dalam mall tersebut.


Suasana siang itu terlihat ramai, karena bertepatan dengan jam makan siang.


Dio kemudian memilih sebuah meja yang terletak agak di sudut, di dalam restoran itu, kemudian dia mulai memesan berbagai macam makanan dan menu andalan di restoran tersebut.


"Ah, Dinda, kau harus makan banyak, kau terlalu kurus, aku ingin tubuhmu sedikit lebih berisi!" ucap Dio.


"Yah kan saya ngirit Pak, uang gaji harus di bagi-bagi, kalau hanya untuk makan, tidak perlu selalu enak!" sahut Dinda.


"Mulai sekarang kau jangan irit lagi! kalau mau makan apapun, kau tinggal bilang padaku, aku akan memberikannya padamu!" ucap Dio sambil mengelus rambut Dinda yang terurai itu.


"Hmm, Papa kalau sama Bu Dinda aku di cuekin!" celetuk Chika tiba-tiba.


"Eh, siapa yang cuekin Chika?" tanya Dio sambil mencubit gemas pipi putrinya itu.


"Chika, sini sama Bu Dinda saja, di jamin tidak akan di cuekin!" kata Dinda sambil menarik tangan Chika untuk duduk di sebelahnya.


Drrrt... Drrrt... Drrrt


Tiba-tiba ponsel Dinda bergetar, Dinda langsung buru-buru mengambil ponselnya itu yang ada di dalam tasnya, ada gambar Asti di ponsel itu, Dinda langsung mengusap layar ponselnya itu.


"Halo Asti?"


"Dinda, kau di mana sekarang? Itu Bu Nur marah-marah, semua pakaian dan barangmu belum di bereskan! Motormu juga di biarkan begitu saja mogok di garasi!" ujar Asti.

__ADS_1


"Ya ampun Asti! Maaf ya aku belum sempat pulang ke kosan, tapi aku janji setelah ini aku langsung pulang kesana untuk membereskan semuanya!" kata Dinda.


"Beneran lho ya, sebenarnya kau di mana sih Din? Susah banget deh di hubungi!" sungut Asti.


"Maaf As, pokoknya aku segera datang, sudah ya! Terimakasih!" sahut Dinda yang langsung mematikan panggilan ponselnya itu.


Beberapa pelayan sudah datang mengantarkan hidangan di meja itu, aromanya tercium sangat nikmat dan menggugah selera.


Chika terlihat antusias menikmati makan siangnya itu, padahal biasanya Anak itu tidak terlalu bisa makan banyak, mungkin karena suasana hatinya sedang senang.


"Pak Dio, sepertinya setelah ini aku harus kembali ke kosan, aku ingin membereskan pakaian dan barang-barang ku yang terkena banjir waktu itu!" kata Dinda.


"Kau tidak perlu membereskannya lagi! Nanti akan aku suruh orang ku untuk membereskan barang-barang mau itu, lagi pula kau tidak memerlukannya lagi bukan? Aku akan memberikanmu lebih banyak daripada Apa yang kau miliki di kamarmu itu!" ucap Dio.


Dinda menghentikan aktivitas makannya sebentar, kemudian dia menatap wajah Dio dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Pak Dio! tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang! Pak Dio tidak tahu, betapa berharganya barang yang saya miliki di kamar itu! Saya harus menabung sekian lama untuk membeli sebuah laptop untuk saya bekerja! Dan sekarang dengan enaknya Bapak mengatakan saya tidak memerlukannya?" seru Dinda.


"Maaf Dinda, aku tidak bermaksud begitu! Jangan salah paham!"ucap Dio.


"So sorry honey!" ucap Dio melembut.


"Pokoknya setelah ini, saya akan ke kosan saya, Pak Dio jangan melarang saya!" ujar Dinda.


"Oh Oke, aku dan Chika akan mengantarmu ke kosan mu!"


"Tidak usah, Pak Dio dan Chika pulang saja duluan, kasihan Chika bisa kecapean kalau harus ke tempat kos saya lagi!" tukas Dinda.


"Tapi..."


"Saya mohon Pak, kita belum ada ikatan, jadi tolong hargai keputusan saya!" potong Dinda cepat.


"Oke!"


Setelah mereka selesai makan siang bersama, mereka kemudian langsung kembali ke parkiran.

__ADS_1


Chika sedikit kecewa karena dia tidak jadi di main di wahana permainan yang ada di mall itu.


"Bu Dinda! Asik sekali yang jalan-jalan ke mall dengan duda kaya!" kata seseorang yang datang dan menghampiri mereka yang berjalan ke arah parkiran.


"Eh mama Putri, Kalian sedang jalan-jalan di mall ini juga?" tanya Dinda ramah.


Putri adalah teman sekelas Chika, Mamanya Putri itu adalah seorang janda yang bekerja di sebuah kantor yang ada di Jakarta juga.


"Bu Dinda diam-diam menghanyutkan juga ya!" sindir Mama Putri.


"Apa maksudnya Mam?" tanya Dinda tak mengerti.


"Yah, bisa menggaet Papanya Chika, dengan mengatas namakan guru!" sahut Mama Putri.


"Maaf Mam, saya tidak mengerti maksud anda, rupanya anda juga salah satu orang yang suka bergosip itu!" lanjut Dinda.


"Tante! Jangan marahi Ibu Dinda! Bu Dinda itu kan calon mamaku!" celetuk Chika tiba-tiba.


"Ya ya ... Chika, Bu Dinda itu baik padamu karena ada maunya, supaya bisa dekat Papamu!" ujar Mama Putri.


Wajah Dinda mulai memerah, tapi dia harus menahan dirinya, karena walau bagaimana, profesinya sebagai guru menuntut dia agar selalu lapang hati.


Tiba-tiba Dio langsung merangkul Dinda dengan erat, lalu menatap kearah Mama Putri dengan tatapan tajam.


"Dengar Bu! Jangan pernah sekali-kali mengganggu calon istri saya! Atau saya akan laporkan anda atas dasar pencemaran nama baik!" Kata Dio.


Tanpa bicara lagi, Mama Putri langsung menggandeng Putri pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa menoleh lagi.


"Wuiiih Papa keren!" puji Chika.


"Trimakasih Pak Dio!" ucap Dinda.


"Itulah alasannya, kenapa aku ingin cepat-cepat melamarmu dan menikahimu! Supaya kau dijauhkan dari gosip murahan itu!" balas Dio sambil memeluk Dinda, dan kembali merangkulnya berjalan menuju ke mobil mereka yang terparkir.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2