
Sejenak Dio memicingkan matanya, saat di dengannya ada suara benda pecah dari lantai satu.
Dinda juga nampak terkejut dengan suara yang barusan dia dengar tadi, selama dia tinggal di rumah ini belum pernah dia mendengar suara se aneh itu.
"Sayang, apakah kau dengar suara tadi? Aku turun ya untuk melihat apa yang terjadi di bawah?" tanya Dio.
"Aku takut Mas! Aku takut sendirian di kamar!" sahut Dinda, dia mengeratkan pelukannya pada Dio.
"Sebentar saja sayang, aku hanya jangan mengecek saja!" bujuk Dio.
"Aku ikut!"
"Jangan! Kamu di sini lebih aman, ingat pesan Dokter, kamu harus bedrest!" cetus Dio.
Akhirnya Dinda tidak ada pilihan lagi, dia menganggukkan kepalanya dan mengizinkan Dio untuk keluar mengecek keadaan di lantai satu.
Dinda kemudian mulai membaringkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, entah mengapa malam ini dia merasa begitu aneh, perasaannya berubah menjadi tidak enak, entah apa penyebabnya, namun Dinda berusaha untuk menepiskan semua pikiran-pikiran buruknya.
Sementara Dio, dia terus berjalan menuruni tangga, lampu di lantai 1 terlihat remang-remang karena memang lampu sebagian besar dimatikan jika menjelang malam hari.
Di lantai 1 tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan bahkan semua orang terlihat sangat lelap tertidur, Dio semakin bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sudah jelas tadi Dio dan Dinda mendengar ada suara pecahan kaca yang berasal dari lantai satu rumahnya ini, tapi pada saat Dio turun dan menyelidikinya langsung, ternyata tidak ada sesuatu yang terjadi di di lantai satu, semuanya nampak baik-baik saja.
Dio kemudian mulai berjalan ke arah gerbang depan di mana Bang Jarwo berjaga di sana.
"Bang Jarwo, tadi aku mendengar ada suara pecahan kaca, apa Bang Jarwo juga mendengarnya?" tanya Dio.
"Iya Pak, tapi pas saya cek, tidak ada apa-apa, mungkin kucing yang lewat kali Pak!" jawab Bang Jarwo.
"Ah, masa iya kucing!"
"Lalu apa lagi Pak? Saya sudah cek ke seluruh rumah, tidak ada apa-apa, masa iya saya bohong?" sahut Bang Jarwo.
"Oke, tolong kau jaga dengan baik, jangan lengah, entah kenapa perasaanku tidak enak!" kata Dio.
"Siap Pak Dio!"
"Oya, Ujang di mana?" tanya Dio.
"Mungkin sudah tidur Pak, dari tadi tidak kelihatan!" sahut Bang Jarwo.
Dio menganggukkan kepalanya, setelah itu dia kembali masuk kedalam rumahnya itu suasana masih sama seperti biasa, bahkan tidak ada sedikitpun pecahan kaca yang dijumpai oleh Dio.
Dia benar-benar bingung namun dia mencoba berpikir positif bisa jadi memang benar ada kucing yang lewat memecahkan suatu benda sehingga menimbulkan suara.
Kamar Mbak Yuyun juga sudah terlihat tertutup rapat, yang menandakan orangnya sudah lelap tertidur kemudian Dio kembali naik ke atas menuju ke kamarnya.
Dinda masih nampak terbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya, perlahan Dio masuk dan mendekati Dinda yang nampak ketakutan.
__ADS_1
"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Dio.
Dinda langsung menyibakan selimutnya.
"Bagaiamana Mas? Ada apa di bawah?" tanya Dinda.
"Tidak ada apa-apa sayang, semuanya aman terkendali!" sahut Dio yang kini mulai ikut berbaring di samping Dinda.
"Aman?? Tapi suara tadi??"
"Kata Bang Jarwo, bisa jadi kucing yang masuk lewat jendela, tapi aku sudah pastikan kok, kalau memang di rumah ini tidak ada apa-apa!" kata Dio meyakinkan.
