Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Sebuah Restu


__ADS_3

"Aaarrrgghh!!


Keyla menjerit saat di lihatnya Ken yang tertidur di sampingnya.


Ken yang sangat terkejut langsung melompat bangun.


"Ada apa sih Mbak?? Pagi-pagi sudah bikin heboh saja, kayak habis kerampokan!" sungut Ken.


"Kamu! Kenapa tidur di sini?? Bukannya kau sudah janji mau tidur di sofa??" tanya Keyla melotot.


"Eh, apa iya? Kayaknya semalam aku tidur di sofa deh, kok jadi disini ya?!" sahut Ken sambil menggaruk kepalanya.


"Dasar modus!!" cetus Keyla.


"Beneran Mbak, semalam itu aku mimpi, kamu berubah jadi manis dan lembut, dan entah mengapa sepertinya kamu juga memeluk aku dengan erat lalu kita ..."


"Stop! Jangan di teruskan Ken!" potong keyla cepat.


Tiba-tiba mata Keyla melotot saat melihat celana boxer milik Ken yang basah.


"Eh, kamu ngompol ya Ken! Dasar jorok! Buat kasur kotor saja! Ayo bersihkan!" seru Keyla.


Ken menoleh ke bawah, matanya juga ikut melotot.


"Ya ampun Mbak, ini sih mimpi basah! Berarti semalam aku lagi mimpi ehem ehem sama Mbak Keyla!" seru Ken.


"Iiiih jorooook!! Sana bersihkan! Aku jijik!" sengit Keyla.


"Kalau sudah tau rasanya enak Mbak, pasti ketagihan!" sahut Ken.


"Sekali lagi bicara ku lempar kamu pakai bantal, ayo bersihkan dirimu!" seru Keyla.


Dengan langkah santai, Ken lalu berjalan menuju ke kamar mandi.


Sementara Keyla dengan cepat langsung menarik sprei tempat tidurnya sambil bersungut-sungut.


"Sial! Mimpi apa aku semalam! Ken benar-benar keterlaluan! Dasar bocah modus!" maki Keyla.


Keyla lalu mengganti spreinya itu, beserta bantal dan guling nya.


Tak lama Ken sudah keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk yang dilibatkan di pinggangnya saja.


"Ken, tau sopan santun tidak?? Kenapa hanya pakai handuk??" tanya Keyla melotot.


"Ya elah Mbak, masa di kamar sendiri semua harus tertutup, semua suami istri di dunia ini juga begitu kali, bahkan lebih parah!" sahut Ken.


"Iya, tapi kan kita beda!" cetus Keyla.


"Beda apa sih?? Orang kita suami istri sah kok!" sahut Ken.

__ADS_1


"Suami istri bohongan, ingat itu!" tegas Keyla.


"Iya iya, bohongan, puas??"


Ken kemudian membuka lemari dan mengambil kaos dan celananya, lalu memakainya.


Sementara Keyla memalingkan wajahnya karena malu.


"Halah, nanti juga lama-lama ketagihan, pasti minta tambah terus!" ujar Ken.


"Hmm, percaya diri sekali, tidak akan! Kamu dengar itu!" cetus Keyla.


"Hmm, sudahlah Mbak, lebih baik mandi sana, katanya mau minta maaf sama Ayah, aku temani nih!" kata Ken.


Tanpa bicara lagi, Keyla lalu masuk ke dalam kamar mandi dan langsung mandi, karena dia ingat ingin minta maaf pada Ayahnya karena kemarin dia telah melukai hati Ayahnya itu.


Keyla sadar, selama ini Ayahnya sudah banyak berkorban, merawat dan mengasuhnya, berperan sebagai Ayah sekaligus Ibu.


Mungkin sudah saatnya Keyla harus memahami, dan memperhatikan kebahagiaan Ayahnya.


Keyla teringat saat Mamanya masih hidup, Ayahnya selalu tidak pernah bisa tersenyum, Mamanya yang mapan dan mandiri, ternyata tidak menjamin kebahagiaan Ayahnya, terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, sehingga melupakan arti sebuah keluarga.


Kalaupun Ayahnya pernah berbuat khilaf, itu adalah akibat dari tekanan yang dia hadapi selama ini, Ayahnya seorang laki-laki biasa yang butuh perhatian dan dukungan, juga kehadiran seorang wanita di sisinya.


"Aku merestumimu Ayah, asalkan Ayah bahagia, aku ikhlas!" gumam Keyla sambil mengusap matanya yang basah di kamar mandi.


****


Selama itu Dio juga harus menahan hasratnya, berkali-kali dia harus menyiram tubuhnya dengan air dingin untuk meredam keinginan biologisnya itu.


"Mas ..."


Dinda melangkah mendekati Dio yang berdiri menghadap ke arah luar jendela kamarnya.


"Ya sayang?"


"Belakangan aku lihat, kamu sering murung Mas, kenapa?" tanya Dinda.


"Tidak apa-apa, Oya, sebentar lagi aku akan menjemput Chika pulang sekolah, kamu mau nitip apa?" tanya Dio balik.


"Hmm, kalau sempat mampir ke toko buah, aku ingin sekali makan durian, lagi musim kan sekarang!" kata Dinda.


"Durian?"


"Iya Mas, kamu tau tidak, sejak dulu aku sangat suka durian, durian itu sangat nikmat sekali, apalagi kalau di buat jus!" kata Dinda.


"Hmm, Baiklah Nyonya, di tunggu ya, kalau begitu kau istirahatlah dulu, aku mau bersiap menjemput Chika!" ucap Dio sambil mengecup kening Dinda dan melangkah keluar dari kamarnya.


Dinda hanya termangu menatapnya.

__ADS_1


"Mas Dio kenapa ya, kok matanya kelihatan sendu begitu!" gumam Dinda.


Tring ... Tring ... Tring


Ada panggilan video dari Asti, sahabat Dinda, sambil tersenyum Dinda mengusap layar ponselnya itu.


"Halo As ... kamu di mana? Kok kayak ada di cafe?" tanya Dinda.


"Iya Din, tau tidak aku sedang janjian sama siapa?" tanya Asti semangat.


"Siapa?"


"Sam!"


"Apa? Mr. Sam?" tanya Dinda melotot.


"Yess, siapa lagi?"


"Ya ampun As, aku bahkan belum mengenalkannya padamu, kau sudah curi start duluan!" seru Dinda.


Asti terkekeh melihat ekspresi Dinda.


"Menunggumu keburu aku jamuan Din, Oya, itu kenapa matamu kelihatan sedih, ayo cerita! Atau kamu mau menyusul ku ke sini?" tanya Asti.


"Eh, ngapain nyusul kamu? Memangnya aku mau jadi nyamuk??"


"Ya kali mau curhat!" cetus Asti.


"As, Mas Dio belakangan berubah agak pendiam, tiap ku tanya dia selalu bilang tidak apa-apa, aku bingung As, sebenarnya Mas Dio kenapa?" ungkap Dinda.


"Ya ampun Din, kamu sudah menikah masa tidak mengerti, sekarang aku tanya, kapan terakhir kalian berhubungan??" tanya Asti.


"Berhubungan apa?"


"Ya berhubungan badan lah bodoh!" sahut Asti.


"Hmm, waktu sebelum aku di operasi!"


"Bisa jadi dia lagi pengen Din, jadi istri itu harus peka, mungkin ia sedang menahan sesuatu, makanya kalau kamu belum bisa berhubungan langsung, paling tidak menjakan miliknya!" jelas Asti.


"Manjakan?!"


"Iya manjakan, buat dia enak, setelah puas dia akan kembali normal kok, laki-laki itu butuh pelampiasan!" lanjut Asti.


"Ya ampun As, kamu tau saja yang begituan!" sahut Dinda tersipu.


"Ya tau lah, biar jomblo begini, aku kan belajar banyak hal, apa sih yang Asti tidak tau dalam diri seorang laki-laki?"


"Oke oke, sepertinya kamu sudah harus duduk manis menunggu Mr. Sam datang!" kata Dinda yang melihat Mr. Sam yang sudah berdiri di belakanga Asti.

__ADS_1


Bersambung ...


***


__ADS_2