Dinda tidak menjawab lagi apa yang dikatakan Dio, namun dia terus berpikir sepertinya ada sesuatu yang terjadi di didalam rumah ini.
kalau hanya seekor kucing yang memecahkan sesuatu, suaranya tidak sebesar itu, tidak mungkin dia dan Dio berhalusinasi, karena apa yang didengarnya adalah nyata.
Namun karena malam terus larut dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, akhirnya Dinda berusaha untuk memejamkan matanya, mencoba untuk berpikir positif hingga akhirnya mereka terlelap dalam tidur.
****
Pagi-pagi Keyla sudah di kejutkan oleh sebuah kecupan manis yang mendarat di keningnya.
Dia langsung membuka lebar matanya.
"Selamat pagi Mbak Keyla, ini ada susu hangat untukmu, minumlah!" ucap Ken, dengan sebuah gelas susu yang Ada di tangannya.
"Ken? Tumben kamu rajin? Biasanya masih molor?" tanya Keyla bingung.
"Lah, orang heran masa tidak boleh!"
"Ya sudah, ini mau di minum tidak susunya? Aku sudah bikin capek-capek!" tanya Ken.
"Ya mau lah!" sahut Keyla sambil menyambar gelas susu dari tangan Ken.
"Gitu dong, dari tadi kek!" cetus Ken.
Keyla langsung meneguk habis susunya itu hingga ludes tak tersisa.
"Mau minum saja pakai gengsi!" kata Ken sambil meletakan gelas bekas minum Keyla di atas meja.
"Ken ..."
"Apaan!"
"Pagi ini aku pengen deh makan bubur ayam!" kata Keyla
"Tinggal pesan online Mbak, beres!" sahut Ken.
"Ya elah Ken, aku mau nya kamu yang buat!" ujar Keyla.
__ADS_1
"Whaaat?? Mbak Keyla jangan bercanda deh!" sahut Ken.
"Siapa yang bercanda?? Aku serius!" tegas Keyla.
"Seumur hidup, mana pernah aku buat bubur Ayam, ribet ah!" tukas Ken.
"Ya sudah, jangan salahkan aku kalau anakmu ileran!"
"Mulai deh, anak di bawa-bawa!"
"Emang bener sih!"
"Hmm, ya sudah, Mbak Keyla mandi sana! Aku mau cari di youtube dulu tutorialnya!" sahut Ken akhirnya.
Keyla tersenyum senang, akhirnya dia bangun dari tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.
Sementara Ken langsung keluar kamar dan pergi ke dapur. Bi Titi nampak sibuk menyiapkan sarapan pagi.
"Bi, tau cara buat bubur Ayam tidak?" tanya Ken.
"Ya tau lah Mas, memangnya kenapa?"
"Itu, istriku minta di buatkan bubur ayam, Bi Titi tolong buatkan dong, tapi bilangnya aku yang buat ya!" kata Ken.
"Lho kok begitu Mas?"
"Soalnya dia minta aku yang buatkan Bi, sementara aku tidak bisa membuatnya!" sahut Ken.
"Oooh, iya deh Mas, tapi nanti kalau ketahuan Mbak Keyla bagaimana?" tanya Bi Titi.
"Ya Bibi jangan bilang-bilang lah kalau buburnya Bibi yang buat!"
Bi Titi tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Oke deh Mas, pokoknya beres!"
Ken tersenyum senang, dia lalu duduk di bangku yang tidak jauh dari dapur itu, sambil mulai membuka ponselnya, bermain game online.
Sementara Bi Titi nampak mulai meracik bahan untuk membuat bubur ayam sesuai yang di pesan oleh Dio.
"Buat yang cepat ya Bi, jangan pakai lama!" seru Ken.
"Iya Mas, ini saya buat pakai panci presto biar cepat matang!" sahut Bi Titi.
Ken tersenyum, membayangkan kalau Keyla akan tersenyum dan memujinya saat bubur ayam yang diinginkannya sudah tersaji di hadapannya.
Kemudian Ken kembali melanjutkan game online nya, dia terlihat sangat asyik menikmati Permainannya itu, sambil menunggu Bi Titi selesai membuat bubur ayam.
Bersambung ...
__ADS_1
*****